Jumat, 12 Juli 2013

A Poem You May Consider as... Fanatical?

Kasih,
masih?
Tatapanmu terpatri pada ia yang terbagi,
lagi-lagi kau merugi,
jiwamu terpancang pada hidupnya,
detak napas dan salamnya.
Ia tak kuasa membantah
lebar jurang hatinya membelah.
Tak kuasa memilah
rasa untukmu dan yang lainnya.

Kasih,
seperti Tuhan ia berikan harap.
Kau megap bahagia lalu tiarap,
tersungkur, meratap.
Siapa saksikan duka?
Orang yang tak kau harap,
terus menerus coba balap
hati yang kalap.

Kasih,
darahmu berdesir,
jiwamu ranum hidup dalam sapanya.
Aku siapanya?
Hanya menatapmu dengan tanya
dengan khayal yang tak dinyana
sangat tak nyata.

Kasih,
aku termangu pilu,
lidahku terkatup kelu.
Masa berlalu, gravitasi menderu,
menghantamku penuh dendam
kedalam kenyataan penuh sedu sedan.
Perasaan yang kupendam
terendam dalam
sahut menyahut asa dan keputusasaan dalam.

Kasih,
Si Cantik termangu memilih,
kau menyimak lirih,
ia yang lain apakah terpilih.
Aku di sini memilin hati,
entah kapan kau sadari.

Kasih,
jika lukamu sakit tak terperi,
aku tak akan lari.
Bilamana hatimu menjerit,
meradang,
mendendam,
aku akan mendengar.
Jika cintamu hilang,
'kan kuungkap aku bukan bayang.

Kasih,
biarpun kau cinta ia sampai kenyang,
aku di sini mengunci sayang.

"Kasih" - Annisa Dina, 12 Juli 2013.

Sejelek dan sengalor ngidul apapun, dilarang mengutip, menjiplak, kecuali kalo mau diterbitin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar