Kamis, 31 Desember 2015

In The Waterland of the Queen: Pelabuhan Ratu

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Selamat malam semuanya!

Jadi…
Karena ini adalah liburan, maka gue memutuskan untuk mengepost sebanyak mungkin, sebanyak yang gue mampu, untuk menebus kekosongan selama 6 bulan terakhir. Kalau buat orang-orang yang terpaksa begadang, hal seperti ini dinamakan "tidur balas dendam membabi buta" -- jadi anggap saja, gue sedang "menulis balas dendam membabi buta".

Anggap saja di hari ini writing is a sport, Dina.

Jadi… Di post sebelumnya (scroll kebawah ;)), gue membuat statement bahwa selama 6 bulan terakhir gue tidak punya liburan yang adekuat. Nah, di bulan Desember ini, saat segala macam hal-hal kuliahwi sudah selesai (ujian blok, sidang penulisan ilmiah, acara kumpul fakultas), akhirnya gue berkesempatan untuk gantung semua jas lab dan tas kipling super besar yang biasa gue bawa ke kampus, dan gantian menggantungkan tas kamera di leher. Waktunya rekreasi!

Yang dipilih menjadi destinasi wisata kali ini adalah Pelabuhan Ratu. Pelabuhan Ratu dipilih karena budget terbatas (lagi-lagi masalah budget), waktu yang sempit, dan cuti sebagian anggota keluarga yang tidak di-approved, plus -- dadakan pula. Nggak sempet ngurus ke travel supaya dikasih opsi kegiatan yang banyak dan berakhir diurus sendirian.

Ini kali pertama gue ke Pelabuhan Ratu. Sebelumnya, Pelabuhan Ratu cuman gue denger selentingannya dari acara-acara misteri yang membahas kamar hotel spesial Nyi Roro Kidul -- yang tiap malem Jumat tiba-tiba secara misterius kamarnya berantakan lah, ada suara-suara lah. Selebihnya, yang gue tahu Pelabuhan Ratu ada di Sukabumi, jalannya lumayan jauh, bisa ditembus lewat Bogor atau lewat daerah Lebak, dan yang sering gue denger juga adalah keindahan pantai Ujung Genteng, yang biasanya sepaket dengan tour Sawarna.

Gue nggak banyak prepare karena nggak tau apa yang harus diekspektasikan dari sebuah Pelabuhan Ratu. Mungkin yang bisa diekspektasikan dari Pelabuhan Ratu adalah kulinernya dan BBQ-nya… Karena memang dekat laut sehingga komoditas utamanya adalah seafood. Mungkin juga yang bisa diekspektasikan adalah keindahan pantainya yang langsung dilapisi siluet pegunungan. Sepanjang jalan gue mikirin apa sih yang bisa gue ekspektasikan dari Pelabuhan Ratu dan sibuk browsing-browsing juga.

Perjalanan ke Pelabuhan Ratu sendiri cukup menyiksa batin. Karena gue pergi hari Sabtu dan kesiangan, maka gue terjebak macet di tol Jagorawi dan juga di Cibadak. Itu macet dari gue tinggal tidur sampe gue bangun lagi, masih disitu-situ aja… Belum lagi, karena Pelabuhan Ratu letaknya di selatan dan bersinggungan dengan pegunungan, maka karakteristik jalanannya relatif sama dengan jalur selatan di Pangandaran -- penuh lika liku, berbatasan dengan gunung, dengan kendaraan yang tidak tepat dan supir yang kurang handal, maka perjalanan tidak akan nyaman. Dan bener -- gue yang selama ini orangnya nggak mual, akhirnya tumbang juga di perjalanan.

Gue berangkat dari Jakarta pukul 9 pagi (which is menurut gue sangat kesiangan), terjebak di Jagorawi - Cibadak di siang hingga sore hari, dan sampai ke tempat tujuan jam 5 sore. Tapi sore di Pelabuhan Ratu sama sekali nggak jelek -- coba bayangkan, kamu ada di jalan berliku, disebelah kiri pantai, di sebelah kanan hutan -- matahari bersinar di atas laut, sinarnya oranye temaram, laut berkilauan, dan dilengkapi dengan teduhnya bayangan hutan. Sore di Pelabuhan Ratu rupanya boleh juga.

Ditambah lagi saat bis lagi melaju kencang-kencangnya, ternyata di pinggir pantai ada semacam pasar malam dan coba sekali lagi bayangin -- atraksi bianglala, dibelakangnya ada siluet laut dan sinar matahari yang akan terbenam. Beuh! Bagus banget kalo bisa difoto. Sayangnya, bis sedang melaju kencang, jalanan berliku penuh tikungan, cuman ada 2 lajur untuk 2 arah, dan nggak ada tempat menepi. Terlalu blurry dan ngasal kalau gue ambil dari bis. Jadilah, satu pemandangan bagus terlewatkan begitu saja… :(

Akhirnya, perjalanan berakhir juga. Gue rindu kursi yang bukan kursi bis. Gue rindu tidak berada di dalam sesuatu yang dinamis bergerak. Gue tiba di sebuah resort yang langsung menghadap pantai dan restricted access; pantai hanya boleh dijangkau residen. Karena saat gue datang matahari udah mulai tenggelam, sisa hari itu gue habiskan dengan istirahat dan wondering apa yang akan dilakukan 3 hari kedepan, di sini, di Pelabuhan Ratu.

Pemandangan menjelang sunset waktu pertama kali touchdown.

Paginya, gue bangun saat orang-orang belom bangun dan observasi di mulai.

Untuk selanjutnya, gue akan bahas dengan gambar, supaya bacanya nggak berat!






Ombaknya ngamuk...



Jenis pantai di bagian Selatan emang kayaknya khas -- ombaknya besar-besar dan bentuk ombaknya kayak ada 2 gitu lalu mereka saling bertabrakan, bikin ombak yang lebih besar dan keras. Pelabuhan Ratu ombaknya juga begitu -- cukup untuk bikin niat berenang surut. Tapi yang spesial dari Pelabuhan Ratu emang perpaduan batu karang tinggi yang bisa dipanjat dan siluet pegunungan Salak di kejauhan.

Hari pertama gue habiskan dengan mengagumi skyline Pelabuhan Ratu dan menelusuri pantai. Dari kejauhan terlihat kepiting-kepiting yang bergerak-gerak cepat menghampiri ombak seakan mau bunuh diri. Ngeliatin juga ombak yang meninggalkan lubang-lubang di pasir. Mempelajari kapan ombaknya akan saling bertabrakan -- kapan ombaknya sedang, kapan ombaknya besar. Mempelajari gulungan ombak. Gue observasi mulai dari matahari nangkring di awal hari, hingga air berubah menjadi gradasi biru-hijau toska di siang hari, sampai matahari terbenam lagi.

Kegabutan yang berkedok observasi ini cukup gue nikmati, karena pantai ini private sehingga nggak banyak yang lalu lalang. Mostly, hanya ada gue di pantai. Kapan lagi ke pantai sesepi ini? Momen ini nggak mau gue sia-siakan. Cara menikmati pantai versi gue adalah dengan berjalan-jalan sambil dengerin lagu.

Apa sih spesialnya denger lagu? Banyak. Mendengarkan lagu, apabila didengarkan di momen yang tepat, tempat yang tepat, atau dengan orang yang tepat, akan membuat sebuah lagu lekat di ingatan bahkan hanya dengan 2 detik intronya. Kalau beruntung semuanya serba tepat, akan ada sebuah momen dimana seluruh bulu kuduk lo berdiri, jadi merinding, dan agak light-headed. Gue pernah beberapa kali mengalami fenomena super luar biasa seperti itu saat mendengar lagu. Mungkin itu yang orang namakan eargasm.

Jadi... Ada 2 lagu yang mengantarkan gue ke eargasm tidak terlupakan di pinggir pantai. Nih, buat kamu-kamu yang mau coba eargasm di tepi pantai dan mau merasa jiwanya fulfilled lagi:

"Waves"-nya Magic Man
Kalo ngga tau kebangetan banget sih: "Wildest Dream"-nya
Taylor Swift!


Jadi begitulah kujalani satu hari penuh di pantai. Mengobservasi sambil mencari-cari momen eargasm. Tapi besoknya, gue butuh lebih dari sekedar eargasm moment untuk bertahan di Pelabuhan Ratu -- akhirnya gue mengutarakan ke pemimpin kawanan kalau sebaiknya kita punya destinasi lain supaya pulang-pulang kita nggak obesitas karena kurang kegiatan dan karena pemalasan berhari-hari, Gue menawarkan opsi Curug Cikaso yang banyak orang-orang bicarakan, namun sayangnya karena Curug Cikaso jaraknya sekitar 2 jam dari resort dan bus cuma untuk antar ke resort dan jemput dari resort untuk kembali pulang ke rumah, jadilah kendala di transportasi.

Di tengah kegalauan akan obesitas tersebut, akhirnya pemimpin kawanan bertemu dengan 2 orang anak muda lokal yang penampakannya anak pantai banget lah. Dari penampilannya keliatan banget mojang Pelabuhan Ratu-nya yang waktunya habis di pantai. Usut punya usut ternyata mereka udah biasa nganterin bule untuk cari spot surfing (Pelabuhan Ratu ternyata terkenal untuk surfing juga karena ombaknya) dan untuk outdoor activities lainnya, seperti snorkeling dan jetski, juga trekking.

Karena pada dasarnya keluarga gue orang yang sanggup trekking, akhirnya diputuskanlah acara selanjutnya adalah trekking -- kebetulan di dekat resort ada Curug gitu yang harus trekking. Memang nggak se-magnificent Curug Cikaso, katanya perjalanannya menantang. Jadilah, pengentasan obesitas dimulai.

Pemandangan pantai dari kejauhan (dan ketinggian)...










Terakhir kali gue trekking adalah tahun 2013, di Sawarna, Trekking gue di Sawarna medannya mostly merupakan tanah-tanah licin dan selain menyusuri hutan, menyusuri pantai, dan menyusuri sawah juga (nggak akan pernah gue lupa saat gue masuk kubangan isinya kotoran sapi yang fresh bercampur lumpur dan air) -- plus trekking tersebut unforgettable karena gue pakai sepatu yang biasa gue pakai kuliah dan pulang-pulang punggung kaki gue belang sebelang-belangnya... Hal yang gue sesali sampai sekarang.

Trekking kali ini dimulai dengan menerobos lingkungan perkampungan lalu masuk jauh ke dalam hutan. Awalnya hutan terasa biasa aja -- yaudah hutan, banyak pohon dan semak-semak, tapi lama kelamaan tanah yang ada di bawah kaki kok makin licin dan makin ngeselin. Belum cukup sebel, ternyata ada turunan yang maha turunan yang terbuat dari tanah merah super licin. Saking keliatan licinnya gue sampe masukin kamera lagi ke dalem tasnya. Orang-orang terngesot-ngesot dan menuruni turunan itu dengan bokong, sehingga belum ada 1/4 perjalanan menuju destinasi semua orang udah kumel.

Setelah turunan dari tanah merah super licin dan orang-orang terperosok, akhirnya medan mulai berganti rupa dari tanah menjadi air. Seperti yang bisa dilihat di gambar, medannya adalah air dan bebatuan yang udah nggak keliatan, nggak rata pula. Salah pijak bisa terjerembap. Seperti kamu, yang terjerembap dalam kisah lama lalu sakit sendiri... Eh. Oke salah fokus. Disini gue agak love-hate relationship dengan alas kaki gue: sandal -- disatu sisi, karena medannya berair, gue cukup senang pakai sendal, nggak masalah kalo basah, tapi di satu sisi, nyebelin juga kadang-kadang sendal gue suka lepas sendiri dan kebawa arus. Belum lagi kalau kaki nggak sengaja kegores. Tapi apapun alas kakinya, aksesoris pertama tetep aja kehati-hatian, bukan?

Akhirnya setelah medan berganti-ganti berkali-kali, terjerembap, kamera nyaris tercebur, tertinggal kawanan, hampir hilang sendirian, tersandung selang-selang air, dan digigitin nyamuk, gue tiba di destinasi. Destinasi kita adalah sebuah air terjun bernama Curug Cipunaga -- oleh karena itu, kita melintasi hutan bernama Hutan Cipunaga. Curug Cipunaga ini nggak sebombastis kumpulan Curug di Sentul ataupun temannya, Curug Cikaso, tapi masih jadi destinasi terselubung untuk bule-bule yang berkunjung.

"Bukan air terjunnya, Mbak, yang mereka cari, tapi perjalanan menuju-nya. Seru, katanya."

Iya, menilik apa yang sudah terjadi selama perjalanan, setuju deh sama kamu...



Butuh sekitar 45 menit trekking dari jalan raya menuju curug ini dan itu nggak sejauh waktu gue trekking di Sawarna yang sekali jalan aja bisa 1 jam setengah -- belom baliknya. Yang bikin ini lebih menarik dari Sawarna adalah medan-nya yang berair dan berbatu. Saat gue nyampe curug ini, tiba-tiba hujan lumayan deras. Nggak berasa, karena toh kita semua ada di bawah air terjun. Akhirnya, setelah menghabiskan setengah jam di air terjun (even di tempat destinasinya lebih sebentar dari perjalanannya), kita balik dan sebuah mimpi buruk menunggu.

Tadi, kita ngelewatin turunan bertanah merah superlicin. Itu waktu pergi. Kebayang dong waktu pulangnya -- turunan jadi tanjakan?

Jadilah di sana kita terngesot-ngesot, terperosok, terpeleset, terjerembap dengan nistanya sampai peluk-peluk pohon pisang, yang sialnya, nggak terlalu kuat. Marilah cerita perjuangan ini kita persingkat, intinya kita sampai ke jalan raya dengan sangat lusuh dan dari jalan raya masih harus jalan dan menghadapi tanjakan-turunan ekstrim untuk sampai ke resort. Kalo ada dari kalian yang berjalan di sekitar jalan raya Cisolok-Cisoka tanggal 21 Desember di siang hari, dan melihat ada cewek pake jaket national geographic dengan kondisi agak basah, lepek, penuh tanah, dan nyeker, itu berarti gue...

Besoknya, tanggal 22 Desember bertepatan dengan hari Ibu, gue balik ke Jakarta setelah menemukan spot rahasia di sekitar resort. Agak nekat sih memang -- tapi disini kita bisa lihat ombak dengan lebih dekat, secara lebih eksklusif dan lebih aman.



Akhirnya setelah diam-diam escape ke tempat itu, gue pergi meninggalkan Pelabuhan Ratu. Walaupun perjalanan ini nggak sesignifikan perjalanan lainnya, tapi tetap ada yang membekas di hati. Entah itu gaharnya ombak, kepiting yang berlari bunuh diri, siluet pegunungan di belakang lautan, atau eargasm dari musik di tepi pantai -- tapi ada sesuatu yang membuat gue merasa accomplishing something in this trip.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalanan pulang diwarnai dengan super mual 2015 di bis dan mogok 1 jam di pintu masuk tol. Nggak papa, yang penting pulangnya gue lewat flyover super menawan Kampung Melayu - Tanah Abang sambil memotret siluet gedung-gedung tinggi. Hal yang menyenangkan memang biasanya sederhana saja. Pulang dari Pelabuhan Ratu, rasanya bener-bener rindu rumah dan kamar sendiri. Rindu kaki yang bebas dari pasir saat masuk ke rumah, rindu tempat tidur yang nggak bercampur pasir. Memang itu fungsi traveling, kayaknya -- membuat kamu tahu dan menikmati rasanya 'pulang'.

See you again, maybe, eh, Pelabuhan Ratu?

Love,
Your eargasmic-at-the-beach kind of person,

Writer

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar