Rabu, 12 Desember 2012

"Bahagia itu Sederhana"

Assalamualaikum Wr. Wb... Bonjour, mes amis!
It's kind of surprising that I can touch this and typing a post now, because (just for today) I'm out of duty.
I think it's a kind of weird, you're having a holiday in the middle of the exams week... It feels like having a cup of coffe in the middle of Storm Sandy.
funny gifs

Ya, 85 memang terlalu unik untuk dijabarkan. Just so you know, ketika sekolah lain pulang cepet serempak, 85 tetep pulang jam 3 kurang. Ketika sekolah lain libur, 85 tetep masuk seperti biasa. And now guess what, sekolah lain udah selesai ulangan umum, dan 85 baru mulai umum, plus ada libur di tengahnya! What an uniqueness.

Okay, cukup ngomongin 85-nya sebelum blog ini diboikot pihak sekolah.

Belakangan ini, life seems quite pretty. It's like a quiet lake full of daffodil around it. Yes, as I said before, quite pretty. My scores are not much pretty, actually (SMA yang full remedial), but I don't know why everything still seems smooth for me.

It's like I'm resting in the middle of the war, ain't I?
Di kelas 3 ini, I know competition is in everyone's blood. People try to show their best, try their hardest, or even cheat their craziest. I've seen much people struggling, stabbing some people on their back, and end up betraying much people. Am I over-reacting or are there much people seeking for attention and stabbing one another on their back?

This, is no offense. If someone reads this and feels that I talk about the way she/he is, please make a correction of yourself, and if not, can you agree that we're talking about something that exists?

Di tengah-tengah perang yang bak gerakan bawah tanah ini --- gaterlihat, namun terasa, I want to tell you that happiness is a simple thing. Bahagia itu sederhana.

Definisi bahagia menurut gua adalah bisa merasa tersenyum sekaligus merasa plong, plus dapat menikmati sesuatu bersama orang-orang yang ingin gua bagi kenikmatan itu. Ya, you know, when it's not so hard to be sad, it's not also hard to find happiness.

Bahagia itu adalah menyadari bahwa malam ini gaada PR fisika atau PR lainnya yang memberatkan.
Bahagia itu adalah menyadari bahwa hari ini gaada banyak pelajaran eksak.
Bahagia itu adalah menyadari bahwa guru A atau guru B gamasuk.
Bahagia itu adalah pulang cepet.
Bahagia itu adalah di sekolah, tapi gabelajar.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lol. Itu kebahagian khas pelajar. Dan sebelum ketauan pihak sekolah, mending gua skip ke kebahagiaan, the real thing.

Bahagia itu adalah ketika gua mendaki ke kelas gua di lantai 4 sambil bercucuran keringet, dan sampe sana, gua liat matahari bersinar temaram dan jauh di sana ada siluet gunung yang sedikit ditutupin kabut (... Entah kabut atau asep, sebenernya).

Bahagia itu adalah ketawa ngakak saat gaada guru sama temen-temen yang bisa diajak ngelucu dan ketawa ngikik ditahan-tahan saat ada guru.

Bahagia itu adalah bikin singkatan-singkatan di binder saat guru nerangin dan tingkat jenuh udah sampe tingkat siaga 1.

Bahagia itu adalah ngeliat skyline Jakarta Barat saat pelajaran kosong. Gedung-gedung Saint Moritz, apartemen Pesanggrahan atau Kedoya, genteng Puri Indah Mall, IPEKA, dan gedung walikota Jakarta Barat, ditambah intercon. Dari depan kelas, membentang skyline La Belleza dan gedung-gedung lain yang masuk area Selatan.
Mengamati semua dari ketinggian membuat gua merasa besar, merasa sedikit lebih dari gua yang biasanya merunduk dan merasa rendah, ngeliat orang-orang di sekitar gua berusaha mati-matian sementara untuk ngegebrak otak sendiri gua juga gatega.

Bahagia itu adalah men-dubbing suara orang-orang yang lalu lalang di jalan intercon.

Bahagia itu adalah ngeliat bunga-bunga kuning di pohon Intercon yang satu-satu gugur ditiup angin, menandakan musim yang mulai ganti dari kemarau ke hujan, dan menyadari seiring bunga-bunga itu tumbuh, berkembang, layu, dan gugur, semakin tipis juga waktu gua untuk menikmati bunga-bunga itu dari lantai 4.

Bahagia itu ngeliat langit luas dan pesawat. Membuat diri merasa sangat terbatas, dan kecil. Karena sky is always be the limit. Ngeliat langit membuat gua merasa bingung dan lost, tapi tenang, memikirkan masa depan gua yang entah bagaimana rupanya, dan memikirkan betapa hebatnya semua orang di lantai 3 dan 4 ini --- berjuang untuk masa depan, sesuatu yang bentuknya masih misterius dan gabisa ditelaah oleh kita-kita, manusia muda yang masih harus banyak belajar.

Bahagia itu ngeliat bahwa orang yang selama ini bersama gua, masih rela dan masih tersenyum ngurusin gua yang bener-bener ngerepotin dan kadang ngeseling di waktu-waktu stressing. Bahwa dia masih rela meluangkan waktunya yang makin padet hanya untuk makan sop ayam sama gua. Bahwa dia masih rela bawa banyak jas hujan untuk memerangi hujan yang datengnya ga tentu sama gua. Bahwa dia masih rela telfonan sama gua walaupun guanya ketiduran terus dan balik manyun sama dia padahal gua yang rese.
Even the simplest thing you do is a total sweet, bro.

Bahagia itu duduk di kursi puskesmas di depan kelas sambil rumpi-rumpi tanpa memikirkan hal-hal yang memberatkan, atau tiduran di atasnya sambil ngerasain angin yang lumayan kenceng meniup-niup badan.

Bahagia itu berkumpul bersama dengan orang-orang baik yang tahu cara berkumpul yang asik.

Bahagia itu menyadari bahwa masih banyak orang yang peduli soal gua dan berbaik hati membantu.

Bahagia itu bisa menempatkan musik yang tepat saat momen yang tepat.

Bahagia itu... Sederhana.

Bahagia itu, memakai headset, merenung sambil berdiri ngeliat langit dan skyline Jakarta dan membiarkan semuanya mengalir sama seperti lagu yang mengalun.

"... Seribu asa hadir di sekelilingku
Bangkitkan gairah hidup
Sejuta harapan di dalam jiwaku
Walau semua masih di dalam angan

Jurang curam menghadangku, getarkan jiwa
Dan pekatnya kegelapan datang melanda
Keraguan kini menjelma di dada, musnahkan segala asa
Semua harapan yang dulu pernah ada tiada tersisa

Haruskah ku hidup dalam angan-angan,
Merengkuh ribuan impian?
Haruskah ku lari dan terus berlari,
Mengejar bayang-bayang ilusi?"

Sederhana, tapi susah disadari.

 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar