Rabu, 07 Desember 2016

A Hit and Run One Night Stand: Malang

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Halo semuanya! Apa kabar?
Semoga semuanya baik-baik saja.

Senang sekali akhirnya bisa nulis lagi setelah 5 bulan lebih nggak nulis. Even when I got May-August as my (last) holiday (in the college life), it seemed like it was not enough. Gimana enggak; liburan gue habis di rumah aja untuk bikin CV dan apply sana-sini untuk mencari pundi-pundi rupiah. Walhasil alhamdulillah bisa menyalurkan tulisan mengenai kesehatan selama beberapa bulan terakhir dan soal pundi-pundi rupiah… Wah nggak usah ditanya lah -- habis buat menunjang kecanduan seblak Bandung. Gue masih harus belajar banyak dalam mengatur kondisi finansial.

Setelah beberapa bulan nggak kuliah (walaupun tiap hari juga kalo pergi kemana-mana pasti lewat kampus), akhirnya gue dengan resmi memulai semester terakhir perkuliahan. Semester terakhir dengan sejumlah problematikanya… Mulai dari blok yang sudah campur aduk penuh penyakit komplikasi dan kegawatdaruratan, visit ke rumah sakit untuk tanya dan periksa pasien ala ala koas, sampai presentasi laporan kasus dan diwejangkan karena sudah semester 7 kok pengetahuannya masih belum advanced…

Cie yang merasa pengetahuannya masih belom advanced padahal temen-temennya udah mulai pada wisuda. Cie…

Akhirnya semester 7 resmi diakhiri beberapa hari lalu; menyisakan 40% baper dan 60% gelisah -- baper karena hari-hari perkuliahan sudah selesai dan makhluk angkatan 2013 siap dipencar untuk kehidupan koas selanjutnya, gelisah karena masih ada 6 ujian yang harus ditempuh untuk kemudian Kartu Studi Mahasiswa siap dibakar dan untuk kemudian membayar kuliah semester depan.

Dan…
Ditengah 60% kegelisahan tersebut, tiba-tiba nyokap naro koper di kamar gue.

"Loh buat apa Ma"
"Flight ke Malang tanggal 19. Masukin baju," katanya.

Seketika gue delirium.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bukan nyokap namanya, kalau nggak dadakan.
Selalu begini, mulai dari hal-hal kecil seperti titip beli makanan, anter laundry, hingga hal kompleks yang dalam pelaksanaannya membutuhkan support wakil dekan, seperti melaksanakan ibadah umrah.

Seketika kombinasi 40% baper + 60% gelisah berganti menjadi 20% euforia + 80% gelisah.
20% euforia karena senang bisa escape gratis (semakin dewasa, gratisan terasa makin nikmat) ke Malang yang merupakan destinasi yang gue memang gue sering rencanakan dan nggak pernah kesampaian sekaligus 80% gelisah karena gue sadar ilmu ujian gue belum ada di level yang adekuat untuk menunjang nilai dan liburan ini akan mengurangi waktu gue untuk ngilmu.

Udah keliatan kayak anak kedokteran ngoyo belom gue? Enggak kok nggak ngoyo -- gue mah belajarnya gak kayak tetangga sebelah yang bisa 8 jam nonstop.
(No offense)

80% gelisah gue bungkus di dalam koper yang gue tarik di sepanjang terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, jam 7 pagi. Udah terlalu lama gak ke bandara, gue dibuat terpukau dengan terminal baru yang secara arsitektur beda jauh dengan terminal-terminal pendahulunya. Terasa lebih canggih, lebih modern, seolah Indonesia is no longer traditional.


Orang selama ini bilang kalau terminal Soekarno-Hatta masih tertinggal dengan bandara-bandara luar, but actually I like Soekarno-Hatta terminal generasi lama, walaupun kesannya jadul, primitif, tradisional, konvensional -- you name it. Gue suka warna merah bata-nya, gue suka hiasan lampu-lampunya. Menurut gue terminal generasi lama adalah cermin Indonesia. Etnik sekali. But with this new terminal, I ain't complaining. Sudah saatnya mungkin Indonesia punya terminal yang lebih bagus dengan arsitektur yang lebih modern dan pastinya fasilitas yang lebih baik. Pilihan makanan lumayan banyak -- dan akan lebih banyak lagi nanti ketika sudah full buka semua. Tapi satu yang mau gue protes, enggak ada McDonald di sana.


It took 2 hours more or less from Cengkareng to Malang -- gue berada di kursi yang agak terbelakang, bercampur dengan lansia-lansia Japanese yang berombongan trip ke Malang. Sepanjang perjalanan gue tadinya niat mau baca buku, tapi mau gak mau jadi nguping pembicaraan lansia-lansia ini. Hebat, mereka udah tua-tua tapi masih kuat bawa ransel sendiri, masih bisa ngerumpi asik, even trip ke luar negeri. Sampe mereka naik Bromo, gue salut banget sih.

Ini pertama kalinya gue ke Malang dan I was quite surprised to see the airport tho. Agak flashback ke memori 1 tahun lalu ketika gue mendarat di bandara Solo dan mendapati bahwa bandara tersebut ada di tengah-tengah persawahan -- bandara Abdulrahman Saleh Malang-pun sama. Gue mendarat di lapangan udara antah berantah yang di kanan kirinya ada pohon singkong dan bandaranya ada di kejauhan sana. Sementara gue menerka-nerka disebelah mananya Malang gue mendarat, orang Jepang disekitar gue dengan asyik membahas pohon Singkong. Gue gak bisa bahasa Jepang, tapi yang jelas mereka bilang Tapioka.

Bandara Abdulrahman Saleh mungil dan sederhana -- khas untuk bandara-bandara yang bukan airport khusus turisme, karena bandara ini sebenarnya adalah sejenis landasan untuk TNI AU. Nggak ada yang menarik dari terminal kedatangan -- hanya ada toilet, tempat ambil bagasi yang mungil, dan juga para supir taksi yang membuat kamu merasa seperti selebriti. Kembali lagi membahas orang Jepang, bahkan mereka sempat kebingungan dengan bentuk toiletnya yang mungkin nggak-toilet-bandara banget. Lebih mirip toilet SPBU soalnya… Sorry to say!

Dari bandara Abdulrahman Saleh, gue melaju ke Batu dengan rombongan teman-teman nyokap yang sudah datang duluan. Batu pastinya nggak asing buat orang Malang dan sekitarnya, dan juga buat yang Non-Malang -- karena Batu telah mendedikasikan dirinya sebagai Kota Wisata mengingat banyaknya atraksi wisata di sana, mulai dari Jatim Park 1 dan 2 (denger-denger mau ada Jatim Park 3 juga), Batu Night Spectacular, Batu Secret Zoo, Museum Angkut, belum lagi wisata Apel-nya, dan banyak atraksi lainnya. Berikutnya, tulisan ini akan gue split menjadi petualangan perdestinasi ya supaya lebih enak dibacanya. Yuk!

Museum Angkut+

Gue selalu berpikir apa rasanya jadi orang Batu yang tinggal disekitar atraksi-atraksi turis, seperti Batu Secret Zoo, Jatim Park, Batu Night Spectacular, dan belum lagi Museum Angkot. Pengen rasanya main ke semua (apalagi ke BNS), tapi apa daya, it's only short-lived trip; sehingga sebisa mungkin dikemas sepadat mungkin, ke tempat tujuan yang seasik mungkin.

Dari dulu gue sudah mendengar kalo Museum Angkut literally the best museum ever di Pulau Jawa dari temen-temen gue yang pernah kesana. Katanya "Kalo lo mau narsis, kesana deh, pulang-pulang udah gak bisa senyum saking pegelnya". Pas gue minta deskripsi detail, dibilangnya, "Udah deh kesana aja dulu!". Sangat tidak menjawab pertanyaan, tapi cukup menambah rasa penasaran.

Jadilah Museum Angkut sebagai destinasi pertama gue di Malang. Entah berapa jam dari Bandara Abdurrahman Saleh, yang jelas sebangunnya gue dari tidur, gue sudah berada di dekat Secret Batu Zoo yang notabene dekat sama Museum Angkut. Langit gelap, hawa-hawa sejuk Malang mulai bercampur dengan bau hujan. Antrian di depan loket gak terlalu padat; HTM masuk di weekend Rp 80.000,00/ orang. Bagi yang membawa kamera (selain kamera handphone), dikenakan biaya kamera sekitar Rp 30.000,00/ kamera.

Gue masuk dengan gelang (tiketnya berbentuk gelang, kayak di festival-festival gitu) dan cukup terkesima dengan pelataran depan museum. Banyak sepeda motor tergantung di dinding, ada sepeda zaman dulu, mobil zaman, dulu yang rata-rata keluaran produsen mobil luar negeri, sampai kereta kencana. It's already eyegasmic in the front.





Setelah puas liat-liat di depan dan di lantai dasar, gue pergi ke lantai atas. Di lantai atas, isinya banyak becak-becakan, bemo, dan segala moda transportasi jadul mulai dari transportasi Indonesia sampai transportasi Cina. Selain itu, ada beberapa game interaktif seperti menebak sinyal perkeretaapian (I was forced by my mother to remember all signals because my great-grandfather atau eyang kakung was a railway engineer) dan game interaktif mengenai pesawat paling laku - pesawat paling bagus -- everything about pesawat. Di samping itu, ada kayak mesin-mesin jadul yang digunakan untuk transportasi jadul, gitu.



I was about to go upstairs when rain suddenly poured. Akhirnya gue nggak liat-liat kabin pesawat yang memang adanya di atas.

Sisa waktu gue habiskan dengan duduk di pojok, ngeliat orang-orang lain selfie asik sekali. At that moment, I thought the museum was good but so boring. Gue mau keluar aja.

Gue kembali ke deket pintu masuk dan rupanya gak bisa keluar.
"Kalau keluar, lewat lantai 2, Mbak"
"Lewat mananya mas?"
"Di belakang teater."

Alamak, di lantai 2 memang ada teater kecil dan ada mini galeri isinya berbagai macam mata uang (soal uang, I still prefer Museum Bank Indonesia, tho) dan saking ramenya, jalan tembusannya sampai gak terlihat. Begitu gue nembus dari sana, gue kembali menarik kalimat "museum ini bagus tapi tetep boring".

The real side was about to revealed and the fun was not in the front.

Di balik teater, ada jalan keluar menuju sisi outdoor museum. Di balik hujan (yang sudah jadi) gerimis (saja), gue bisa melihat penampakan kawasan Pecinaan Kota Jakarta dan lengkap dengan pemandangan depan Stasiun Jakarta Kota (where my great-grandfather was working in his entire life), ditambah dengan pemandangan Pelabuhan Sunda Kelapa.





Setelahnya, museum kembali menjadi indoor dan menampakan mobil-mobil antik yang sangat cantik-cantik, mostly used in Japan.

Dari situ, keseruan semakin bertambah dengan berlarian menyebrang di bawah hujan untuk masuk museum indoor lainnya. Mulai dari Italia, Prancis, Jerman, U.K, Las Vegas, sampai Hollywood -- keseruannya gak berhenti-berhenti dan excitement bener-bener membludak campur aduk sama panik karena hujan semakin deras. That was exactly when selfies and taking proper pictures could be considered as sport.

Spot foto mainstream di Museum Angkut?


Buckingham Palace: Front

Inside Buckingham Palace

HOW. DID. THEY. CREATE. THE DETAILS.




You may judge me tomboy but this wall full of flowers excited me.

Salah satu penampakan di Kawasan Paris


Berlin Wall, anyone?

Petualangan ditutup dengan gue masuk ke lorong yang dihias menyerupai interior sebuah kereta api. Di sampingnya banyak layar yang seolah-olah menggambarkan pemandangan di luar jendela kereta ketika kita melihat dari dalam sebuah kereta yang sedang berjalan. Keluar-keluar, gue muncul di perbatasan antara museum dan Pasar Apung. If it was not raining and I got plenty of time, sure I would jump in there for next adventure, but uh oh time doesn't approve -- so I skipped the adventure and hoped that maybe I would hook up with it someday.

Intinya, aku ingin menarik kembali pernyataan bahwa "Museum Angkut+ sangat bagus tapi sangat boring" karena it was literally the best Indonesian museum I ever visited in 21 years of my life. It was exactly like my friends said that "Pegel-pegel deh lu senyum terus", "Selfie sampe capek", "Selfie sampe gempor". karena memang kenyataannya seperti itu. Setiap pojoknya indah dan instagrammable. Haha! But since I didn't really into aesthetic selfie, well, the kind of my fun was slightly different. I enjoyed capturing all sides of the museum walaupun agak sulit untuk mengambil proper pictures karena banyaknya orang yang selfie. Huh. Can't really blame them because the place was so gorgeous -- apalagi di bagian Italia, Paris, dan Jerman -- duh kusuka sekali! Kalau ada yang mau propose tantangan untuk mencoba museum lain, I dare you and your museum at comments yah!

Museum Angkut+
Jl. Terusan Sultan Agung No. 2 Kota Wisata Batu - Jawa Timur Indonesia 65314
HTM
Weekday: Rp 60.000,00
Weekend: Rp 80.000,00
Kamera: Rp 30.000,00

Dari Museum Angkut, gue pulang ke guesthouse di Kota Malang, yang kata Google Maps sih -- 6 menit dari Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Sejumlah teman-teman gue hubungi supaya bisa meetup di Malang, tapi apa daya karena aku berpergian dengan ibu-ibu dan bapak-bapak, aku stuck lama sekali di tempat oleh-oleh.

Ternyata perjalanan dari Batu ke Malang Kota jauh juga karena udah bangun tidur bangun tidur lagi belom juga sampai (gue selalu menilai jarak dengan cara seperti ini, maafkan) -- tapi tertulis sih di website (yang gue lupa website apa) kalau jarak dari Batu - Malang kurang lebih 20 km. Itu mah jauh juga yah.

Gue sampai di guesthouse sekitar jam 6 sore, lalu ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap-siap menghadiri resepsi pernikahan. Sebenernya inti dari kenapa gue ke Malang ya cuma karena resepsi aja dan gue diajak hanya sebagai tim hore dalam perjalanan wisata plus-plus selain ke resepsi.
(Pardon my bahasa)
(Plus-plus)
(Enggak papa, kalo ada yang ketik plus-plus di Google ketemunya nanti blog gue)
(Upaya menambah viewers)
Lol.

Jadilah selama gue ditinggal ke resepsi, gue kembali bersua dengan buku pelajaran dan kenyataan kalau beberapa hari lagi gue ujian. Di Path gue sudah dihujat tidak berkesudahan karena YOLO banget mau ujian malah pergi ke Malang. Perasaan ini mungkin namanya yang guilty pleasure ya; di satu sisi gue merasa bersalah karena harusnya I put much concentration to my LAST semester but actually it was quite pleasant to escape like this. Xixixi.

Tengah malam, gue terbangun, mandi keramasan supaya kedinginan dan full bangun. Surprisingly, Malang adem tapi tidak sedingin itu. Selesai mandi, gue packing dan bersiap check out. Check out di tengah malam di saat orang-orang mungkin baru check in tengah malam. Wow.

Tengah malam, gue terbangun di jok belakang mobil elf sambil berusaha menghafal obat antipsikotik namun kemudian terdistraksi oleh pemandangan tengah malam Kota Malang. Warung-warung kopi masih buka di jam 1 pagi, orang-orang masih bersenda gurau, kondisi jalan tidak terlalu ramai, tapi tidak terlalu sepi. Rasanya aman. I wonder when is the last time I feel safe and comfortable driving in the late of night. Gue sering pulang malam tapi dengan kecepatan 70 kilometer per jam dan dengan melirik spion setiap beberapa detik sekali untuk mengawasi apa yang ada di belakang gue -- dan itu berlaku sejak banyaknya begal dari beberapa tahun lalu. Di Malang, entahlah, I felt like it was safe and quite comfortable to drive on the street at 1 AM. Seperti itukah? Atau gue saja yang masih kasmaran dengan Malang dan belum tahu sisi kelamnya?

1 jam kemudian, gue terbangun di tengah hutan.

Penanjakan Bromo Tengger Semeru

Gelap. Sama sekali tidak ada lampu. Jalan berkelok tapi halus tanpa guncangan, tapi memang cukup ekstrim -- buktinya salah satu anggota di elf minta berhenti untuk muntah. Nausea is quite troublesome when you're up for the mountain or down for the sea, tapi bukan berarti nggak bisa dicegah sih. Tips menghindari mabuk ala Dina:


Btw, thank you for freepik to give free ship vector for a broke not-so-designer person like me.

Akhirnya, setelah melewati jalanan yang berliku-liku tanpa lampu, gue sampai di tempat muara penanjakan. Oke, Malang tidak sedingin itu... Tapi ketika gue keluar dari elf, gue bener-bener kedinginan. It's half-freezing untuk orang seperti gue yang lebih suka kegerahan dibandingkan kedinginan. Turun dari elf, gue langsung jadi selebritis dikerumunin sama mbak-mbak dan mas-mas yang menjual senter, syal, sarung tangan, sampai sewa jaket. Gue berjalan ke toilet diikuti oleh mbak dan mas, sampai di toiletpun agak ditegur dengan sedikit tidak menyenangkan.



Gini,
saya tau di dunia ini nggak ada yang gratis
apalagi di tempat wisata;
pipis bayar, kalau pup nambah, apalagi mandi,
dan jujur saya bukan orang yang suka menggratiskan diri,
saya tau cari duit itu sulit.

Antrian toilet masih panjang dan gue berdiri mengantri mengantongi dua ribuan.
Tiba-tiba gue ditegur,
"Sampeyan kalo mau pakai toilet ya harus bayar dulu!"

Loh, kok ngomongnya nggak enak. Gue merogoh kantong.
"Ini sampeyan berapa orang?!" -- sekali lagi dengan nada sok seru yang buat gue gak asik.
"Satu," jawab gue pendek.
"Ya bayar dulu dong!"
Ya ampun padahal antrian depan gue belom bayar juga kok gue doang yang dimarahin. Malah ada yang keluar baru bayar.

Saya dalam hati menahan diri untuk gak judgmental; mungkin banyak orang yang pakai toilet nggak bayar sehingga dia ketusnya bukan main menegur saya (dan cuma saya), but actually kinda can't help it but being judgmental. Tapi di satu sisi, saya turis sebagaimana juga pengguna yang lain. Semua orang ingin diperlakukan dengan baik. Perlakukan orang seperti kamu ingin diperlakukan. Jadi ayolah, bersimbiosis mutualisme. Saya pakai service kamu dan membayar, kamu kasih saya sapa dan senyum, juga service yang baik. Janganlah jadi turis dengan mental gratisan yang apa-apa maunya gak bayar. Jangan juga jadi mental yang sangat money-oriented hingga keramahannya nggak akan ditunjukan kalau nggak diberi uang.


Sedikit sebal, jam 3 gue naik jeep dan antrian masuk gerbang sangat panjang. Stuck disana sekitar 15 menit, lalu berhasil masuk dan lancar. Kita terus menanjak -- Bukit Cinta lewat hingga kita memutuskan untuk berhenti di Sunrise View Point tertinggi nomor 2 karena waktu sunrise sudah dekat. Keluar dari jeep, agak sedikit doyong karena oksigen tipis dan udara super dingin sampe bibir gue gak bisa bergerak. Pertama kalinya celah paha sampai gemetar saking dinginnya.

(Pardon my bahasa)

Dari titik berhenti, gue harus jalan sekitar 100 meter ke View Point hingga akhirnya gue menemukan ujung tebing yang penuh dengan bule Prancis sedang mengabadikan entah apa orang masih gelap.

Matahari mulai merayap perlahan dan disanalah, Gunung Bromo dan kawahnya berdiri tegak. Kembali menyambut hari tenang lainnya -- menjadi sumber nafkah bagi para pemuja yang hidup di balik kaki-kakinya. Semua orang berselfie dan gue gak tau harus ngapain selain merasa beruntung sudah bisa ada di titik ini dan melihat bahwa alam bisa menjadi sangat indah dan baik bagi manusia dalam satu waktu. Kamu diizinkan menaikinnya, diizinkan makan dari tanahnya, diizinkan mencari uang darinya -- lalu kenapa masih serakah?

Para penikmat sunrise -- sebagian berduyun selfie, sebagian sibuk termenung.






Petualangan belum selesai.

Setelah menyaksikan sunrise termenggetarkan sela-sela paha, gue dibawa gajluk-gajlukan lagi menuruni lereng, masuk ke hamparan pasir di sekitar kawah-kawah aktif Bromo. Iya, tempat mainstream-nya Bromo dimana suka banyak orang naik kuda, foto di Savanna.

Berada di jeep bagian depan bersama nyokap dan setengah sadar itu rasanya nggak karuan -- di satu sisi gue merasa amat sangat mengantuk dan pingin tidur aja, di satu sisi gue merosot terus dari kursi sehingga enggak bisa tidur, dan rasanya sayang kalau melewatkan pengalaman gajluk-gajluk + pemandangan yang nggak setiap hari bisa ditemui saat membuka mata. Akhirnya gue memutuskan untuk terjaga, karena enggak mau nyesel begitu nanti sampai Jakarta kalo gue gak menikmati escape ini semaksimal mungkin.

For God's Sake -- it's still 5 AM in the morning.

Guess whose hand was trembling when taking this picture?

A life to die for?

When sunlight shines between two mountains -- it creates cahaya surgawi! O! Heavenly light...

Expecting longer grass, but well... OK Fine.

Be like an old jeep; old, yet strong, adventurous, and classy at the same time.

Akhirnya, setelah beberapa lama terkesima dibuai pemandangan indah dan udara gunung yang mulai menghangat, sense untuk balik ke realita kembali juga setelah gue mendapati bahwa gue gak minum udah dari sebelum tengah malam dan tetap dikuasi rasa ingin pipis. Ya, memang ketidaknyamanan-lah yang membuat hidup kita harus tetap berlanjut. Thanks to ketidaknyamanan, we can keep continuing our life and survive from one day to another. (Apasi gak nyambung).
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalanan pulangpun memakan waktu berjam-jam (3 jam? 4 jam mungkin?) dan intinya gue berhasil mencapai Bandara Abdurrahman Saleh dengan tepat waktu setelah beberapa kendala di jalan:

1. Akses jalan gunung yang biasanya dipakai pulang menuju Malang sedang occupied dengan hajatan yang menutupi satu jalan full, sehingga mobil-mobil yang mau lewat harus puter balik di jalanan menanjak yang ujungnya jurang tanpa pembatas jalan. Okay.

2. Gue kurang paham kenapa kita mau pulang ke arah kota tapi jalanan gunung semakin menanjak. Beberapa kali mobil elf tidak kuat menanjak sehingga kita merosot lumayan mencekam di beberapa turunan.

Tapi alhamdulillah, gue bisa duduk di boarding room dan hanya meninggalkan satu hal di Malang; perasaan ingin kembali karena belum puas. Ya, Malang is my another hit and run setelah petualangan gue ke Solo tahun 2015 dan bahkan I just hit Malang for one night stand! I even got 2 nights in Solo, and still be completely curious about staying longer. Semoga masih bisa mengunjungi Malang dan sekitarnya suatu hari nanti untuk mengunjungi Batu Night Spectacular (entah kenapa kok gue pengen banget kesana ya?) dan untuk main ke atraksi lainnya seperti Pulau Sempu, mungkin? Semoga yang terus kusemogakan!

Terima kasih Malang dan petualangannya!
Let's hook up for a longer time; I am tired with one or two night stands :p
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Well, I think that's all for the stories.
Phew, such a long time to write but I had never been this enthusiast before in past months.

Ngomong-ngomong, hari ini 3 minggu rangkaian UAS gue baru selesai, mohon doanya ya supaya bisa dapet nilai yang lulus dan memuaskan (tentunya!). Semoga... Semoga! Aamiin.

Salam,
Pejuang IPK yang
'tidak apa tidak cumlaude
yang penting bisa selalu makan enak dan punya uang lebih
di kemudian hari'

Annisa Dina

Rabu, 08 Juni 2016

Commuter Line: A Ride Full of Social Phenomenon.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Halo, selamat datang di bulan Juni!
Selamat datang di awal bulan yang menawarkan sejumlah kebahagiaan;
kebahagiaan bagi pekerja yang rekeningnya kembali terisi
kebahagiaan bagi mahasiswa kedokteran yang akhirnya sudah bisa leha-leha!

Ya, I'm officially in my summer holiday.
(Indonesia has only two seasons, but ah nevermind!)
Sebenernya hari ujian terakhir adalah tanggal 21 Mei, tapi berhubung definisi libur gue adalah "sampai beberapa nilai yang penting diumumkan", maka Juni-lah yang menjadi liburan gue.

Ini adalah tahun terakhir gue dapet summer holiday yang sangat menyegarkan sekaligus sangat membodohkan (coba jelaskan gimana bisa ngga membodohkan kalau liburnya hampir 3 bulan) karena tahun depan niscaya gue sudah memasuki dunia per-koasan yang... Yah... Sepertinya akan bebas dari libur yang berkualitas macam ini.

Nggak terasa, gue udah 6 semester ada di bangku kuliah. Sebentar lagi semester 7 yang cuma diisi 2 blok, dimana 1 bloknya 7 SKS. Setelah menanggalkan 2 blok itu, gue akan ujian praktek exit dan kalau lulus gue akan disuruh janji koas -- dan tentunya, wisuda -- karena gue secara sah sudah menamatkan S1.

Masih segar di ingatan gue, gimana waktu itu gue yang masih semester 1 curhat disini bahwa kuliah itu bebas tapi membingungkan, tapi toh tetap gue jalani dengan penuh excitement ala-ala mahasiswa kedokteran baru, dengan sejumlah idealisme pengen punya penelitian yang melibatkan dokter-dokter hebat, pengen spesialis kalau bisa lengkap dengan gelar doktor. Sekarang, gue adalah seorang mahasiswa semester 6, yang menyadari bahwa gue punya cinta yang lain, yaitu menulis, dan rasanya sayang kalau nggak gue terus lakukan dan kembangkan -- dan gue menyadari bahwa scientific writing rasanya tidak akan pernah seindah dan sedominan ini ada di hati gue dibandingkan creative writing atau, ngalor-ngidul writing done in this blog.

Nah, gue menolak pernyataan bahwa gue men-downgrade mimpi gue.
Gue tidak men-downgrade mimpi gue -- I'm just finding who I really want to be.

Intinya I just tought that writing is one of those things I want to bring with me through the life.

*membaca ulang intro*
*kemudian menggaruk-garuk kepala*

Aduh.
Kebiasaan baper di intro, maaf.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Biasanya, pikiran sejenis inilah yang suka muncul di pikiran gue kalau gue naik commuter line.
Sejenis pikiran jam 12 siang saat commuter line sedang sepi dan gue bisa duduk tenang.
Poin plus kalau gue naik commuter line trayek Kota- Bogor -- karena pemandangan sepanjang rel bisa bikin pikiran jadi melantur.

Entah kenapa gue suka sekali dengan Commuter Line sejak pertama kali naik, waktu SMP, kisaran tahun 2007-2008. Waktu itu, tiketnya masih pakai tiket kertas, yang harus ditunjukan ulang ke pegawai yang suka ngecekin tiket di dalam kereta. Jadi kalo tiket itu raib sebelum di-cek petugas, ya wassalam. Dulu, commuter line sepi bukan main, apalagi siang-siang, karena belum populer -- dan goyangannya selalu nyaman, belum lagi super dingin. Dari Stasiun Tangerang ada kereta yang langsung ke Kota, sehingga tiap nyokap mau ke Mangga Dua, pasti gue dengan semangat ikut saking pengennya naik Commuter Line. Inget banget, setiap kereta berhenti di Kampung Bandan, pasti ada sejumlah pengamen yang naik -- kadang ada yang bawa biola dan cello (cello, iya biola yang besar itu). Rata-rata, pengamen yang masuk ke kereta adalah pengamen yang enerjik dan memang musiknya effort banget. Bukan cuma kecrek-kecrek seadanya, tapi literally performing.

Perjalanan dengan Commuter Line semakin sering gue lakukan di kelas 3 SMP -- tujuannya ya ke Kota Tua. Kawasan Kota Tua, untuk gue yang masih SMP waktu itu, adalah salah satu tujuan wisata yang terempuk untuk dikunjungi, selain aksesnya mudah cuma pake Commuter Line, turun di Stasiun Kota, tinggal jalan sebentar, Kota Tua juga nggak minta banyak budget. Segala macem museum bisa dikunjungi dan murah -- bahkan gratis untuk Museum Bank Indonesia. Kota Tua adalah tempat wajib kunjung buat anak SMP di zaman gue -- gak gaul kalo belom ngebolang ke Kota Tua. Kira-kira, sampe SMA kelas 1 gue masih hobi ke Kota Tua, tapi seiring waktu Commuter Line semakin ramai dan kita harus mengakali jam pulang kerja.

Perjalanan dengan Commuter Line jarang gue lakukan di sisa-sisa masa SMA, tapi di akhir SMA menjelang kuliah, Commuter Line jadi transportasi sehari-hari ke Depok. Saat itu, Commuter Line ticketing-nya udah pakai tap kartu dan gue sempet kaget (karena udah lama nggak naik Commuter dan tiba-tiba udah ada transisi dari tiket kertas konvensional menjadi kartu) dan sempet capek karena perubahan trayek dan keharusan untuk ganti-ganti kereta, belum lagi Commuter Line semakin beken dan jadi rame banget di jam pergi dan pulang kerja.

Momen ternyesek saat naik Commuter Line adalah waktu itu...
Pas masih sering ke Depok tahun 2013 -- pas banget bulan puasa, gue pulang dari Depok jam setengah empat. Waktu itu gue masih bodoh sama trayek dan tujuan kereta versi terbaru. Gue main naik aja kereta dari Bogor, intinya ke arah Jakarta-Tangerang lah. Gue gak crosscheck lagi kereta itu stasiun akhirnya kemana -- harusnya gue naik yang ke arah Duri. Walhasil. gue baru sadar ketika jam 5 kurang dan gue sedang melihat matahari remang-remang di Monas.

"Gue kok kayaknya tadi pagi gak lewat sini..."

Ternyata kereta yang gue naiki adalah yang ke arah Kota dan gue langsung meloncat keluar di Gondangdia. Saat mengincar kereta balik ke arah Manggarai, gue baru percaya bahwa rush hour di Jakarta bukanlah bohong belaka -- berpepesan dengan orang asing, saking dempetnya sampe nggak perlu pegangan itu benar adanya. Gue bertahan sampe Manggarai dan lanjut naik kereta ke Duri, dan sampe Tangerang jam setengah 8 malam. Itu adalah ternaas gue naik kereta -- mostly karena gue reckless dan malas bertanya. Gue akhirnya cuma bisa liatin orang buka puasa di kereta sementara gue lupa beli minum buat batalin puasa. Emang, malas bertanya bikin sesat di jalan.

Setelah kejadian itu, gue masih tetap mencintai Commuter Line -- bahkan setelah tahu rush hour-nya yang begitu menyiksa, setelah beberapa kali kehilangan kartu, dan ditahan di Stasiun Kota karena kartu Flazz nggak bisa tap out akibat gue lupa memperkenalkan kartu gue ke mesin tap di stasiun awal. Gue akan terus menggunakan Commuter Line karena Commuter Line menyajikan pemandangan dan suasana yang nggak bisa ditemukan kalo gue naik kendaraan lain. Selain itu, fenomena sosial yang terjadi di atas Commuter Line unik-unik.

So, jump into my mind, shall we?

Neng, ikut Abang naik Komuter yuk!

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semua jenis manusia ada
Commuter Line adalah salah satu transportasi yang biayanya murah. Gue naik kereta dari BSD sampe Bogor yang paling ujung aja cuma sekitar Rp 7000,00 -- kalau pake kartu harian, biaya kartu Rp 10.000 + Rp 7000,00 -- seharusnya bukan moda transportasi yang mahal jika dibandingkan dengan bis AC, hal ini yang membuat semua jenis manusia ada di Commuter Line -- mulai dari kaum pekerja yang sibuk dengan earphone di telinga, muka yang ditutupi masker, kadang juga nggak berhenti-berhenti ngeliatin hp yang batrenya udah dicharge, sehingga jam 8 malam pun batrenya masih penuh, ditambah lagi dengan kaum mahasiswa yang kerjanya baca selembaran kertas kalo masa-masa UTS, kadang malah ada yang sambil buka laptop kalau suasana Commuter Line cukup kondusif. Nggak lupa juga kalangan anak-anak sekolah, anak-anak main, ibu yang membawa anak banyak, sampai lansia.

Intinya, semua jenis manusia dari semua range umur dan tingkat sosial ekonomi ada di atas Commuter Line karena Commuter Line cakupannya luas, murah, cukup nyaman (dalam jam-jam tertentu), dan bersih (ini patut dikasih 4 jempol -- ditambah jempol orang lain kalo bisa).

Ujian moral
Naik Commuter Line itu memberikan banyak ujian moral. Pasti setiap orang yang pernah naik Commuter Line pernah merasa capek banget sama kehidupan dan rasanya pengen banget dapat duduk di Commuter Line terus duduk sambil dengar musik -- syukur-syukur kalo bisa tidur. Buat gue, dapet seat di Commuter Line itu adalah salah satu karunia Tuhan yang luar biasa, apalagi setelah seharian capek, plus kalo itu di rush hour.

Terus gimana kalo pas lagi enak-enak duduk sambil denger musik, tiba-tiba di beberapa stasiun berikutnya ada orang yang bawa anak kecil dan butuh duduk, sementara lo lagi pewe banget? Apakah lo akan pura-pura tidur? Nutup muka sambil berharap ada orang lain yang rela ngasih tempat duduk untuk orang itu? Nah, pergolakan batin deh ah.

Malaikat berbisik,
"Kamu jangan pura-pura nggak liat. Ayo berdiri, kasih, apa ruginya sih memberi?"
Setan berteriak,
"Yaudah sih, lo kan lagi capek -- you deserve a seat! Lagian ini bukan kursi prioritas kok!"

Disitulah moral lo dituntut untuk memilih, mau lanjut pura-pura tidur dan membiarkan orang lain bertindak atau dengan penuh kerelaan melepaskan karunia Tuhan tersebut untuk orang lain yang lebih membutuhkan -- dan mendapat karunia Tuhan dalam bentuk lain yang seringkali tidak diperhitungkan: senyuman orang yang dikasih tempat duduk.

Ujian kesabaran
Emang naik Commuter Line penuh ujian dan tempaan kadang-kadang, tapi dari situ ada sedikit pelajaran untuk lebih memanusiakan kita. Selain ujian moral, ada juga ujian kesabaran terutama kalau kamu harus lewat Stasiun Manggarai dimana kadang kereta bisa berhenti lamaaaaaaaaa banget. Anggep aja kalo kamu kuliah di UI, kesiangan, dan ada UAS -- kebayang dong gundah gulananya nungguin kereta boleh masuk Stasiun Manggarai?

Pernah suatu hari gue mau ke Bogor. Gue udah tidur-bangun-tidur beberapa kali belom jalan juga dari tempat semula. Lain kesempatan, gue udah selesai ngerangkum 1 presentasi Power Point saat kereta akhirnya diperbolehkan masuk ke Stasiun Manggarai. Manggarai, oh Manggarai, ada apa gerangan?

Saking akrab sama Stasiun Manggarai sampe gue tau gambar clueless ini adalah Stasiun Manggarai.

Selain itu, momen sabar di Commuter Line adalah saat lo akhirnya dapet duduk di Commuter Line walaupun agak sedikit berdempetan dengan orang lain. Tiba-tiba kereta berhenti di salah satu stasiun dan masuklah seseorang. Dia melihat celah di antara lo dan orang sebelah lo, walaupun celah itu cuma sekitar 5 cm. Begitu ia melihat celah tersebut, dia langsung mengeluarkan manuever "butt-first" landing di celah 5 cm itu sambil bilang "Misi ya" atau kadang "Geser dikit dong". Intinya sih maksa duduk padahal lo dan orang-orang sekitar udah merasa kurang nyaman sekalipun tanpa dia. Biasanya pelakunya adalah kaum yang sama dengan yang suka dimasukin Dagelan karena suka pasang lampu sign ke kiri padahal mau belok ke kanan.

No offense, still.



Wanita bukan kaum lemah
Mungkin poin ini akan sedikit terlihat ofensif, tapi percayalah, ini hal yang sering gue amati di Commuter Line. Untuk orang-orang yang masih suka menganggap remeh perempuan, gue dengan sangat senang mengundang mereka naik Commuter Line.

Di Commuter Line, gue sering melihat ibu-ibu terutama yang abis borong barang di Mangga Dua atau Tanah Abang bawa belanjaan segede-gede umat yang bisa dia duduki kalau emang nggak dapet tempat duduk. Belanjaan segede umat itu di bawa sendiri -- tanpa bantuan lelaki. Kadang ibu-ibu yang berbelanja ini suka bikin geng gitu terus bawa belanjaan bareng-bareng.

Di jam-jam rush hour, lo juga harus merasakan berdesakan masuk atau keluar dari/ke gerbong wanita karena perempuan-perempuan ini powernya luar biasa kalau masalah keluar masuk gerbong kehormatan ini. Kadang, ketika orang belum selesai keluar dari kereta, kaum-kaum ini sudah mendesak lo dari belakang untuk buruan masuk ke kereta. Sebenernya, budaya seperti ini harus dikoreksi sih, soalnya bahaya banget dorong-dorongan -- kayak tawuran aja gitu. Kurang anggun juga nggak sih?

Tapi apa coba yang nggak dilakuin demi dapet tempat duduk di Commuter Line?

Makanya, kadang gue prefer naik di gerbong campur apalagi kalo rush hour karena gue orangnya slow banget, jadi daripada bikin orang sebel terus gue ditenggelamkan dalam lautan manusia, mendingan gue menyingkir aja gitu...

Geng Kereta
Masih lekat di ingatan gue waktu sering naik dari Stasiun Tangerang jam 6 pagi, terutama kalo di gerbong wanita -- suka ada segerombolan ibu-ibu dengan umur dan kenampakan bervariasi (menandakan bahwa latar belakang pekerjaan mereka berbeda satu sama lain) yang entah bagaimana bisa, saling kenal, dan suka saling tag tempat duduk di kereta. Canggih, satu tempat duduk panjang bisa saling kenal dan ngobrol dengan akrabnya. Kalau ada temennya yang masuk lagi di stasiun selanjutnya, maka mereka akan saling menyapa dan berdempetan supaya temannya bisa duduk. Kadang juga, salah satu di antara mereka ada yang bawa bekel lalu dibagi-bagi ke temen se-geng-nya. Mungkin inilah yang disebut solidaritas saudara seperkeretaan.

Pre-Order
Masih berkaitan dengan solidaritas saudara seperkeretaan, kadang naik Commuter Line bisa disambi dengan berbisnis. Caranya mudah, cukup kenalan dengan orang-orang di kereta, menawarkan produk (biasanya makanan), lalu kalau suka transaksi bisa di atur.

Lagi-lagi fenomena ini terjadi di Stasiun Tangerang; gue ngeliat seorang ibu-ibu ngasih makanan bungkusan ke orang lain dan dikasih duit sama orang yang dikasih makanan tersebut. Terus gue liat yang lain menimpali "Makasih ya Bu, nanti saya pesen lagi!". Kejadian ini berlangsung awal-awal masih kuliah dan merupakan bentuk konvensional dari sistem pre-order yang sekarang sering banget ditemukan di Instagram.

Sejuta cerita dari sejuta strangers
Kalau commuter line kondisinya sedang kondusif dan suasananya sedang syahdu, biasanya suka banyak oknum yang menceritakan cerita hidupnya. Hal ini sering terjadi, baik pada gue, atau kepada orang lain -- dimana ceritanya kedengeran sama gue, bukan karena gue nguping tapi karena emang kedengeran. Banyak cerita senang, sedih, mengharukan, memilukan, memusingkan, dan kadang membuat lo ingin pindah gerbong saja untuk mencari ketenangan.

Tapi hati-hati, sekali gue pernah denger seorang nenek-nenek cerita sama gue. Nenek-nenek ini sendirian, naik dari Stasiun Tanah Abang dan duduk di sebelah gue. Kemudian dia menyapa gue dan gue balas dengan senyuman (daripada dibalas dusta, ya kan?). Nenek-nenek ini cerita ke gue A-Z mengenai kehidupannya, mulai dari gimana dia bisa di Jakarta, cucunya durhaka, dia sedih, sampe akhirnya curhat dia mau kemana dan ngga punya uang lagi -- ujungnya gue merasa ditodong karena dia mendempet-dempet gue dan menyodorkan tangan sama gue. Akhirnya karena merasa gak enak dan kepalang basah terjebak dalam posisi tersebut, dan diliatin orang-orang... Gue kasih beberapa. Awalnya doi kurang puas tapi gue bilang gue cuma punya segitu, kan gue pakai kartu Commuter Line jadi ngga perlu bawa cash. Akhirnya dia pergi dan gue liat dia duduk di gerbong lain sambil menghimpit orang selanjutnya.

Ah, ini sih dibalas dengan dusta beneran.

Pemandangan dan suasana spesial
Soal pemandangan dan suasana, Commuter Line punya beberapa poin yang memenangkan hati gue -- terutama kalo soal pemandangan trayek Bogor - Kota. Pemandangan dari rel yang ada di ketinggian, seperti di Monas dan Gondangdia, selalu bisa bikin hati gimana gitu. Mungkin apa yang gue rasakan beda dengan yang dirasakan pekerja Ibu Kota yang pulangnya selalu naik trayek ini, tapi for me, it's a kind of thing.

Foto ini di ambil kira-kira tahun 2014 dan bertepatan dengan momen HUT Republik Indonesia -- sayang banget benderanya ngga berkibar full. Kurang jago aku, kak.



Selain itu gue juga suka Stasiun Kampung Bandan. Iya, yang stasiunnya ada di in the middle of nowhere... Kehalangan ilalang-ilalang dan dari kejauhan bisa liat Alexis dan gerbang Ancol, juga bisa liat ITC Mangga Dua.

Tentu saja yang membuat gue suka sama Stasiun ini bukanlah karena bisa liat Alexis dari kejauhan, sungguh bukan. Suasananya yang tenang dan menurut gue stasiunnya artistik, itu yang jadi alasan gue suka sama stasiun Kampung Bandan. Entahlah, some people tell me I have weird preferences sometime...



Tapi, kalo soal artistik, tentu yang paling memenangkan hati ya... Pasti Stasiun Kota. Stasiun tua banget ini, udah sepuh. Opa dari segala stasiun yang masih berdiri sampai sekarang dan bentuknya masih dipertahankan. Berasa balik ke zaman dulu rasanya kalo masuk ke stasiun ini. Suasananya adem, mungkin juga disponsori dengan langit-langit yang tinggi sehingga sirkulasi lebih bagus.

Di sini, banyak kejadian-kejadian aneh yang pernah gue alami deh pokoknya. Mulai dari ditahan di pintu keluar karena Flazz gue gagal tap out (my fault, karena gue nggak mengenalkan Flazz gue ke mesin di Stasiun pas tap in), sampe berkeliling stasiun galau mau naik kereta atau naik busway aja saking kesorean dan waktu itu masih takut sama rush hour sampe diliatin satpam dikira anak hilang (waktu itu gue masih kurus sehingga dikira anak kecil).





-----------------------------------------------------------------------------------

Jadi...
Jadi...
Kamu kapan jadi sama dia?

Eh salah.

Jadi, itulah alasan kenapa gue suka sama Commuter Line. Selain murah, nggak macet (ya iyalah orang dia sendiri yang pake rel -- kecuali di deket Manggarai yha!), dan nyaman maksimal di saat-saat tertentu, Commuter Line menawarkan banyak hal untuk diobservasi khususnya buat gue, orang yang suka mengamati hal-hal yang sebenernya nggak perlu diamati banget. Gue selalu merasa menjadi bagian sebuah proses modernisasi ketika naik commuter line karena orang-orang di negara maju sana menggunakan kereta sebagai moda transportasi utama dan di satu sisi, selalu merasakan atmosfir yang beda dan sedikit bau-bau kemelankolisan dibalik goyangan gerbong yang dipadu dengan pemandangan di luar jendela, ditambah sedikit musik di telinga.

Sekali lagi, yang gue tulis di atas mungkin bersifat agak ofensif buat sebagian orang, but I think that's what I observed in real world. Please don't mind because I don't really mean to offend people. Tapi, alangkah baiknya kalo kita bisa terus melakukan perbaikan supaya Commuter Line lebih nyaman bahkan di rush hour sekalipun, iya apa iya?

Salam solidaritas saudara seperkeretaan.

Love,

Your writer

Minggu, 24 April 2016

Dina's Arabian Nights

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Selamat malam semuanya. Hope you're doing well, especially di tanggal tua seperti ini.
*melihat dompet*
*isinya struk semuanya*
*struknya isinya beli aqua sama promag*
*nangis*

Jadi adalah sebuah keajaiban gue memiliki niat  untuk ngepost dalam waktu berdekatan. Keajaiban ini disponsori oleh selesainya satu beban gue karena udah selesai ujian presentasi keluarga binaan dan juga sebagai buah kebingungan gue mau belajar apa karena materi blok ini banyak. Daripada grumpy dan ngalor ngidul terus -- awalnya buka google buat cari anatomy of nose, jadi nonton anatomy of hell, dan awalnya buka youtube buka cari video fisiologi voice-box, ujungnya jadi nonton The Voice -- sudahlah, gue lebih baik melakukan sesuatu yang produktif seperti menulis blog.

Jadi, dalam durasi 3 bulan keabsenan gue dari blok ini, nggak banyak hal yang bisa diceritakan -- tapi bukannya nggak ada sama sekali, sih. Jadi intinya, 2 bulan lalu (oke basi banget), gue abis diekspor ke suatu negara yang masya Allah, muka semua penduduk laki-lakinya beda tipis sama Zayn Malik, bikin pengen nyanyi Pillowtalk terus.

Ialah Saudi Arabia, tempat persinggahan gue selama kurang lebih 9 hari -- tempat yang selama ini cuma gue liat di atlas dunia atau paling banter ngeliat di sejadah. The journey was out of the blue, actually, but it had been done. The journey itself left more trails in my soul rather in my eyes -- there were lots of thoughts crossing my minds and I couldn't focus on my sight, because my heart was lots opened than my eyes, there.

Saking out of the blue-nya perjalanan ini, gue packing 1 malam sebelumnya dan melupakan banyak hal untuk dibawa, termasuk kamera yang appropriate. Biasanya gue akan bawa kamera edisi perjalanan gue, Nikon, tapi karena kemarin motivasinya ke Arab adalah untuk ibadah, jadilah gue cuma bawa kamera digital kecil Sony, yang resolusinya jauh lebih kecil. Gue nggak mengira bakal banyak hal yang gue miss disana -- dan gue menyesal kenapa nggak bawa kamera yang lebih bagus. Di luar dugaan, Arab di bulan Februari udaranya nyaman dan sangat cocok untuk berpergian dan scenery-nya lebih bagus dari yang gue duga -- Arab is more than a qibla of a religion, a home of billion souls, and a ground of Moslem tears... It is naturally gorgeous!

Jadi singkat cerita, gue flight ke Arab sekitar 9 jam (well, I guess more) dan mendarat di Jeddah dengan selamat. Waktu itu jam 3 sore di Jeddah dan walaupun matahari sedang cerah-cerahnya, udaranya sama sekali nggak panas. Dari Jeddah, gue cao ke Madinah Al Munawarrah, the city of lights-nya Arab (eh ini beneran loh, bukan gue yang ngarang) dengan bis selama 6 jam. Hawa Madinah bikin menggigil serasa di Puncak, karena memang letak geografisnya yang berada sekitar 620-an mdpl, lumayan tinggi kalau dibanding dengan Mekkah dan Jeddah yang kira-kira cuma 200-an mdpl.

Berada jauh sekali dari rumah, jujur, adalah hal yang kurang nyaman -- despite all the given facilities. Jam 3 pagi, gue bangun dari tidur dan mengintip ke jendela, melihat orang-orang sudah keluar, di jalanan, ngobrol, dan berjalan ke arah masjid Nabawi, yang nggak jauh dari hotel. Jam setengah 4 pagi, gue ikut membaur dengan kerumunan orang yang berjalan satu arah -- semuanya ke masjid. Jam 4 disana dikategorikan sebagai "a bit late to go to mosque" dan jam setengah 5 kesana, you shall pray outside. Agak sedikit terkesima juga -- karena sebagai orang Indonesia, gue jarang melihat orang yang sebelum shalat iktikaf dulu di masjid sampai 1 jam sebelum waktu shalat. Maklum, ini pertama kalinya gue ke Arab.

Yang menarik dari fenomena shalat berjamaah, terutama di waktu subuh ini adalah kumpulan pedagang yang dagangnya bener-bener pagi banget dan semangat banget. Mereka akan buka warung jam 4 pagi atau malah lebih awal, ngemper menggelar pelataran dagangnya di jalan, menurunkan dagangannya dari kursi roda (yes, kursi roda!), dan mulai berdagang dengan semangat menggunakan separuh Arabian dan Indonesian language untuk menjerat pelanggan.

"Syahrini, dilihat dulu, Syahrini. Halal! Lima real, lima real, halal!"
"Assalamualaikum, Syahrini. Tiga lima belas real, halal!"

Dagangan yang dijajakan bervariasi -- mulai dari gamis, pashmina, parfum, jam tangan, sampe cokelat. Semua seru berdagang -- setengah ricuh. Plus, gue sampe bingung, entah apa yang dilakukan Syahrini pada orang Arab sampe semua wanita Indonesia dipanggilnya Syahrini.

Keseruan berdagang ini semua akan berhenti mendadak begitu azan pertama berkumandang (ya, di sini azannya bisa 2 kali). Semua dagangan akan ditinggalkan, just like that, dan mereka akan berbondong-bondong ke masjid. Setelah sholat, tiba-tiba dunia yang mute akan di un-mute lagi dan kericuhan berulang lagi. Setelah kericuhan dan keseruan berdagang kembali, timbul keseruan lainnya -- yaitu saat trantib muncul. Semua orang langsung panik beresin dagangan, ukhti-ukhti berhijab hitam panjang bercadar membenahi dagangannya ke atas kursi roda dan berlari-lari mendorong kursi roda dengan paniknya sampe sepatunya kadang tertinggal.
Setiap hari ritmenya sama seperti itu di Madinah.

Satu lagi yang gue salut dari orang-orang Madinah, mereka ramah sekali. Pedagang terutama. Mereka salut dengan orang Indonesia yang bisa berbahasa Arab, walaupun mereka bisa bicara bahasa Indonesia, un petit peu (sedikit). Kalau mereka nemu yang bisa bicara bahasa Arab, nggak pelit, dan nggak liat-liat doang tapi memang niat beli, mereka akan kasih diskon yang baik atas nama brotherhood. Sebelum nawar dan sesudah selesai transaksi, selalu "Assalamualaikum". Hati wanita mana yang nggak teduh; udah ganteng-ganteng, ramah, setiap negur ngucap salam dulu, begitu kita ngomong bahasa Arab dikasih diskon pula. Duh!

3 hari di Madinah, ada beberapa hal yang gue highlight selain suasana berdagangnya sih, di antaranya adalah bagaimana suatu perasaan cinta dan kagum dapat menembus dimensi apapun -- contohnya kekaguman dan kecintaan muslim terhadap Nabi Muhammad, dan gue yakin ini applied di agama dan kepercayaan manapun terhadap sebuah figur yang lekat terhadap agama tersebut.

Gue berpikir dan belajar banyak hal dari pemandangan di sekitar -- dari setiap Al-Qur'an yang diciumi sesudah dibaca di waktu Subuh, dari setiap sujud di karpet hijau Rhaudah. dari setiap salam yang dilontarkan saat melihat kubah hijau -- dan sejauh apapun kecintaan dapat menembus dimensi-dimensi, doa dapat melaju lebih jauh dari itu.

Selain itu, di Madinah gue sempet ditahan masuk ke dalam masjid (oh God this is totally embarrassing, but I really didn't do anything!) karena pas inspeksi tas gue dapet penjaga yang ngerogoh tas gue sampe dalem banget, ibarat ngerogoh usus 12 jari lah pokoknya, dan menemukan ada tas kamera kecil yang nggak ada kameranya. Saat itu, kamera memang gue tinggal di hotel dan tasnya tertinggal dalam tas gue. Gue sampe disuruh balik lagi dan akhirnya masuk lewat pintu lain yang penjaganya ngga terlalu strict dan itu tas kamera gue kantongin aja dalem celana. Sampe di Arab pun gue masih kontroversial ya.

Yang ketiga, yang paling berkesan dari Madinah buat gue adalah, burung daranya! Super banyak, super indah, dan super capture-able -- but not with the camera I brought :( Gue nggak menyangka di Arab burung daranya seindah dan se-instagrammable gitu, sehingga tertimbunlah penyesalan gue ngga bawa kamera yang descent. Gelar pemandangan burung dara terindah jatuh ke pelataran masjid Quba. Masjid ini warna putih, nggak terlalu besar, namun indah, dan banyak burung daranya! Serasa dreamy banget nggak sih.



Overall, Madinah is sure something for me. Suhu yang sejuk, atmosfir yang nyaman, orang yang ramah, udah ke Jabal Uhud juga, plus Masjid Nabawi yang luar biasa indah. Masjid Nabawi bener-bener terbagus lah. Jujur kulebih suka arsitektur masjid ini daripada Masjidil Haram, walaupun lebih sakral masjidil haram ya. Tapi mohon maaf nih -- ku ngga punya foto arsitektur dalam yang bener-bener baik karena memang ku ngga pernah bawa kamera ke dalam sana. Lah ntar kan ribet kalau ketangkep.







3 hari di Madinah, the journey must go on -- selanjutnya adalah ke inti perjalanan dan tujuan semua muslim kalau ke Arab: Mekkah. Perjalanan dari Madinah ke Mekkah kira-kira 6 jam dan gue hanya berhenti sekali di Masjid Bir Ali (another beautiful mosque!) untuk ambil miqat, itupun jaraknya 5 jam dari Mekkah.

Sampai di Mekah sekitar jam 9 malam -- Mekkah bener-bener satu hal yang berbeda dari Madinah. Suasananya, suhunya, pemandangannya bener-bener beda. Suasananya ya kayak di kota metropolitan gitu sih, penuh hiruk pikuk, banyak kendaraan juga. Suhunya hangat karena memang cuma 200 mdpl aja. Di Mekkah juga bisa lihat perumahan-perumahan sederhana sampai yang agak dibawah standar. Jarak dari hotel ke masjidil haram dekat, dan sampai sana, orang-orang langsung ibadah umrah.

Kompleks Masjidil Haram dan sekitarnya sedikit terasa seperti Jakarta karena memang dikelilingi gedung tinggi -- such as Zam-Zam Tower dan "Arabian Big Ben", Zam-Zam Clock yang indah di malam hari. Masjidil Haram walau arsitekturnya nggak se-mengagumkan Masjid Nabawi, tetap masjid termegah, terbesar yang pernah gue masuki. Di Istiqlal aja gue nyasar gimana gue sendirian di Masjidil Haram...

Masjidil Haram selalu penuh dengan kemungkinan ramai dan gue nggak berdaya aja kalau kesana lagi rame-ramenya. Jadi, kalau misalnya pengen kesana, gue akan nonton siaran live Kabah dari tv, menakar apakah segitu rame atau nggak, dan kalau gue rasa nggak rame, gue akan kesana. Biasanya jam nggak ramenya adalah jam 10-12 malam, jadilah jam segitu gue "bertamu" ke rumah-Nya. Basically memang lebih bagus kalau ke sana nggak pake nakar-nakar rame atau nggak, cuma gue rasa, tetap suasana yang lebih sunyi dan lebih tenang itu, pastinya lebih khusyuk. Tapi tetep sih, rame atau nggak, I always felt some kind of chills down to my spine when I saw the holy black box where billions souls face their tears to:


Selain bertamu setiap malam, gue juga ke beberapa tempat lain sih, misalnya ke Jabal Nur dan Jabal Tsur (Jabal = Gunung), Padang Arafah, dan ngelewatin spot-spot haji lainnya. Tapi, tetep, yang berkesan buat gue adalah Padang Arafah, mostly karena cerita dibaliknya sih.

This is according to Islam's culture and story and no offense to other version of stories from the point of view of other beliefs ya...

Jadi, setelah Adam dan Hawa jatuh ke bumi, mereka terpisah jauh. Bertahun-tahun dihabiskan dengan kesendirian dan pencarian, sampai akhirnya malaikat Jibril memberitahukan mereka untuk berjalan ke suatu arah, yang di ujungnya ternyata mempertemukan mereka. Akhirnya, di Padang Arafah, mereka bertemu dan kata-kata yang pertama di ucapkan oleh Hawa begitu melihat Adam adalah "Arafa ya'rifu" atau kalah diterjemahkan kira-kira "I know you". Setelah itu mereka berdua berdoa disana agar tidak pernah dipisahkan lagi.

Masya Allah, what a romance.


Jadi setelah sekitar 4 hari berada di Mekkah, gue turut menyadari banyak hal sih -- since it is more about belief, I don't have much thought to say here. Tapi memang, beda deh antara Mekkah dengan Madinah. Orang-orangnya berbeda, crowdnya berbeda, namun intensitas kesejukan rohaninya memang lebih besar. Di sana kamu bisa lihat kesenjangan tipikal perkotaan-perkotaan dan kendaraan yang berlalu lalang, nggak kaya Madinah yang lengang.

Dari Mekkah, gue berangkat ke Jeddah dan sampai dalam waktu 1-2 jam kira-kira. Deket ya ternyata, jadi kemaren ke Madinah itu ibaratnya kayak muter jauh banget. Maka, pemandangan terakhir yang gue lihat sebelum pelataran Bandara King Abdul Azis adalah rumah-rumah mewah dan pertokoan elit di Jeddah (lewat doang, masuk sih nggak) dan pesisir Laut Merah yang warna birunya luar biasa cantik, lengkap dengan masjid terapung. Karena durasi, maka gue nggak turun dan hanya lewat aja naik bis -- sempet foto sih, cuma you know my cam lah -- nggak bisa diburu-buru dengan speed di atas bis, jadinya blurrr semua.

Jadilah gue ber-assalamualaikum ria dengan Arab setelah dengan tentram menghabiskan waktu 9 hari disana. Pulangpun masih terjadi kehebohan karena setelah 30 menit mengudara, pesawat terpaksa balik lagi ke Jeddah karena alasan medical condition beberapa penumpang -- tapi alhamdulillah, aku sampe dengan aman sentausa di Indonesia dan pulangnya langsung makan sop. So happy -- karena sefancy apapun liburanmu, seindah apapun, nggak akan senyaman rumah, dan tujuan traveling itu sendiri adalah mengingatkan bahwa rumahmu pantas untuk dirindukan, se-tidak sempurna apapun ia.

Jadi, inilah kompilasi foto-foto yang berhasil terselamatkan dari ke-blur-an:




I am looking forward for a chance to re-visit Arab, with a better soul and also with nice traveling mate!
Semoga di masa depan masih bisa menjelajahi Arab sebagai destinasi baik wisata mata (hati) dan wisata mata (fisik). Aamiin!

Love,
your maybe-she's-a-sassy-one-she-posted-about-this-when-people-had-visited-this-so-many-times writer

Hehe!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.