Jumat, 05 Agustus 2011

They Made Me Used That Wear

Mi Degeti Oho! --> Salam Semuanya Kece! \(-_-)/

Weird opening. I try to kill my time right now. I'm waiting for my tarawih time, sekalian ngerjain tugas seni musik yang kalo ga gua kerjain sekarang pasti bakal lupa gua kerjain, dan kalo gua lupa ngerjain, kemungkinan gua bakal dikurung diruang musik yang hampa suara dan gaada yang nyelametin gua karena gaada yang denger teriakan gua.... Well, lebay banget. Hahahaha

So, nowadays I haven't done anything funnier than meet him or have a long nap in the afternoon, I already have a flat life nowadays.

Gua ngerti maksud dari kalimat ini "karena di setiap jiwa orang dewasa, pasti masih ada jiwa anak-anak mereka yang tertinggal, setua apapun mereka", karena gua tau pasti semua orang merindukan masa kecil. Masa dimana, semua benda, sesederhanapun, pasti bisa jadi benda yang amazing, dengan imajinatifnya kita berkhayal. Mungkin bokap gua kangen main layangan, nyokap gua kangen leyeh-leyeh baca buku (she often spent her young time reading at those books), dan gua kangen saat-saat dimana gua manjat pager, dan berkhayal bahwa pager-pager itu adalah media fear factor atau benteng Takeshi gua.

Seiring berlarinya waktu, jadi anak SD, imajinasi gua mulai mandek, dan pas SMP gua mulai bergulat dengan kenyataan. Ngabisin waktu buat jalanin apa aja yang ada dan keliatan. Dan mulai SMA, rasanya kalo ada selembar kertas di depan gua, gua mulai bingung harus ngapain. What a life, we're getting older and start forgetting we have imagination that will make us younger if we use it. Oh, I want to be forever young.

Dan kelas 11 ini gua mendekam dibalik semua hal sitoplasma-gerak parabola-orbital. Call me a science student, tapi di dalem hati gua sadar bahwa gua anak IPA berbasis IPS yang menganalisa fakta dengan metode sosial.

Contoh analisa fakta dengan metode sosial:
Suatu pagi, ada anak IPA berbasis IPS belom selesai ngerjain PR, dan itu fisika. Maka, dia bakal numpang liat jawaban orang dan cari jawaban mana yang terbanyak. Analisa fakta secara sosial kan? -_-" oke ngaco.

Dibalik segala hal wonderful "bekerja dengan fakta" (atau yang gua bilang "bekerja dengan rumus" :p), masih ada hal rasional yang tersisa, kayak ketemu doi, ketawa sama temen-temen, dan ekskul. Ya, ekskul. Fotografi. Maaf, gua emang gapunya SLR, tapi gua mulai gapeduli. Karena yang namanya fotografi itu gapernah terpantek oleh kamera apa yang lo pake.

Jadi ceritanya, Jumat yang lalu sebelum puasa gua ke Ragunan. Buat hunting. Gua juga bingung kenapa ke Ragunan awalnya, tapi Alessandro bilang, di belakang Ragunan banyak ilalang bagus dan cocok buat foto model. Gua cuek. Terserah mau kemana asal nanti banyak foto. Dipesenin bawa baju bagus apa aja yang bakal dipake si model, dan modelnya adalah temen gua yang cantik, namanya Fenny.

Dan hal terlucu yang pernah mereka lakukan adalah: nyuruh gua bawa heels. sementara di rumah gua adanya kets semua. dan gua disuruh bawa baju feminim, padahal baju gua hampir semuanya kaos. dan gua disuruh bawa yang ukurannya bisa muat dipake semua, padahal badan gua adalah extra mini size, hahaha

Ragunan sepi hari itu karena hari Jumat. Gua kesana sama Fenny, Pipit, Mitha, Ivan, Ales, sama Ogi, minus Day, Shintya, dan anak-anak lain. Kesana naik mobilnya Mitha. Dari pagi gua ikut, jiwa gua udah ada hawa-hawa galau kayaknya... Sampe Ragunan malah berasa galau lagi -_-. Oke panggil gua penggalau sejati. Ababil kelas kakap.

Sampe sana, Mitha dan cewek-cewek lain nyuruh buat ganti baju. WTH. Gua cuma tau gua disuruh bawa baju buat modelnya, dan akhirnya they made me used those weird things I seldom to use. Skirt. Vintage shirt. Dan sepatu kets. Terima Kasih Tuhan, gua gadisuruh pake wedges.

Lo tau hari itu kita semua abis dikerjain Ales. Dengan jiwa galau dan langkah yang berat gua ngikutin setiap langkah anak fotografi yang berupaya meraih tempat penuh ilalang tersebut. Udah panas, capek, minim bekel, galau, dan segala macem yang negatif, akhirnya lo tau? Sampe tempat yang seharusnya jadi tempat ilalang yang diidamin semua anak, akhirnya semua harus terima kenyataan bahwa lahan ilalang udah dibotakin abis-abisan buat ditanemin pohon baru. Nyesek. Dan semua, mari salahkan Alessandro -_-

Akhirnya abis peejalanan melelahkan dengan jiwa yang galau itu, semuanya makan baso, mie ayam, es buah, dan gua masih nunggu balesan sms seseorang. Galau. Dan efek galau itu terasa sampe sekarang - berhubung sekarang Ogi jadi ngehina gua "GA GALAU LAGI MBA??" atau "CIE YANG PACARNYA JUALAN, YAKIN TUH GAKECANTOL SAMA PEMBELI?". What the... -_-

Okay, here's some photos. Jelek atau ga nya, maklumin. Mungkin muka gua jelek gitu dan gapantes dandan, dan lo nahan ketawa liat muka gua. Jangan sungkan kalo mau kritik muka gua, bisa via cbox, atau comment, atau mungkin mention langsung di twitter, atau klik album STC di profile facebook gua, cari foto gua, dan then I let you judge ;)




Our best model we ever had: Septiana Fenny Widiarti (Click and you'll connected to her twitter profile)

Alessandro - Ivan - Fenny - Pipit - Mitha - Orang Jelek - Ogi
the names were linked in case you want to know them more

Okay then. Enough for the post.
Um actually I was in make-up, but gua sadar diri mungkin beberapa orang di luar sana nahan ketawa ngeliat gua pake make-up (no-offense), gua emang gebegitu make-up friendly. I should go back to my work and call someone to tell something. Thanks for the attention. Ciao!

1 komentar: