For best experience in desktop, zoom out the page ([CTRL + -] to 90%)
Tampilkan postingan dengan label Mountain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mountain. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2020

Pancang Bumi Pasundan: Gunung Artapela, 2194 mdpl

Selamat sore!

Sulit dipercaya (dan tentunya diterima) bahwa sekarang kita sudah mendekati pertengahan bulan November 2020. Where all the time spent, where all the plans went – we really do not know, all we know in the blink of an eye, 2020 will end. Ada yang berencana berpergian, ujungnya cuma bisa ngomel-ngomel di Instagram karena gagal menggunakan tiket diskonan yang udah diperjuangin susah payah di tahun lalu. Ada yang berencana resign dari tempat kerjanya yang toksik, ujungnya cuma bisa update di tempat yang berbeda alias di rumah karena WFH; kerjaan yang toksik tetep dilakonin karena nggak berani untuk terombang-ambing hidup jobless dan berisiko menghabiskan seluruh dana darurat yang sudah dikumpulkan di era pandemi. Ada yang berencana mengembangkan bisnis, tapi bisnisnya udah koyak disapu bersih di awal pandemi karena kebijakan pembatasan sosial skala besar yang (secara pribadi untuk gue) both medically and economically reckeless (dan makin kesini makin terkesan bercanda).

Rasanya, sisi menyebalkan pandemi ini tidak akan habis dibahas dalam satu post full, tapi ternyata banyak juga yang menemukan hal-hal baik dari pandemi. Beberapa teman yang gak kelar mengumpulkan dana untuk menikah akhirnya bisa menyelenggarakan pernikahan yang sederhana (all thanks to “KUA aja!” dan resepsi via Zoom Meeting), beberapa teman yang kesulitan nemu kekasih sebelum pandemi akhirnya gak tau gimana bisa ketemu jodohnya melalui mekanisme yang sebelumnya selalu gagal (tidak bisa dipungkiri, per-dating app-an waktu lagi kenceng-kencengnya PSBB dan WFH juga dahsyat stoknya), dan beberapa teman belakangan update lahiran dengan caption “Alhamdulillah, dapet rezeki Corona”. I guess there are always two sides of even in the shittiest thing happened.

Salah satu berkah Corona: Liat jalanan Jakarta lengang (awalnya).

Sebenernya, sejak pertengahan tahun ini, gue niat untuk menulis konten yang lebih dewasa. Konten yang lebih dewasa, by means, konten yang lebih jujur, lebih membahas masalah-masalah kehidupan di sekitaran umur 20 (dan solusinya, jika ada – jadi gak keliatan ngeluh-ngeluh banget tanpa juntrungan), dengan konten motivasional, yang dibungkus dengan narasi yang memikat. Tapi namanya juga Annisa Dina – it was all in her head – In her head, without even reaching her hands. Ujung-ujungnya konten Dina ya melancong dan melancong lagi yang ditulis secara kurang konsisten. But yeah, maybe, I found traveling (or simply strolling) as my pain reliever beside of writing – so I could not help but to write my journeys over and over again when I was in emotional crisis. Jadinya mentok nulis konten journey lagi dan journey lagi, karena menggerakan kaki adalah passionku (asal jangan banyak-banyak juga, soalnya pegel).

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sudah genap 1 tahun gue berdomisili di Jawa Barat; di Bumi Pasundan dan sekitarnya. Setiap hari, kerjaan gue setiap pagi adalah ngeliat gunung dimana-mana sambil jemur pakaian (apalagi setelah pindah ke kos baru yang pemandangan dari rooftop-nya super pecah. Sayangnya aku tidak memiliki teman untuk berbagi keindahan ini.) Sayang sekali, entah manajemen waktu atau manajemen mood yang jelek, gue belum sempat bertandang ke banyak gunung di sekitar Bumi Pasundan, seperti Gunung Geulis, Gunung Manglayang, Gunung Wayang, Gunung Puntang, Gunung Putri, Gunung Guntur, Gunung Cikuray, Gunung Galunggung, dan lainnya – padahal I’m literally living surrounded by mountains.

Pemandangan dari jendela kamar baru

Akhirnya, gue berkesempatan mengeksekusi angan naik gunung yang sudah setahun lebih vakum gue lakukan. Bersamaan dengan kedatangan teman kuliahku x dokter internship yang baru selesai internship, Ayla, akhirnya tanpa banyak berencana kita berhasil menjajakan kaki di Gunung Artapela, gunung yang direkomendasikan salah satu temen internship yang berdomisili di sekitar Pengalengan, yang katanya “Ini mah gunungnya bisa tektok”.

Gunung Artapela adalah gunung yang relatif baru dibuka untuk pendakian di daerah Kertasari, Kabupaten Bandung, mulai dibuka sejak 2017 if I traced back to internet. Beberapa referensi mengatakan:

  1. Ketinggian gunung 2000-an mdpl
  2. Basecamp awal mudah dijangkau
  3. Trek visible untuk tektok dan tidak harus menangis bercucuran air mata
  4. Trek bukan hutan alias kebun
Cukup segitu saja informasi yang gue sempat korek (karena sambil jaga-jaga-jaga) dan sebenernya tolong jangan ditiru karena kadang kita harus mencari sedetil mungkin agar bisa persiapan matang (bukannya malah gak jadi naik karena jadi banyak pikiran). Agar lebih rapi dan ringkas, mungkin akan gue buat per-poin ya.

How To Get There

Mendaki Gunung Artapela bisa dari Kertasari maupun Pengalengan. Gue naik motor dengan rute Jatinangor – Rancaekek – Solokan Jeruk – Ciparay – Pedaleman Kertasari entah dimana. Google Map cukup membantu hal ini, tapi tolong set Google Map dengan memilih moda transportasi mobil saja, karena kalau di set ke moda motor, niscaya sport jantung sama jalanan yang dipilihin sama Google Map. Di perjalanan menuju ke basecamp, gue dikasih arah ke jalanan yang rusak, sempit, dengan tanjakan dan turunan curam di sisi jurang – dengan kita hampir jatuh ke jurang karena ada mobil elf dari arah berlawanan, tidak terlihat, yang maksa ngebut di tikungan menanjak. Pulangnya, perjalanan smooth sekali lewat rute Jalan Pacet Kertasari. Pilihan rute pulang-pergi untuk yang dari Bandung Kota mungkin bisa lewat:

  1. Soekarno-Hatta – Bojongsoang/Dayeuhkolot – Baleendah – Ciparay – Pacet Kertasari
  2. Soekarno-Hatta – Gedebage – Sapan – Ciparay – Pacet Kertasari

Pemandangan di sepanjang Jl. Sapan

Pemandangan Jl. Pacet

Kalau untuk kendaraan umum, bisa dicoba naik angkot jurusan Tegallega-Ciparay atau Kalapa-Majalaya, kemudian disambung lagi dangan angkot jurusan Ciparay-Cibereum yang banyak tersebar di sepanjang jalan. Untuk ongkos transportasi hapunten pisan, saya belum pernah menjajaki secara langsung perangkotan Kabupaten Bandung, khususnya daerah Majalaya-Ciparay-Kertasari. Orang-orang sekitar basecamp cukup familiar dengan nama basecamp, jadi seharusnya ketika bilang mau berhenti di “Basecamp Artapela Cirawa” harusnya angkotpun berhenti tepat di sekitar area basecamp. Basecamp ini juga cukup dekat dengan SDN 01 Cirawa sebagai patokan.

When You Get There

Area basecamp agak masuk ke dalam gang, bisa bermodal tanya-tanya ke penduduk sekitar. Setelah ketemu gerbang basecamp, pendaki akan diminta mengisi daftar pengunjung lengkap dengan nomer handphone, membayar retribusi plus parkir, dan mencatat kontak emergency.

Biaya retribusi: Rp 15.000,00 per orang
Biaya parkir motor: Rp 10.000,00 per motor



Maaf, lupa nanya berapa parkir mobil, tapi beneran tidak se-visible itu untuk nitip mobil karena basecamp cenderung berlokasi di gang kecil. Dulu katanya pendaki bakal dibekali peta dan naik ke atas bermodalkan peta tanpa ada penunjuk jalan, tapi sekarang di setiap percabangan sudah diberi plang penunjuk arah. Dulu juga, setiap pendaki diharuskan membawa satu bibit tanaman untuk ditanam di Gunung Artapela, tapi sekarang tidak harus. Estimasi waktu mendaki sampai puncak adalah 3 jam dengan kecepatan santai dan estimasi waktu turun 2 jam, sehingga sangat oke untuk tektok. Kalo ada yang wonder, jalur pendakian yang biasa digunakan adalah jalur Seven Fields. Oh ya, untuk yang mau berkemah, sepertinya bisa sewa tenda Rp 45.000,00.

… And We Start.

Pendakian dimulai dengan menyusuri sedikit Jalan Raya Pacet, kemudian masuk ke gang rumah penduduk. Trek awal langsung menanjak dengan tangga, di sekitar trek dipenuhi pohon pisang dan kebun daun bawang. Sejak awal trek, memang sudah dibagi jalur pejalan kaki dengan jalur motor, karena Gunung Artapela basisnya adalah perkebunan, sehingga banyak motor modif lalu lalang untuk membawa hasil perkebunan. Trek awal terus menanjak dengan tangga dan pelan-pelan bertransisi jadi tanah, sampe rasanya ngos-ngosan banget.

Setelah tanjakan tanpa belas kasih, akhirnya kita masuk ke daerah yang cukup rata, di kanan kiri penuh ladang bunga kol, kentang, daun bawang, dan jagung. Beberapa petani menggarap kebun, banyak anjing lalu lalang. Keliatan dari jauh rumah-rumah dan hamparan perbukitan di sekitar Kertasari, yang beberapa masih hijau dan beberapa sudah agak plontos karena diseling dengan perkebunan di sana-sini. Nggak heran orang meng-klaim Artapela sebagai “Gunung yang cukup bagus kalau mau lihat city lights dari kemah di malam hari”.



Landai tidak berlangsung lama, jalanan kembali menanjak dan menanjak lagi. Sekarang jalanan motor dan jalanan orang tidak dipisah, jadi kita harus berkutat dengan jejak motor yang tentunya bikin kontur jalan lebih licin dan menyebalkan. Kadang, kalo kita udah capek nanjak, bawaannya pengen ngedumel, “Mana sih puncaknya?”. Puncak kelihatan sih dari jauh, jadi semangat cukup semangat. Oh ya, selama perjalanan, gue nggak banyak papasan sama pendaki lainnya, kalaupun papasan, pendakinya kebanyakan umur belasan sampai early 20 yang bahkan cuma pakai sendal atau sepatu kets biasa, kemeja, celana jeans, dan ransel berpergian biasa…

Jalanan terus menanjak dengan kontur tanah yang rusak sampai ke pos 2. Di pos 2 ini ada warung, mushala, dan toilet. Toiletnya seperti gubuk kecil dengan satu kloset jongkok. Kondisinya bersih, kloset terlihat masih baru, air banyak, jernih, dan segar – hanya saja ruangan toilet super sempit dan pendek, sehingga gue yang tingginya 153 cm ini tetap harus agak merunduk ketika masuk ke dalam toilet. Mushalanya juga seperti gubuk kecil. Untuk orang-orang yang attach banget sama sinyal, internet, dan kehidupan sosial, di pos 2 ini sinyal masih kenceng kok (walau gue gak pake provider terkuat dan terdahsyat se-Indonesia pun).


Setelah pos dua, jalanan terbilang ngeri-ngeri sedap karena selain berupa tanah basah dan jelek (karena dilalui motor petani juga, yang rodanya dipasang rantai agar tidak selip), jalanannya juga mepet lereng gunung yang cukup curam sehingga harus ekstra hati-hati. Berjalanlah merapat dengan dinding gunung karena jalan cenderung licin dan sulit ditebak, selain itu tanjakan yang harus dilalui juga cukup curam. Setelah lewat bagian tepi lereng, kita kembali masuk ke perkebunan yang masih juga menanjak. Setelah ditelusuri, memang Artapela adalah jenis gunung nyebelin yang bikin kita menerka-nerka dari jauh “Kayaknya itu puncaknya deh” tapi ternyata puncaknya masih jauh di belakang bukit-bukit yang berbaris. Yes, jalur pendakian gue ini katanya memiliki 4 tanjakan heboh karena ada 4 bukit, tapi perasaan gue kayaknya kita nanjak terus, euweuh turunan.

Banyak yang bilang, katanya akan ada 3 pos dan 3 checkpoint, tapi gue cuma ketemu Pos 2 aja selama perjalanan. Selanjutnya, jalanan terus menanjak (tidak henti-hentinya mengulang kalimat ini) dan gue cuma sekali ketemu orang yang mengecek tiket retribusi, itupun kayak papasan pas orangnya naik motor. Setelah berkali-kali ngedumel dan ditipu berulang kali oleh bukit, akhirnya ada penunjuk arah “Puncak Artapela ke Kiri” dan keliatan dong bendera merah putih dari kejauhan.

Trek di tepi lereng.

Trek menanjak, yang trek manusianya terletak di pinggir lereng.

Tujuan ke gunung: Agar semakin merunduk (literally merunduk).


Kalo udah ketemu pemandangan kayak gini, asli puncaknya udah deket.

Puncak Artapela adalah puncak yang botak (tidak banyak pohon) dan merupakan tanah rata dan luas dihampari rumput hijau. Di sana ada tiang bendera dan bendera merah putih, dengan plang Puncak Sulibra Gunung Artapela 2194 mdpl. Pemandangan yang bisa dilihat dari puncaknya adalah bangunan-bangunan penduduk dari ketinggian dan juga gunung lain yang jaraknya dekat dan lebih rimbun. Kondisi puncak cukup bersih karena ada beberapa orang (sepertinya penduduk lokal) yang membersihkan daerah sekitar (ayolah pendaki jangan ninggal sampah di atas, bawa lagi turun sampahnya!).

Ada 1 warung di atas dan satu semak Edelweiss yang bunganya baru tumbuh. Gue gak begitu lama di puncak, cuma menikmati angin sepoi-sepoi sambil selonjoran, lalu awan hujan mulai mendekat dan gue bergegas turun sebelum hujan. Perjalanan turun memakan waktu 1,5 jam dan gue sempet nyasar – walaupun ada petani di sekitar yang bisa ditanyai, tapi tetep aja deg-degan, mana langit mendung banget. Ujungnya, gue exit pendakian di tempat yang berbeda dengan starting point. Walaupun sama-sama muncul di tepi Jalan Raya Pacet, tetep sih itungannya nyasar dan bikin sport jantung.


Sekarang paham kenapa Artapela bagus untuk liat city view malam hari?




Jadi…

So I would sum up everything I consider as important about Artapela in numbers:

  1. Trek kebanyakan tanah licin, please consider a comfortable pair of hiking shoes. Gak hujan aja cukup licin, gimana kalau hujan.
  2. Trek perkebunan terbuka, usahakan memakai baju tipis tapi lengan panjang. Pastikan pakai sunblock juga ya.
  3. Trek menanjak dengan kesan “ditipu” oleh puncak. Walaupun tanjakan nggak ekstrem-ekstrem banget sudutnya, tapi tetep nyebelin karena nanjak terus. Bawa trekking pole ya biar aman.
  4. Puncak merupakan dataran terbuka minim pohon. Walaupun Artapela terkesan seperti gunung cetek, banyak info katanya angin cukup kencang di Puncak Sulibra. Pastikan tendamu cakep, kuat, dan terpasang flysheet supaya bisa tidur nyaman.
  5. Dari basecamp kami diwanti-wanti untuk jaga semua barang yang dibawa dengan baik karena ada cukup banyak laporan kehilangan barang, bahkan ketika mampir cari info di blog orang, ternyata ada pemilik blog yang kehilangan barang saat berkemah di Puncak Sulibra.
  6. Tidak semua jalan motor adalah jalan pendaki, jadi selalu perhatikan plang dan penunjuk jalan yang ada – walaupun kadang gak keliatan, kehalangan rumput.
  7. Sepanjang trek banyak banget lalet. Gue kira gue doang yang dikerumunin lalet karena mungkin hatinya busuk apa gimana, tapi ternyata semua pendaki juga ditemplokin lalet. Bahkan di puncak-pun gue masih dilaletin. Kapan lagi dikerumunin lalet di 2000-an mdpl?
  8. Never underestimate a mountain, even when it seems like the easiest one. Biar kata orang ke atas pake sandal jepit, celana jeans, kemeja, sama ransel sekolah, safety is number one. Terserah orang lain mau kayak gimana, yang penting kamu bawa amunisi yang membuat kamu aman dan nyaman selama mendaki. You never know what’s coming up there.

Spot the sign.


Hati-hati dengan motor yang melintas, bekas jalanannya juga licin.

Ditipu puncak. Dikirain ujung yang ketutup kabut itu puncaknya, taunya...

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wah, ternyata post ini sudah menjadi sangat panjang ya tanpa disadari.

Semoga semua kalimat-kalimat rumpang yang ditulis di sini bisa menyentil pembacanya untuk bertamu ke Gunung Artapela di Kertasari dan cukup membantu untuk memperkirakan seperti apa sih kondisi di atas sana. Semoga gue juga lebih bersemangat untuk explore gunung-gunung di Kabupaten Bandung dan sekitarnya lagi, kalo perlu dengan spirit tektok dan jumlah kawanan yang sedikit saja karena suka nggak suka I am adulting and I need to look for prosperity in daily basis – setidaknya naik gunung sebentar supaya bisa refresh jiwa-jiwa yang capek untuk kemudian bekerja lagi memutar roda finansial.

Di akhir kata, terima kasih sudah membaca dan selamat menjalani sisa-sisa bulan November! Semoga keberuntungan selalu datang pada kita dalam berbagai bentuk – dan semoga keberuntungan dalam bentuk yang kita inginkan tidak segan bertamu dalam waktu dekat ke dalam hidup kita.

Penuh sayang,

Minggu, 22 Maret 2020

Tidak Ada Gunung Bagi Pemula: Prau 2565 MDPL

Selamat Minggu pagi semuanya.

Well, we're at the end of March 2020. Jangan tanya kemana saja gue karena gue juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba sudah bulan Maret 2020 dan tidak begitu paham apa saja kegiatan yang gue lakukan dari terakhir kali menulis blog hingga detik ini gue bisa posting lagi. Yang jelas, di tahun baru kemarin salah satu resolusi gue adalah untuk menulis lebih banyak dan ide yang lebih produktif, namun sayangnya hingga bulan ketiga di tahun ini, tidak ada yang terwujud dan otak bersamaan dengan jari gue begitu malas menulis.


All thanks to Giphy for providing intro GIFs for me. Viva GIF life!

I had so many updates in life, so many things coming and gone, and so many emotions felt, yet sometime I still feel empty inside – but blah, that is okay. First thing first, I finally came to decision to leave my hometown, and got myself a place in Kabupaten Bandung, dikelilingi pegunungan dan udara dingin, sesuai naturku pada biasanya. Second thing, I am still a doctor and now I am placed (just like all of you) IN THE MIDDLE OF A PANDEMIC. COVID-19 is making us all crazy and also, inhumane at some points. Supermarket all clear dari barang-barang, terutama tissue, hand-sanitizer, masker, dan sabun, orang-orang self-quarantined dan work from home, perusahaan tidak beroperasi, Rupiah anjlok, dan gue masih di sini, di rumah sakit, dengan pasien yang nambah banyak dengan proporsi yang sakit 'biasa' lebih banyak dari pada yang benar-benar membutuhkan pertolongan unit gawat darurat. Sakit 'biasa' secara definisi adalah keluhan seperti sakit gigi dimana pasiennya masih bisa ngobrol dan senyum-senyum, BAB 3x sehari cair sejak 4 jam sebelum ke RS, atau demam sejak 2 jam lalu, dimana pasiennya udah berobat ke klinik 1 jam yang lalu tapi merasa belum membaik, karena obatnya belum diminum. Sungguh, di era pandemi yang virusnya udah mulai disinyalir ditransmisikan lewat udara (airborne) – bukannya droplet lagi, keputusan untuk pergi ke UGD/RS untuk sakit yang sebenernya bisa beli obat sendiri adalah membahayakan diri sendiri.

It's amazing and also frustrating; how this pandemic changed us.
I got this GIF here: Greenpeace USA
 

Hey, mengeluh di intro adalah jalan ninjaku.

So let's just jump from me whining, jadi gue udah ngasih hint di post sebelumnya bahwa ada tempat yang gue kunjungi di 6-8 bulan terakhir. To recall back, I will just attach the photo. 


Simply judging, gambar ini mengandung unsur perbukitan dengan tone warna cokelat, dengan gue memunggungi kamera, memakai baju hitam bertuliskan "Bima" – sebuah kota di Nusa Tenggara Barat yang gue kunjungi di bulan Maret 2019. Tapi sayang sekali, I would love to get back there, but the picture itself wasn't taken there. 

Jadi, di bulan Agustus kemarin, gue akhirnya naik gunung lagi. Been in love with (simple, non-advanced, recreational) mountaineering since last year and I could not stop thinking about mountain every time it's sunny and specifically, summer. Gue menargetkan sejak tahun lalu, setiap tahun setidaknya naik gunung 2 kali di musim kemarau dan tahun ini di bulan Maret, gue naik ke Tambora walau hanya sedikit dan nggak muncak, dan Agustus ini gue impulsif berdua sama temen ikut open trip lagi. Sempet bingung mau pilih gunung apa untuk didaki karena 1) Mau gunung yang beginner-friendy, karena temen gue baru pertama kali mendaki, 2) … Tapi bukan Papandayan, 3) Maunya tipe gunung yang panas, bukan hutan hujan (contoh: Pangrango). Setelah berkali-kali mikir, apakah mau ke Gunung Gede, Semeru sampe Kalimati saja, atau Papandayan (lagi), pilihan jatuh kepada Gunung Prau.

Gunung Prau secara administratif terletak di 3 Kabupaten: Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Wonosobo, tapi paling sering digapai lewat Wonosobo, karena termasuk dalam gugusan Dataran Tinggi Dieng dan masih banyak atraksi lain di sekitarnya, misal Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan lain-lain. Gunung Prau diklaim sebagai beginner-friendly sampai-sampai pintu masuk pendakiannya penuh dengan rumah persinggahan, dan puncaknya bisa penuh dengan kemah di masa liburan. Kata orang, Prau gunung yang menyenangkan dan tidak terlalu tinggi, 2565 mdpl saja. Akhirnya tanpa banyak babibu dan langsung setuju, gue dan teman gue kali ini, Clarissa, bergabung lagi bersama strangers di sebuah meeting point di Jakarta Selatan. Rasanya senang sekaligus thrilled salam-salaman lagi dan kenalan lagi sama orang baru lewat open trip. Kebanyakan teman-teman usianya sebaya kita tapi pergi berpasangan cewek-cowok. Cuma gue dan Clarissa yang pergi berdua cewek-cewek. Sisanya join open trip pure sendirian.

Kalo ditanya kenapa mau ke Prau, mungkin karena review beginner-friendly, bisa liat banyak gunung, dan banyak bunga daisy. Source: Pinterest

Perjalanan dari Jakarta ke Wonosobo memakan waktu sekitar 7-8 jam lewat jalan tol Cipali. Tidak terlalu ingat detil malam itu karena jalanan gelap ditambah jiwa karung beras yang membuat gue bahkan bisa tidur walaupun ada di situasi yang seharusnya tidak bisa tidur. Waktu matahari terbit yang jelas kita sudah ada di Dataran Tinggi Dieng, turun sebentar untuk beli gorengan dan menatap matahari terbit, dan jam 7 kami sudah sampai di Gerbang Patak Banteng. Benar rupanya, Gerbang Patak Banteng merupakan pemukiman padat penduduk yang kebanyakan sudah menjelma tempat pemandian, homestay, atau warung bagi para pendaki.

Setelah bebersih dan sarapan, pendakian start jam 10 pagi. Sungguh, pendakian (rekreasional) tersiang selama sejarah gue mendaki. Katanya, untuk mencapai 2565 mdpl tidak terlalu menyakitkan dan hanya makan waktu 3-4 jam, jadi mulainya bisa dari siang karena pasti pas sore udah sampai di puncak. Gue ngangguk-ngangguk aja denger pimpinan rombongan bilang gitu, "Oh mungkin pendakian ini tidak akan terlalu menyakitkan ya, syukurlah. Gue gak terlalu banyak olahraga sebelum naik ke sini". Yap, salah satu alasan kenapa gue pilih Prau adalah karena beberapa bulan ke belakang gue jarang sekali olahraga dan cenderung sedentary lifestyle – ke tempat kerja pagi-pagi naik motor, kerja dari jam 8 sampe jam 8, kadang bisa tidur siang dan ngemil banyak di tempat kerja, pulang jam 8 malam kemudian bablas mampir Warmindo untuk makan indomie rebus pakai telor dan sayuran, minumnya teh manis. Rutinitas itu berulang selama 1 bulan ke belakang dan sekarang gue berusaha kembali menekuni hobi yang membutuhkan kapasitas fisik yang bagus. Mon maap???
 
Pendakian dibuka dengan pemandangan sawah ber-terasering. Bersusun dengan indah mengelilingi daerah pemukiman warga. Sawah terlihat kuning kecoklatan karena musim kemarau panjang, tapi tetep cantik bukan main. Sampai di gerbang pendakian, gue langsung lemes liat tangga bersusun sedemikian banyaknya berwarna-warni. Gue suka warnanya tapi nggak suka dengan objeknya, yakni tangga. Aku dan tangga dalam pendakian sungguhlah bukan teman baik – tiba-tiba pikiran gue terbang ke satu tahun yang lalu, waktu gue jatuh di tangga Pangrango yang banyaknya bukan main, meninggalkan bekas kuku cantengan yang seminggu kemudian membentuk abses dan gue terpaksa insisi (beset) sendiri di kamar kos di Serang buat keluarin nanahnya. Tangga bersusun berundak-undak, mau nggak mau kita naikin satu-satu. Di sinilah kejompoanku (dan jiwa pemalas olahraga) mulai terkuak, baru naik tangga 5-6 udah melipir karena engap. Naik lagi, melipir lagi. Begitu terus sampai akhirnya ketemu trek tanah berdebu yang licin (kering aja licin, gimana basahnya?) 



Prau dari permulaan trek sudah nampak seperti gunung untuk turis – baru beberapa langkah melewati gerbang start pendakian, udah ada yang jual souvenir badge, enamel, dan lain-lain khas gunung Prau. Mendaki lebih ke atas lagi, ketemu beberapa warung di kanan kiri jalan menjajakan gorengan dan semangka (sumpah, semangka di gunung is the best idea human could invent). Tidak jarang warung jualan makanan besar, seperti pecel ayam dsb. Prau adalah gunung yang ramah dan ceria. Bahkan warung-warungnya punya background yang spektakuler – warung nangkring di ujung tebing, dihiasi dengan pemandangan sawah-sawah yang kecoklatan karena kemarau panjang, serta keliatan gunung lain dong dari kejauhan (yes, Prau is surrounded by Sindoro and Sumbing – you could catch their silhouettes from Prau).


Di Prau, lo bisa melipir setiap 300 meter untuk menikmati makanan warung. Fancy eh?

Semakin atas, trek berubah semakin berdebu dan curam. Trek menjadi tanah dan akar dengan sedikit susunan bebatuan. Di musim kemarau Prau penuh dengan tanah berdebu dan bisa sekali menjadi masker jika kita tidak megenakan penutup wajah. Pendakian pertama gue di Papandayan, sama sekali nggak butuh buff karena tanah Papandayan sama sekali nggak ngepul. Pendakian kedua di Pangrango, butuh buff supaya pipi nggak kedinginan, tapi basically Pangrango adalah hutan hujan tropis yang basah dan lembab. Pendakian ketiga ke Tambora, tanahnya becek karena sedang musim hujan, jadi nggak perlu buff. Cuma ke Prau ini aja butuh banget buff karena berdebu pisan.


Lebih naik lagi ke atas, trek semakin berundak dengan akar dan tanah, namun berundaknya ini tinggi-tinggi, sehingga kita tidak jarang kita harus menggunakan tangan juga untuk bisa naik (atau mungkin karena gue aja yang pendek). Oleh karena itu sangat dibutuhkan sarung tangan. Kebayang, narik-narik akar sambil berusaha membopong diri yang bawa carrier itu nggak enak, bisa-bisa pas pulang tangan luka-luka dan kapalan. Bukannya soal estetika, tapi ini perihal kenyamanan saat mendaki dan bagaimana kita bisa tetep in-shape sepulang dari pendakian. 3 jam pendakian, kita bisa menemukan kanan kiri trek curam dan bisa melihat beberapa atraksi wisata Dieng dari atas, misalnya Telaga Warna. Kita juga bisa lihat jalan-jalan dan mobil yang berkendara, semua semakin mengecil semakin kita mendekati puncak.



Diambil dari kejauhan: Telaga Warna.

What's good (or bad) about Prau juga adalah di gunung ini masih banyak spot sinyal. Ada banyak orang pergi ke gunung dengan background yang berbeda – ada yang memang ke gunung demi konten dan berasas publikasi, ada yang mau ke gunung untuk escape rutinitas dan kesibukan, ada juga yang memang mau refreshing tapi nggak bisa jauh dari kesibukan di tempat asal dan tetap mau keep in touch. Oleh karena itu, keberadaan sinyal sebenarnya both helping dan annoying, tergantung subjeknya siapa. Tapi, sinyal di Prau relatif bagus apalagi pas masih di bawah (dengan catatan, gue tidak memakai main operator in Indonesia, T*****s**l) dan ketika mendekati puncak akan ada plang-nya bahwa di daerah tersebut merupakan zona sinyal (gue lupa foto tapi hehe). So far, sinyal gue di zona sinyal tersebut 3-4 bar dan bisa telpon, tapi untuk internetnya sendiri edge sehingga nggak adekuat untuk internet. Untuk yang pake T*****s**l, sinyal internet cukup adekuat buat buka notif instagram dan whatsapp. Dengan keberadaan sinyal ini, Prau adalah gunung yang benar-benar sangat metropolitan.

Prau, seperti Papandayan, tidak memiliki puncak definitif, tidak ada titik tertingginya – dengan kata lain, 2565 mdpl bukan puncak definitif. 'Basecamp puncak' Prau luas dan datar, dengan hamparan rumput luas dan bunga-bunga liar yang cantik di beberapa sudutnya. Tapi ada juga sudut yang bertanah – jadi, pintar-pintarlah memilih lapak berkemah. Pendakian dari pintu gerbang hingga sampai ke Puncak buat gue memakan waktu 4 jam, dengan stamina orang yang gaya hidupnya hanya kerja dan rebahan. Kalo lo lebih atletik, bisa lebih gercep lagi sampe di basecamp teratas pendakian via Patak Banteng ini. Waktu itu, gue tiba pukul 2 siang, awan masih menggantung, menghalangi pemandangan gunung-gunung lain (Sindoro, Sumbing, Slamet) yang seharusnya bisa dilihat dari Prau.


Selain pemandangan gunung-gunung di sekitarnya, Prau juga diberkahi kenampakan bukit-bukit – nama familiarnya adalah Bukit Teletubbies. Bukit Teletubbies Prau ini agak mirip-mirip dengan bukit-bukit di Nusa Tenggara Timur (yang namanya juga Bukit Teletubbies), apalagi ketika musim kemarau panjang dan rumput-rumputnya jadi cokelat karena kering. Pertanyaannya adalah, kenapa di negara kita banyak banget yang menamai wilayah perbukitan dengan Bukit Telettubies? Sejujurnya tidak mengerti kenapa semuanya harus Teletubbies – apakah karena tidak ada acara TV lain yang menampakan bukit se-spesifik acara TV Teletubbies? 


As expected dari mendaki di kala weekend, puncak Patak Banteng ramai sekali dengan pengunjung, untungnya kita dapet tempat yang cukup datar dan nyaman untuk mendirikan tenda. Setelah beres-beres, kita sibuk mengamati awan yang naik turun menutupi pemandangan gunung-gunung di sekitar Prau. Ditungguin-pun, awan-awan masih senang menghalangi gunung Slamet, Sindoro, dan Sumbing jadi kita memutuskan untuk nyari pemandangan lain aja.

Yang paling mengasyikan dari gunung yang tidak punya puncak definitif seperti Prau dan Papandayan adalah kemungkinan ada permukaan yang lebih tinggi lagi dari permukaan yang kita pijak sekarang. Akhirnya, gue dan teman-teman memutuskan untuk mencari permukaan yang lebih tinggi lagi untuk menikmati sunset dan kita dapet spot dengan tentunya, tidak mudah, karena medan prau yang berpasir dan rawan menggelincirkan pendaki yang bahkan masih pake sepatu hiking. Dari spot itu, terlihat Telaga Warna dari kejauhan ditimpa sinar oranye matahari terbenam. Awan-awan mulai menghilang dari sekitar, bintang-bintang mulai turun, dan angin malam Prau mulai membekukan wajah.



Tidak banyak hal untuk dikenang setelah matahari terbenam. Prau dingin, sama seperti gunung lainnya yang setidaknya pernah gue jajaki, tapi tidak lebih dingin dibanding pendakian pertama gue ke Papandayan. Malam itu, bintang tidak terlalu banyak tapi ada beberapa, bulan sabit bertengger di langit, orang-orang lalu lalang karena kondisi camp yang ramai. Yang selalu terasa spesial dari malam di atas gunung adalah kopi dan mie instan hangat, sensasi menggesekan kedua tangan dan meniup udara hangat dari mulut untuk mencari kehangatan, dan obrolan-obrolan yang membawa strangers menjadi friends – bahkan family. I don't know which part taking me back again and again to mountains; is it the adventure and adrenaline rush? Is it the peace and serenity? Is it the coffee? Or is it the new friends? Tapi, pemikiran-pemikiran kenapa dan karena itu selalu hilang sudah di atas gunung – yang ada hanya "Oh sekarang gue di sini dan rasanya selalu sama: Enak, nyaman, seperti pulang ke rumah."


Pagi hari pukul 5, teman gue sudah ribut kasak kusuk di sekitar tenda, sementara gue masih bergeliat malas di dalam sleeping bag yang didobel lagi dengan emergency blanket karena suhu semalam mendadak super dingin, gigi temen gue mulai gemeretakan, dan entah kenapa di sebelah tenda gue yang tadinya lahan kosong jadi terisi dan penghuni tendanya super gaduh, terdiri dari suara 4 orang ketawa-ketawa dan teriak di jam 2 pagi. "Dina, ayo bangun udah mau sunrise". Setelah mengumpulkan nyawa, gue menyeduh kopi di luar tenda (kopi adalah menu wajib pendakian yang artinya jika 2 hari mendaki, minimal 3x ngopi di atas gunung) dan akhirnya menyusul teman gue yang sudah ada di ujung bukit sana asyik memperhatikan awan-awan yang mulai berbaik hati mengalah agar pendaki bisa mendapat sunrise yang layak dengan latar 3 gunung sekitar Prau.

Akhirnya, awan benar-benar mengalah pada pendaki.
Selamat pagi, dari Patak Banteng, Prau.

Ritual ngopi di gunung adalah salah satu motivasi saya mendaki.


Dina yang tidak pernah estetik: "Dandanan mamang villa adalah jalan ninjaku"

Lautan awan.

Setelah kenyang menikmati sunrise dengan tiga gunung dan lautan awan (serta sibuk menilai betapa orang-orang lain niat banget ya bawa-bawa bendera Indonesia, bawa baju lucu, kain-kain etnik, dan pernak-pernik lainnya demi dokumentasi yang paripurna), akhirnya kita packing pulang. Perjalanan pulang selalu terasa lebih menyakitkan daripada berangkat (tentu saja! Walau udah berkali-kali naik gunung, setiap turun gunung pasti selalu ada rasa ngedumel 'Kenapa sih gue mau naik gunung lagi dan lagi?'), ditambah dengan lautan manusia yang mau turun dan mau naik, serta medan berpasir. Baru pertama kali ngeliat trek pendakian macet seperti itu, terutama di bagian yang bertangga, dan begitu ketemu medan berpasir, kita kepleset dan meluncur sana-sini – bikin kaki sakit, pantat tepos, dan pasir masuk semua ke dalam baju. Walaupun menyakitkan, tapi kita tiba di rumah singgah 3 jam setelah turun dari camp dan akhirnya mandi untuk mengusir pasir-pasir yang nempel di badan akibat siklus bangkit-kepleset-bangkit-kepleset. Jangan kira kita riang sentosa dan mandi lancar jaya – masih tetep ramai, mandipun harus antre dan pinter-pinter cari rumah yang kamar mandinya lagi kosong.

Anggep aja ini foto real yang nggak pake effort cari spot: Emang sepenuh itu basecamp-nya.

Nah ini foto yang lebih effort cari spot supaya nggak kehalangan orang (alias review tipu).

Ya, naik gunung hits memang ada suka dukanya deh, gue akui.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ 

Jadi, setelah ke riweuhan mencari air mandi (padahal biasanya gue cuek sih nggak pernah mikirin mandi, mandinya pas balik ke rumah), akhirnya kita cabut dari Dieng pukul 1 siang – menelusuri lekuk tubuhnya yang molek dengan full musik dangdut koplo in the house. Sampai di sekitar daerah Pancoran Jakarta pukul 2 pagi dan sampai di Tangerang pukul 3 pagi – dan jam 8 pagi gue kerja seperti biasa dengan kedua tungkai yang super sakit walaupun selama pendakian dibantu sama trekking pole. Intinya, tidak ada gunung bagi pemula – semua butuh preconditioning dan stamina. Semua butuh prior research, bahkan beberapa gunung butuh experience. Here are lessons learned from Gunung Prau versi gue:  

  1. Naik gunung itu selalu bawa masker/buff karena bisa saja musim kemarau membuat medan menjadi sangat berpasir dan berdebu. Gak asik kalo pulang dari gunung tiba-tiba sesek napas terus bronkitis. Kalaupun gunungnya gak berpasir/berdebu, masker atau buff bisa buat melindungi wajah dan syaraf-syarafnya dari rasa dingin, sehingga chance untuk lumpuh syaraf wajah (Bell's Palsy) bisa berkurang. Gak lucu juga kalo balik-balik dari gunung muka mencong sebelah karena syaraf wajahnya lumpuh gara-gara kedinginan.
  2. Trekking pole is no joke – menurut gue wajib kudu harus mesti. Trekking pole mengurangi beban sendi lutut, membuat pembagian berat tubuh menjadi lebih efektif, sehingga mendaki bisa dilakukan dengan lebih ergonomis. Dengan trekking pole, risiko cedera lebih kecil dan juga risiko untuk menderita DS alias dengkul soak pasca mendaki menjadi lebih kecil. Halo, sendi yang lebih happy.
  3. Naik gunung yang diklaim 'mudah' dan 'hits' memang memiliki suka dukanya sendiri. Sukanya, mungkin medannya tidak terlalu menanjak atau licin, sehingga bisa terjangkau oleh semuanya. Dukanya, tentu saja ramai dan bisingnya yang bikin pusing. Pusing nyari tempat bertenda, pusing karena macet di trek, pusing rebutan WC, pusing cari spot dokumentasi, pokoknya harus udah siap lah kalo ke gunung-gunung hits macem Prau kayak gini. It’s really better to go Prau in weekdays, mengingat kalo weekend banyak yang libur dan memadati gunung – coba deh pergi ke Prau pas hari kerja. Mungkin crowd-nya akan sedikit lebih baik.
  4. Selalu prior research, baik itu medan, pilihan trek, termasuk do's dan don't's. Mendaki via Patak Banteng memang pilihan utama pendaki, tapi bukan berarti tidak ada trek lain. Titik tertinggi Prau juga bisa dicapai lewat jalur Dieng, namun ternyata lewat jalur Dieng berarti harus melalui luggage checking dan tidak boleh bawa botol plastik! Selalu riset ya, mana kira-kira jalur yang enak untuk rombonganmu dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dibawa dan dilakukan saat pendakian – supaya semua selamat dan senang! 

Dipilih, dipilih lapak kemahnya!

Nah contohlah pendaki ini, dia jalan lebih jauh buat cari spot kemah walau di pinggir jurang.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ 

It's really sweet to finally finish this post after a while.

Semoga manajemen waktu dan keuletan menulis gue cepat sembuh, dan gue bisa naik gunung lagi menyongsong musim kemarau di tahun 2020 ini – karena gue sudah punya bucket list 2 gunung yang mau gue daki di tahun 2020 ini (walau nggak ngerti juga gimana merealisasikannya karena sekarang udah kerja dan jatah cuti sangat limited – dan harus mikirin kesejahteraan rekan kerja juga kalo mau ambil day-off lama-lama – duh, akhirnya omongan gue kayak orang dewasa juga ya, ngomongin pusing kerjaan).

Uhm, jadi,
terima kasih telah membaca,

Love, 
Your writer x intern doctor