Selasa, 06 November 2012

17 in 18.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!
Afternoon anyone, I won't say "Good Afternoon" because I don't feel good itself. And when I don't mean it, I shouldn't say it.

October has come, you know, and we stand on almost the end of the month. Time is like a really annoying treadmill, so fast until you can't follow. And every year, October is the most lovely month of a year, I guess, but this October is different, it's bittersweet. I don't know if I should curse the month or not, but it will be better if I curse myself... Oke plis jangan curcol, ini baru di intro.

Di bulan ini, 17 tahun lalu ada seorang bayi perempuan yang hadir setelah 9 bulan mengeram di dalem janin. Seseorang yang tangisannya berpacu dengan adzan subuh dan untuk kehadirannya dan kepulangannya ke rumah, orang tuanya harus mengeluarkan biaya yang belum bisa ia ganti sampai sekarang... Dan bayi itu adalah gua, seorang bayi yang beranjak besar, keras kepala, labil, sensitif, penuh emosi dan ekspresi.

------------
Oktober 17, 2012
Jalanan Kopilas yang gapernah tidur meniupkan debu-debu ke muka gua yang udah kucel karena belajar matematika terlalu ngoyo di malam hari. Rambut gua berhamburan, berterbangan, membingkai muka gua yang separo ngantuk.
"Cie, besok ulang tahun ya?," kata orang di depan gua, Firda Mercury alias Kakdaus.
Gua berdeham-deham salting.
"Besok aku ada UTS susulan, sama dosen yang waktu itu gadateng pas mau UTS itu loh, mungkin jam 4 dari kampus," kata Firda Mercury.
Okay, tomorrow is gonna be just Thursday.

Gua ngeliat langit yang selalu kosong seperti biasanya. Dosa apa Jakarta sampe bintang aja gapernah mampir di langitnya... But miracle will always be there, it just depends on how we look at it.
"Ada bintang, bintang merah!," gua bilang
"Wah bintangnya banyak!," Firda Mercury ikut berseru.
Kita berdua menunjuk-nunjuk pemancar BTS yang berkelap kelip. Really, miracle will always be there.

------------
Oktober 18, 2012
Gua terbangun pagi, pagi sekali. Menggeliat manja sambil ngeliat jam dan kembali merem melek, merem melek, seperti pagi-pagi lain dimana gua menggeliat kurang tidur. Di hari itu, di pagi itu, setengah melek dan terhalang spobeker------- spotong belek kering, gua membaca sms sambil senyum-senyum. I was really feeling like I'm someone on a day. Seolah-olah gua Kim Kardashian yang melenggang dan tersenyum luwes memamerkan setiap lekuk tubuh gua, dan semua orang mulai berpikir "Oh God, she's really Kim!" dan gua tersenyum simpul.

Kemudian, telepon itu berdering.
Hai... Happy birthday ya, cie 17 tahun... Semalem aku ketiduran masa, padahal 20 menit lagi tengah malem...
Dan pikiran gua flash back ke 20 menit sebelum jam 12 malem semalem... Ya, there was a murmured person in a night, talking for 10 minutes like he was the sleepiest man on earth, "Selamat... Ulang... Tahun... Duh kecepetan... Aku ngantuk..." dan bip.

Pagi itu, gua bener-bener ngerasa Kim Kardashian dengan handphone yang terus bergetar-getar, nyaris goyang dolphin saking geter-geter terus. Seolah-olah gapeduli gua telah melakukan skandal apapun dan menggempur dunia dengan sensasi-sensasi, dan disitulah gua tetap melenggak-lenggok dengan tubuh oke (um... semok maybe, it looks like a body I will never have), membawakan acara Kardashian gang, dan semua mata tertuju kepada gua. I felt a bit in a crowd, setelah berhari-berhari di waktu-waktu tertentu cuma operator yang setia SMS gua.

I kept pretend that 18 October just like another Thursday, when I would have chemicals, Indonesian, computer, and biology, after that I would go home as usual. But you know, that day, everything seemed good. Chemical teacher finished the lesson earlier without leaving any homework, dan sisanya berjalan seperti mengalir alami. Mungkinkah ini berkah 17 tahun? ........... Ga, ga, ini cuma Kamis biasa, Kamis yang lebih mujur daripada Kamis-Kamis lainnya di hidup gua.

Gua semakin (berkeinginan untuk) menganggap biasa Kamis itu karena kata-kata 2 cewek-cewek yang doyan ketawa ini:
"Hari ini gaada perayaan ya, soalnya gue les," kata Sinta nyolot.
"Gua juga les," kata Ome sok sibuk. Rakjel banget sih lesnya hari Kamis, mbaksis.... :p

Setelah itu, mungkin karena ngerasa bersalah, Sinta mamerin DP-nya ke gua,
"Liat dong, gua pasang DP sama lo, gua udah ngucapin, tapi ga dibales...," katanya, sok ngibur. Hu... Gakena Sin, gakena...
"Sebenernya, gua pasang DP yang itu karena guanya cantik di situ..."
Tuh kan, apa gua bilang! GAKENA SIN, GAKENA!

Setelah puas ngeliat DPnya Sinta, gua back dan menemukan nama gua distatus segelintir orang. Wow... I wonder how these people knew I had birthday, but there were so many people writing my name over there. Speechless. Gua rela dikatain norak, udik, kampung, atau apapun, tapi ada suatu euforia sendiri di dalem jiwa gua, "Oh, these people care about me", dan tiba-tiba gua jadi eye-witted banget. Terharu.

Photobucket
Thank you, anyway! :_D

Hari-hari mengalir mulus, seperti air yang mengalir di got yang abis dibersihin pas karja bakti.

Tiba-tiba istirahat, tiba-tiba istirahat kedua, dan tiba-tiba gua hinggap di pelajaran terakhir hari itu, biologi. Rupanya, berkah ke-17 tahun gua kurang tokcer, karena di jam terakhir pelajaran biologi yang manis itu, gurunya  menyelipkan kalimat "cari tumbuhan Hydrilla ya untuk percobaan besok...", jadi niscaya sore ini gua akan menghinggapi satu per satu tukang akuarium sepanjang Srengseng-Meruya untuk mencari hydrilla... Fine, it's just another Thursday, okay.

Tiba-tiba bel Row Your Boat berdering dan pulang. Gua melengos, sleepiest Thursday ever. Ngantuk stadium akhir, dan gua memikirkan kasur... So nice to back home and kiss the bed. Gua terluntang-lantung ditinggal Dua Cewek Sukak (Suka Ngakak) Sinta sama Ome dan mereka bilang "Tunggu". Jadilah gua terduduk sendiri, jalan-jalan gajelas, rasanya ditengah keramaian orang, I was the loneliest person on Earth. Tiba-tiba dateng lagi cewek suka ngakak nomer 3: Irawanti dan Kuro pacarnya Adipati (...), dateng menemani kebosanan gua menunggu 2 cewek lainnya. Lama ngobrol ngalor ngidul, akhirnya cewek suka ngakak nomer 2 : Sinta, turun, dan ngajak ke kantin.
Dalem hati gua, ngapain ya ke kantin, kan udah pada kosong... Mau makan kursi kantin kali.
Gua cuek dan terus berjalan.

Ternyata di kantin lumayan rame, ada Pipit, Fenny, ada Mira, Mitha, ada Bandot, ada Ome lagi duduk di kursi kantin, untuk gadimakanin tuh kursi... Mereka lagi rumpi abstrak bisik-bisik. Bingung campur ngantuk, gua melengos. Abis itu gua berjalan gatentu arah nemenin Bandot cari minum, dan pas balik ke tempat tadi, tiba-tiba Pipit, Mira, sama Ome mantatin gua kayak opening penampilan girl band gitu, tiba-tiba mereka berbalik...

Happy birthday Dina... Happy Birthday Dina...
Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday Dina...

Gua speechless. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, speechless. Pas ditanya orang-orang, gimana ada feeling ga sebelumnya kalo mau dikasih surprise, gua speechless, diem, meneng wae, kayak ada di alam lain. Selalu colo begini setiap tahun, dan selalu gemeter speechless setiap dikasih kejutan. I guess it's me, terlalu mudah percaya dan gapunya rasa curiga, gua adalah sasaran sempurna untuk biang-biang surprise.
"Ngerjain lu enak dah, gaada curiganya!"

Setelah itu ada sesi tiup lilin, and my wish was "Semoga orang-orang yang baik sama gua dapet imbalan yang setimpal, aamiin" dan fuh... Lilin ke 17 tahun itu gua tiup. Lengkap sudah ulang tahun gua di SMA, dengan orang-orang ini gua selalu merayakan ulang tahun dari kelas 10.

"Din, gua selalu dateng ke surprise ulang tahun lo dari kelas 10, lo mana din?" kata Fenny, rasanya kayak jarum pentul menusuk relung-relung jiwa gua. 
Well, I know it was kind of unfair, and I felt so guilty.

Abis itu Nulat ikutan ngombe kue (punya iPhone dilarang ngombe, Nul!) dan Tanov, mafia rusia berdarah italia ikut-ikutan mencocol kue. Jadilah acara keroyokan kue. Di SMA, kue itu gapernah dinikmati properly, selalu di cubek-cubek, dibonyokin, abis itu pas udah bonyok dimakan, dan krim sisanya buat dandanin yang ulang tahun... Selalu begitu, ada unsur kebersamaan sekaligus kejorokan yang terselubung, gitu.
Photobucket

Photobucket

Photobucket

Abis ada sesi foto bareng Kristen Stewart (baca: gua), tiba-tiba majelis bubar. Tiba-tiba banget, ada yang mau les, mau TO, udah dijemput, jadilah gua ditinggal bersama Fenny, Sinta, sama Ira... Dan ujungnya forever alone, kembali mengharapkan kedatangan abang Kopaja di halte.
Abis kejadian di kantin itu, semuanya seemed so normal, gua terkantuk-kantuk di angkot, abis itu gua beli bakwan Malang. Abis beli bakwan Malang, gua naik angkot paling pojok belakang dan tiba-tiba di belakang angkot ada 3 temen sekelas gua naik motor.

Mereka membuat gesture-gesture "ITU-DI-KANTONG PLASTIK-LU-ADA-APAAN?!", dari dalem angkot gua mengacungkan kantong plastik, sambil meragain gaya orang makan sama ngebuletin jari gua bentuk bakso. Mereka ganangkep dan masih rempong bikin mimik "APAAN SIH TUH?" dan mulut gua membentuk "BASO". Mereka bingung, terus mulut mereka berbentuk seolah "BELI DIMANA?", gua pun membalas "DI MERCU". Pembicaraan miscommunicated dan mereka bingung, dan gua sadar kalo dari tadi gua menjadi pusat perhatian penumpang lain karena bikin gesture-gesture aneh. Daripada meresahkan, gua turun dari angkot, dan 3 temen gua menepi.

Mereka mencecar gua, "itu hydrilla?!!!!" gua kaget, "orang dari tadi gua bilang 'bakso, ini bakso'".
Penonton kecewa, akhirnya mereka ngajakin gua untuk keliling Jakarta Barat pinggiran mencari hydrilla. Gua lagi mempertimbangkan tawaran mereka sambil mikir apakah emak gua mau dateng ke rumah atau ga... Dan tiba-tiba hp gua geter. Firdaus calling.
Gua cerita gua ketemu Yossie, Manopo, sama Asep terus diajak nyari hydrilla, tapi kakdaus bilang pulang aja ke rumah... Akhirnya gua menolak ajakan Yossie, Manopo, dan Asep. Gagal bertualang mencari hydrilla.

Everything was back to flat again. Sepeninggal Yossie, gua naik angkot, get ass back home, dan rasanya waktu mengalir, dan gua merasa rileks, santai, membayangkan bahwa rumah menunggu gua, dan kasur merindukan gua. Gua berjalan dengan kecepatan siput sekarat, jalan dari gapura menuju rumah. Ah, rumah di depan mata... Homey... Kasur, tunggu aku yah...

Tiba-tiba pas gua coba buka pintunya, gabisa, kayak kekunci dari dalem.
Gua panic attack. Terbayang kalo kasur di kamar gua menjerit, menangis meraung-raung karena tidak segera dicumbu.
Gua ngetok pintu dengan ricuh, bak peluru berdesing-desing menabrak pintu. Duk dak duk duk dak.
"MBAAAAKKKK... MBAAAAAKKKK..." gua memanggil.
Tiba-tiba dari dalem ada jeritan dan pekikan. Apa itu kasur gua? ... Ah tapi kasur gabisa ngomong...
Mungkin itu temen-temen adek gua yang biasanya les di rumah, tapi kok kurang asem sampe pintu dikunci gini...

Gua pergi ke pintu belakang dan ngetok-ngetok, terus memanggil juru kunci rumah gua. Tapi no respond, sampe akhirnya bingung sendiri. Gua kembali di pintu depan, dan ternyata ada Mbak gua. Dia menunjuk pintu yang udah dibuka. Loh... Tadi kan kekunci, ini jin yang buka atau gua yang halusinatif?

Pas gua melebarkan pintu ternyata banyak massa di dalem rumah gua.
Happy birthday Dina!
Happy birthday Dina!
Happy birthday!
Happy Birthday!
Happy Birthday Dina!

Mata gua gaberfungsi dengan baik, pandangan gua kabur. Untuk ulang tahun ketiga kalinya di SMA, hal yang gua lakuin sama: jongkok dan menangis terharu.
Segala macem orang yang sok sibuk hari ini ngumpul di dalem rumah gua yang sumuk, berdesak-desakan, dan disitulah, yang pertama kali gua liat adalah si pemegang kue, seorang gentleman yang bilang hari ini harus ikut kuliah tambahan. Dan sama
seperti dua ulang tahun yang lalu, dia cengengesan dan seolah berkata "Gampang banget sih lo ditipu"

Di dalem ruangan itu sumpek dan gua potong kue. Terlalu speechless untuk bilang "Gua kelewat telmi dan gua sekarang kaget lo pada ada di rumah gua!" dan terlalu kaget untuk memandangi satu-satu orang di ruangan yang gelap dan sumpek itu. Yang jelas, setelah gua dateng beberapa orang keluar mencari udara seger. Emang rada ga manusiawi, rumah yang biasanya ditempatin 3 orang, dibikin basecamp buat 14 orang.

Ternyata, di dalem ruangan ada Kakdaus dan Kakfajar... Alumni kita yang selalu bercekcok senggol-senggol, ada beberapa orang yang tadi ngagetin gua di kantin: Sinta, Ome, Ira (Trio Ngakak), plus Fenny, Pipit, Bandot, ditambah lagi ada Tanov, dan kerumunan cowok hipster Syarif sama Nulat, dan pasangan 1 September Raka sama Khansa. Believe it or not, I was trembling, gatau gejala stroke atau ayan ringan, yang jelas surprise(s) made me trembling much. Maybe it was not a disease: it was a sign that I was truly happy.

Setelah ada acara potong kue yang cukup layak (... Galagi dicemek-cemek karena ada 2 anak kuliahan yang ikutan), baju seragam gua ketumpahan kue yang dimakan Ome. Gua ganti baju, setelah itu gua keluar untuk mencari oksigen karena di dalem rumah isinya 60% karbon dioksida, orang-orang di dalem nafasnya pada boros karena kebanyakan ketawa. Di depan, gua lagi ngelus kucing dan tiba-tiba kepala gua berasa ditimpuk benda tumpul semi tajem, PLUKKKKK! Berkali-kali gua rasa, gua kira gua sedang mengalami kejahatan terencana.

Dan benda tumpul semi tajam itu menghantam kepala gua berkali-kali sampe akhirnya bau telor lewat semerbak di hidung gua. Gua lari-lari panik tapi emang dasar, gua terlalu empuk untuk dikerjain, karena emang gua orang baik yang pasrah dan legowo. Tipikal Jokowi banget. Akhirnya baskom dan isi-isinya dilempar ke kepala gua, pluk. Udah kayak main donat-donatan yang dimasukin ke tiang. ... Dan beneran, isi baskom itu super laknat 2012 dan baunya masya Allah... Sebau itu dan gua enggan bertanya apa formulanya.
Photobucket
Photobucket

Setelah dilempar dengan kelengketan yang super jahanam itu, galengkap kalo gadifoto pula. Berpose seksi ala trio macan, metal, dan berpose sama kakdaus yang sebenernya rela garela (kebanyakan garelanya karena gua super bau) tapi akhirnya gua bergidik sendiri ngeliat foto yang udah kejepret, karena gua mukanya super horror... Ini gua atau something different? Tapi akhirnya setelah ketakutan dan ngapus foto sendiri, gua ngezoom dan menyadari kalo muka gua emang segitu menyeramkannya dan fotonya kabur-kabur karena emang gua pecicilan kayak anak cacingan kerajinan main tanah.

Photobucket
Photobucket
Setelah gua mandi (dengan susah payah, usaha keras, dan membawa masuk mbak ke kamar mandi buat bantu ngebersihin tepung yang udah berkerak di rambut) dan kembali cantik seperti sedia kala, gua disuruh ngeliat seserahan di umur ke 17. Jumbo seserahannya. Pas gua buka ternyata itu bingkai foto yang lebih gede dari bingkai foto SBY di kelas gua dan isinya karikatur. Karikatur gua sama Kakdaus berpose macho bak binaragawan bulan madu keliling dunia: dibelakang kita ada Taj Mahal, Eiffel, Pisa, sama Patung Liberty, dan galupa, ada VW Combi! Unyu maksimal... Sebenernya gua bingung, gimana bisa bawa bingkai segede ini dan siapa yang bawa, tapi terlalu speechless... Terlalu... Banyak, too much for today :')

Akhirnya kita semua spending the night eating bakwan Malang. Traktiran yang sangat sederhana, mengingat gua Cuma anak SMA yang tinggal tanpa orang tua dan sama sekali gatau menau akan peristiwa hari ini. Maaf ya, at least I want to give something to you as a return, but most of all, I wish you goodness for your attention. There must be something good in return for those who care much about somebody else.

... Satu-satu pergi meninggalkan rumah kontrakan mungil yang gua tempati dan rasanya sepi --- tempat yang tadinya sempit sampe desek-desekan perlahan meluas dan membuat lo ngerasa sendirian. That's a common thing I guess, when you were in the crowd but then they're slowly gone and left you alone.
Malemnya gua mesem-mesem, this day is the sweetest, ever. And I'm going to leave it in hours. And it will just be another memory to remember.

--- Dan jam 12 malem, the sweetest day was over.
Really, the sweetest birthday is not about having much presents or cakes. The sweetest birthday is about having certain people really care about a day in your life, and try hard to make it special.

And I know, when I'm there in my sofa and my kids are around someday, I will tell them about this day. Tell them there were some people who made me felt so special and gave me something worth to remember in my young life.

"And see, that frame with a drawing in it, you want to know who gave that to me? Oh, he will come home as soon, kids..."

"... Mom, it must be daddy!"

ONE. SWEETEST.DAY. IN. MY. EXISTENCE. VIVA 17!
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Merci Beucoup pour...
Mes parents
Ma famille: Tante Diah Arianti, merci beaucoup pour les cupcakes and scrapbook ;)
Mon homme: Firdaus!
Et Senior Fajar Khoirul
Mes amis, vous êtes trés bien!: Shyntya Tryayu, Rahmawati Fajri, Septiana Fenny, Paramitha Widya, Fitriana Ariyanti, Irawanti, Khansa Fimantari, Amiira Barrayiess, Nabila Zalfa, Cynthia Grhadika, Aditanov Lagusto, Raka Fatih, Syarif Maulana, Nulat Danur Wendo.
STP, Simply Tosca Photography: Nogie Wikarsa, Andara Fachruroji, Ranafif Apryzan, Ivan Mahendra, and the others whose names I can't mention one by one, thank you!
La classe de Douze-Science-1: You guys rocks.
Merci beaucoup aussi pour les félicitations dans le twitter, facebook, et text messages. Pardon moi, je ne peux pas envoyer les félicitations, mais merci beaucoup! God bless, aamiin.

Photobucket
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Leave the SD card at home, still want to post some, may I? :)
Next time, if so! :D

Photobucket




Tidak ada komentar:

Posting Komentar