Kamis, 18 Agustus 2011

Abu-Abu yang Pudar, dan Abu-Abu yang Pekat. Merah, dan Putih,

Salam Merdeka! Hip Hip Hura!

Selamat hari ulang tahun yang ke 66 bangsa Indonesia.

Unbelievable rasanya ngeliat masyarakat masih bisa ngerayain HUT Indonesia dengan panjat pinang dan lomba makan kerupuk, dan anak-anak SMA masih bisa ikut-ikut konvoy keliling kota atas nama Kemerdekaan Bangsa Indonesia ditengah-tengah headline berita-berita
"Nazaruddin Pulang dari Bogota, Kolombia", "Nazaruddin Kirimkan Surat pada SBY", "Sejumlah Pejabat dalam 'Nyanyian' Nazaruddin" dan sejumlah headline berita lainnya yang menggambarkan betapa kocar-kacirnya kondisi Indonesia sekarang. Soekarno mungkin bisa harakiri kalo tau kondisi bangsa Indonesia sekarang *elusdada

But, how disaster our condition is, the meaning of this independence day is still more important.
Mungkin emang, kita sama sekali belum merdeka. Kita masih kerja buat orang-orang asing yang nanem saham di Indonesia atas nama "kerjasama Internasional". Kita masih bergantung sama karya-karya bangsa lain. Kita bahkan masih belum bisa ngurus bangsa sendiri. Tapi, let's believe on tomorrow.


Let's believe, if we can get better each day, tomorrow, the future will be so much fine.

Ditengah krisis "orang bersih", ternyata Tuhan masih menciptakan beberapa orang-orang yang setiap kita ngeliat mereka berbuat, pasti kita mengelus dada saking salutnya. Let me bring you this kind of people.

Suatu hari gua berdiri di bis, suntuk, ngantuk, capek, setengah ngedumel karna gadapet tempat duduk padahal kelopak mata rasanya lagi dijadiin tempat beranak paus. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu masuk, ibu-ibu tua yang harusnya menikmati masa-masa emasnya santai sambil minum teh di halaman belakang sama cucu-cucunya.

Tapi, ibu-ibu ini, bajunya compang-camping, kacamatanya gakeurus, mukanya capek dan dia tepuk tangan di bis sambil nyanyi lagu wajib. Abis nyanyi, dia jalan minta bayarannya. Saat ada seorang pelajar ngasih dia uang gope ke plastiknya, dia ngerogoh lagi kantongnya dan ngambil uang gope itu sambil bilang

"kamu pelajar, jadi tak usah ya. yang penting nurut saja sama orang tua".
dia senyum terus jalan lagi minta uang.

bandingin sama this kind of people.
Suatu hari gua lagi duduk di bagian belakang bis, dan ada pengamen yang nyanyi. Kondisi bis sepi, sampe akhirnya dia keliling minta 'honor'nya. Dan dia ngeliat ada pelajar yang asik ngetweet, dan dia sampe di sebelahnya. Pas dia nyodorin plastiknya, pelajar itu bilang "maaf". Dan dia tetep disitu. Nyodorin plastiknya. Pelajar itu bilang "maaf" lagi. Dan dia noyor handphone pelajar itu. "Bayar, bayar!" katanya.

Pelajar itu cengo ngeliat tingkah pengamen yang maksa. Galama, pengamen itu nunjuk kantong pelajar itu dan di dalem kantong itu ada selembar uang 20 ribu dan seribu. "Bayar, bayar!". Saking keselnya, pelajar itu setengah ngelempar uang itu dan bilang "Jangan maksa!".

Cuma pelajar itu yang digituin. Sementara, banyak orang lain yang ngeliat, banyak gentlemen di sekeliling pelajar itu, cuma mereka pura-pura ganyadar.

Rasanya makin banyak yang bisa bikin orang jadi jahat T-T
Globalisasi men, jamannya canggih. Minimal esia, maksimal iPhone segudang. Globalisasi men, jamannya konsumtif. Ini itu, beli. Globalisasi men, jamannya money talks. Apa aja bisa dilakuin pake uang, bahkan sekarang pipis aja bayar. Di tengah-tengah suasana Ramadhan yang harusnya tentram dan setan pada dikurung, manusia terhimpit juga sama harga-harga pra lebaran yang semakin naik. Kalo ekonomi labil, yang ikutan labil bukan cuma harga, tapi juga manusia-manusia -_-


Hidup itu memang panggung drama. Ada cengiran dan tangisan di setiap episodenya. Ada peran bagi semua pemainnya.

We can't say there's protagonis dan antagonis. Let's say abu-abu yang pudar, dan abu-abu yang pekat. Karena, gakaya di sinetron, di hidup kita gaada orang yang jahat banget sampe iblis aja kalah, dan gaada orang yang baik banget sampe buku dosanya berdebu gapernah ditulisin. Kita abu-abu. Putih dan hitam tiban-tibanan, saling bergulat.

Nazaruddin bisa aja ngegondol uang negara, tapi paling ga dia masih peduli sama anak istrinya, berharap mereka bisa hidup tentram karena semuanya emang salah dia. Tapi walaupun gitu, perbuatannya ngegondol uang negara tetep salah dan gabisa dibenerin sih -_-

Sama kayak slogan bangsa Indonesia, "Bhinneka Tunggal Ika", kita semua, manusia dari manapun tetep berbeda, tapi tetap satu. Ada yang abu-abu pudar, dan abu-abu pekat. Terserah kita mau pilih yang mana ;)


Dirgahayu Indonesia! Let's live in differences, altogether with peace :)


gua rasa gua sakit ngepost begini... asdfghjkl mungkin kebanyakan ngerjain tugas fisika.
pardon. merci.
muah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar