Kamis, 27 Desember 2012

A-Year-After Trip

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!
Apa kabar saudara setanah air? Apa kabar pelajar-pelajar senusantara yang pastinya udah melewati laknatnya UAS dan mendebarkannya terima rapor? Gimana UASnya nih? Apa seperti UAS gua yang amburadul gakaruan atau cemerlang? Rapornya fine kan?

Bomat deh ya, semester 5 udah kelar nih... Fluktuasi nilai, ya... Syukurin aja deh. Sukur, sukur.

Setelah lama berendam dalam lautan luka dalam... Eh salah, maksudnya PR yang bergelimang, akhirnya gua kembali menjajaki ranah blog yang semakin lama semakin dekil ini. Kusem gitu liatnya, udah lama ga diotak-atik templatenya, bannernya udah basi, dan banyak hal lainnya yang ingin gua keluhkan dari malesnya gua mengupdate.

Jadi, kita tekan tombol fast forward.

Keluarga besar gua tahun lalu sepakat untuk merencanakan liburan untuk tahun ini, dan setelah sekian lama, akhirnya hari H di depan mata dan gua males banget packing. Ga, perjalanan kali ini bukan ke Prancis, belum... Atau juga ke Zimbabwe. Perjalanan kali ini adalah menyusuri tanah yang sarat akan ke-Hindu-annya. Guess? India? Zimbabwe?
Nope man, it's Bali.

Bali, salah satu anak kesayangan Tanah Air yang kental akan identitas kultural dan terkenal keelokannya. For God's sake, most of foreigners just know Bali for describing Indonesia. Jadi setelah setahun, barulah hari H-nya tiba dan penyakit males packing stadium 4 merajalela. Akhirnya, gua berangkat, dengan mengabaikan 1 hari sekolah (alias madol) dan bagi rapor. Ugh.

Dan here we come...
Dec 21st
Soekarno-Hatta International Airport Cengkareng
05:15 a.m

Gua menyeret koper setelah melalui sleepless night. Malu mengakui, gua packing seadanya, malah emak gua yang rempong kuadrat kubik untuk ngepak barang-barang gua... 17 tahun gituloh mau pergi masih di pak-in emak.

Yesterday was tiring, panas-panasan menikmati HUT 85 yang niscaya bakal jadi HUT terakhir yang gua saksikan sebagai anak murid 85. Maka kemaren gua gelagapan moto demi dokumentasi pribadi masa SMA gua. Setelah disinari panas matahari yang seolah ingin mencium bumi, sorenya gua diterpa badai pas mau pulang. Sue emang, udah bawa barang banyak, eh malah ada badai dengan angin yang melebihi kecepatan treadmill. Untung ada kakdaus yang bak dewa penyelamat menjemput dan membawakan gua kekeringan... Membawakan jas hujan, maksudnya.

Bali, I'm really tired. I hope you're worth it.

Dec 21st
I Gusti Ngurah Rai International Airport Denpasar
09:35 a.m

Lagi dan lagi gua menyeret koper, sebenernya koper emak, gua sendiri backpack-ing karena menurut gua kalo Cuma liburan 4 hari bawa koper itu ribsy. Heeee maaf ya anak koper, gua anak ransel nih -_-v
Kesan pertama gua terhadap Ngurah Rai pas nunggu ambil bagasi... Panas dan sempit. Karena faktor itu mungkin Ngurah Rai ngejalanin proyek renovasi besar-besaran. Ngurah Rai kan bandara internasional tempat bule berserakan, salah satu wajah negeri, bandaranya --- sebagai gapuranya pastilah harus megah, kan? Jadi gua berusaha memaklumi, lagi direnovasi, wajar kalo agak berantakan.

Bali, sekitar jam 9 lewat, panasnya minta ampun, menyilaukan, seolah-olah berkata keras ke gua, "WAHAI ORANG INDONESIA BARAT, SIAP MENJADI LEBIH HITAM? COME ON GO TANNED!" dalam hati gua ketakutan, Oh Tuhan, saya sudah hitam di Jakarta, jangan tambah hitam lagi please...
Gua masuk ke bis. Ya, di Bali bis inilah yang jadi tumpuan gua. Kalo gaikut naik bis ini, niscaya Bandara Soekarno-Hatta tadi pagi adalah kali terakhir gua di Jakarta.

Supirnya Bali tulen, namanya Pak Ketut, Hindu kentel, keneknyapun Hindu. Dua-duanya ramah dan sangat pengertian dengan kondisi keluarga besar gua yang muslim dan punya banyak anak-anak kecil yang lagi bawel-bawelnya. Ini hebatnya Indonesia, negara dengan 5 agama besar dan punya toleransi yang tinggi antaragama. Maka, setelah acara pemasukan koper dan naik ke bis, juga perkenalan singkat, melajulah bis.

Keluar dari wilayah Ngurah Rai, gua sangat menyadari betapa kontrasnya desain baru Ngurah Rai dan budaya Bali. Gapuranya masih berupa gapura tradisional khas Bali, sementara desain bandara yang lagi dikerjain modern dan kesannya futuristik. Hm... Ya Bali, tabrak budaya juga masih cantik ;)

Bis menelusuri Jalan Legian dan sekali lagi gua tegaskan BULE BERSERAKAN. Dimana-mana, sejauh mata memandang di downtown Kuta yang terkenal akan dunia malamnya, all foreigners, semua bule dan banyak outlet-outlet Ripcurl, say the brands --- dimasukin oleh bule-bule ini. Ya Tuhan, di negara mereka kan ada, kenapa harus beli di Bali? Karena lebih murah gitu? :)

Gawat, gua mulai mengetik terlalu banyak. Ayo, skip ke gambar aja!


First destination: Kuta Beach.
Pantai Kuta yang semlohai ini mulai ditinggalkan karena agak kumuh. Pasirnya hitam. Kuta jam 11 siang... Gua mulai takut item. Ironis emang, bertolak belakang dengan bule-bule yang tropical means get short, gua malah takut-takut menjajal matahari Bali yang bener-bener tropical.
Tipe pantai yang gua sukai, honestly, adalah pantai berpasir putih dengan beberapa pohon di sekeliling. Jadi, honestly, Kuta is not my type of beach. Kuta jam 11 terlihat sepi, sedikit orang yang berkeliaran, dan bule-bule sibuk mentato di pinggiran, di bawah nyiur melambai.

Prihatin dengan coret-coretan di pager-gapura Kuta, karena menurut gua piloks ditambah ancienty gapura Bali yang tradisional itu gabisa berakulturasi dengan baik, alias ga cocok. Sayang, keindahan Kuta yang dulu dijunjung tinggi dan diakui malah perlahan ditinggalkan, plus pesonanya dipudarkan oleh piloks-an anak alay.

Galama di Kuta, kita move menyusuri downtown Legian. Selain money changer yang berserakan dan semuanya mengklaim NO COMMISSION, masih banyak hal-hal aneh yang gua temukan.


Ini maksudnya apa???? APAAAHH???!!!!
Sampe Bali ketemu Chelsea... Duh jadi kangen ya.

Setelah diputer-puter entah ke Kuta, downtown Legian, akhirnya gua tiba lagi di wilayah Bandara Ngurah Rai. Eh lho, mau dipulangin lagi nih? Tapi ternyata Pak Ketut puter balik menuju masjid karena waktunya Sholat Jumat untuk pria dan satu-satunya masjid terdekat ya di deket bandara itu. Sembari nunggu prianya sholat Jumat, para ibu-ibu dan perempuan-perempuan lainnya di drop di Krisna, tempat belanja oleh-oleh. Bentuknya kayak toko gitu, gede, dan pastinya fixed price without bargain.

Gua masuk. Awalnya gatertarik sih, tapi pas keliling-keliling liat harga-harga barang yang lucu-lucu (OKE INI LUCU DAN GUA GEMES), gua langsung pingin nemuin manajernya dan teriak ARE YOU CRAZY? HOW CAN YOU SELL THIS CHEAPLY? IS IT GOOD OR NOT OR WHAT. Lucu dan murah, kata kakdaus yang anak ekonomi tulen "Ada harga ada kualitas..." ya tapi lucu sih, jadi gimana ya... 


Hati-hati bagi yang mampir ke Krisna, jangan belanja sampe lupa sanak saudara di kampung. Bisa-bisa abis seluruh persediaan duit yang dibawa ke Bali. Sekali lagi, tarik napas dan berpikir jernih sebelum jual beha untuk beli oleh-oleh... Ups.

Setelah para pria selesai sholat Jumat, bapak-bapak semua kalap ngeliat istrinya kalap belanja di Krisna. Baru ditinggal sholat Jumat sebentar, belanjaannya udah sedus -_- tapi jujur, kalo disuruh pilih Krisna sama Malioboro, mungkin pilihan gua jatuh ke Krisna. Pertama karena gua gapinter nawar, kedua gua gampang dikibulin, dan ketiga, nawar itu pasti capek kan? Makanya, dari 3 alasan itu, Krisna memenangkan hati gua. Salah nih salah... Sampe di Bali langsung belanja.

Setelah itu makan siang di Krisna (lagi-lagi) Culinary Adventure. Semacem tempat makan punya Krisna juga. Di sana makannya ganeko-neko, karena banyak yang bilang "Cari makan di Bali susah!". Hm...

Sorenya menuju hotel yang ada di Seminyak. Semakin gelap semakin banyak bule berkeluaran dari perut bumi kayaknya. Entahlah hotel itu ada dimana, sampe ternyasar-nyasar nyarinya. Ternyata hotel itu ada di perut Seminyak dan harus melewati jalan-jalan kecil yang sempit... Melebihi celana jeans baggy baru. Bis mulai ngerasa sesek dan kanan kiri bener-bener mepet dinding. Setelah perjuangan memasukan kaki ke celana... Eh, mengendarai bis di jalan sempit maksudnya, here we get.

Malemnya, makan nasi Padang. Sedih juga, udah di Bali makannya nasi Padang, tapi ya berhubung  hotelnya jauh dari mana-mana, akhirnya pasrah. Gua spending the first night in Bali dengan menelpon sang pacar. Berasa pacaran antarpulau... Eh emang iya sih, seenggaknya untuk 4 hari. Niatnya mau telponan dengan baik dan benar, tapi jadinya malah bikin sakit hati plus emosi karena sinyalnya 1 atau 2 bar. Krsssskkk krrrsssskkkk NGOMONG APA SIH COY PUTUS-PUTUS?!!!
Emosi jiwa...
----------------------------------------------------------------------------
Dec 22nd
Puri Madawi - Pantai Seminyak-Krisna - Gunung Batur - Pura Tirta Empul - Goa Gajah - Pantai Lebih

Gua bangun terlalu pagi. Tapi sepagi-paginya gua bangun dan bersiap-siap, orang Hindu berdoa lebih pagi lagi. Tadinya gua pengen moto prosesi berdoa dan peletakan sesaji, tapi begitu gua keluar, sesaji itu udah rapi di taro di tempatnya atau di patung.



Rapi, gua jalan ke Pantai Seminyak, katanya cuma 500 meter dari hotel. Gua menelusuri gang-gang yang sempit dan dilarang dilewati kendaraan, khusus pejalan kaki dan jalan kecil itu berujung di pura yang ditumbuhi rumput-rumput tinggi. Bau dupa. Gua bingung harus jalan kemana sehingga gua ngerasa stuck. Tapi ternyata, orang setempat bilang, lewatin aja puranya nanti langsung ada pantai. Bener ternyata, di balik pura itu berbisik suara debur ombak. Pantai Seminyak di pagi hari...


Pasirnya hitam dan banyak bule berkeliaran. Banyak anjing-anjing berlarian, berbeda dengan dengan Jakarta dimana populasi kucing lebih banyak daripada anjing, disini anjing merajalela. Pantai Seminyak terasa eksklusifitasnya, dilihat dari banyaknya penginapan yang mengelilingi hotel, banyaknya bule yang berkeliaran, dan sepinya pantai. Penginapan yang langsung ngadep pantai Seminyak adalah penginapan besar yang mayoritas di isi bule. Hm no wonder.


Ngacir dari Pantai Seminyak, ke bis dan pergi ke Krisna (lagi). Maka, acara kalap ibu-ibu kembali berlanjut... Di beberapa jalan, di beberapa Pura, banyak orang selamatan, bawa-bawa sesajen dan buah-buahan di atas kepala. Pas gua tanya Pak Ketut, katanya hari ini adalah hari keramat, kliwon yang datengnya jarang yang patut dirayakan untuk meminta keselamatan.
Ada beberapa penyesalan yang terjadi setelah beberapa jam terakhir gua ada di Bali, yang pertama, gua gabawa lap kacamata untuk mengelap kacamata dan mengelap lensa kamera. Ini akibat kemanjaan sekaligus kemalesan gua berpacking. Dan yang kedua, gua ga nyatet jadwal perjalanan.
... Saat gua terbangun, di luar hujan deres dan kabut menutupi wajah gunung Batur yang angkuh.
Gua freezing karena pake celana pendek, ini semua saltum akibat ganyatet jadwal perjalanan. Bener kata mbak Trinity, sebelum jalan riset dulu mau kemana, biar ga saltum.

Di tengah hujan, di hadapan gunung Batur yang berhawa dingin, gua menantang, berlaku seperti orang terstrong pake celana pendek di tengah derasnya hujan gunung.

Hujan gini, tiba-tiba gua keinget satu lagu
Let me go home
Home
Home
I'm just too far
From where you are
I want to go home...
I miss you already, Fir.

Destinasi selanjutnya: Pura Tirta Empul

Pura Tirta Empul adalah pura dengan pemandian di dalemnya. Pemandian itu dialiri air suci gitu yang katanya berkhasiat baik buat para pemandi yang nyemplung disana. Karena ini Indonesia dan bukan Jepang, nyemplung pake baju, bukannya lo telanjang... Gua coba intip ke tempat pemandiannya, dan voila! Gua menemukan banyak hal di kolam pemandian: mulai dari warga pribumi, bule, orang timur tengah, semua satu kobokan, plus berjejer dan mengapung sesajen-sesajen di sekitar dan di dalem kolam. Karena ini hari keramat, jadi sesajen yang bertumpuk makin banyak. Walaupun hujan deres, tetep aja mereka asik berendem, dan bagi jemaat Hindu, walaupun hujan, masih tetep nyalain dupa sambil berdoa.
  
Jalan-jalan ke Pura keramat Bali emang agak bikin sakit hati. Pertama, wanita yang datang bulang dilarang masuk; jadilah beberapa anggota keluarga tertahan di luar Pura. Kedua, harus berpakaian pantas dan sopan, malah ada beberapa Pura yang melarang berpakaian pendek... Itu artinya celana pendek kan? Hah, lagi dan lagi, terbentur masalah celana. Lain kali riset dulu deh sebelum dateng -_-

Destinasi selanjutnya: Goa Gajah
Hujan mereda. Pak Ketut bercerita sedikit-sedikit tentang goa gajah. Katanya, warga Bali punya respek tinggi terhadap Majapahit dan percaya bahwa Majapahit-lah yang menyatukan Nusantara. Warga Bali lebih respek lagi sama Gajahmada, patih Majapahit yang cerdas, taktis, dan kece tiada tara. Berkat Gajahmada, kerajaan Majapahit bisa mengambil alih Bali dari Raja Bali, yang katanya sosoknya gapernah ketauan orang lain selain Gajahmada.

Ya, sedikit history lesson, emang, tapi gua lupa apa kesinambungan antara Goa Gajah dan respek Bali terhadap Majapahit... -_-



Ini yang disebut Goa Gajah, masuk ke dalam, itu goa. I'm not into small room, kurang suka ruang sempit, makanya gua anteng aja di luar. Sambil nunggu keluarga yang lain masuk, gua tanya sama penjaga Pura, kenapa banyak pohon dan patung yang dikasih sarung. Lalu begini jawabnya:
"Kami, masyarakat Bali punya kepercayaan, bahwa pohon atau patung yang disarungi itu punya arwah."
Gua tanya lagi, apa arti dari motifnya, kotak-kotak hitam, putih, atau merah.
"Hitam itu artinya jahat, putih itu baik, dan merah itu berani. Jadi arti sarung itu, arwah yang ada di pohon itu jahat, sekaligus baik, dan berani."
Seketika gua cengar-cengir, sambil ngeliat motif sarung di pohon beringin gede. Berani itu... Bukan berani ganggu kan?

Destinasi selanjutnya: Pantai Lebih
Pantai ini lagi rame karena ada festival Lebih Beach. Penggawang acaranya anak-anak muda Bali, lho. Yang berminat ngecengin anak Bali seharusnya nampang disini, apalagi umurnya kisaran 17an... Hahaha. Banyak bule yang antusias ngeliat festival ini, karena selain ada kesenian Bali, juga ada makanan, plus baju-baju. Gua makan di sana, di salah satu toko makanan laut yang di pintunya ditulis "OM SWASTYASTHU", hm... Lagi-lagi kepo pengen tau artinya :/

----------------------------------------------------------------------------

Dec 23rd
Puri Madawi - Tanjung Benoa - Pulau Penyu - Garuda Wisnu Kencana - Uluwatu

Kalo kemaren naik gunung sampe terbeser-beser kedinginan karena pake celana pendek, hari ini kita jadi anak laut. Berangkat lebih pagi, berangkat ke Tanjung Benoa buat snorkling. THIS.IS.A.LIFE. Snorkling, merasakan sensasi menjadi mermaid.
Sampe Tanjung Benoa, agak mengikis hati juga karena panasnya nyengir sumringah. Plus di wilayah snorkling banyak banget kapal yang berlabuh, salah berenang ketiban kapal deh. Tapi toh udah nyampe dan gua pengen menjajal apakah laut Bali secantik apa yang ada di brosurnya. Grrr, seharusnya gua mandi sunblock pagi ini daripada pulang-pulang jadi Ebony.

Pagi-pagi udah ada yang pesen, "Snorkling ya? Nanti jadi ebony lho" </////3 kak daus :')

Akhirnya, gua naik ke atas boat dan berjalanlah boat itu. Tapi shock juga pas abangnya matiin mesin dan bilang "udah sampai, silahkan nyelam" padahal itu masih di pinggir. Pas di Pulau Seribu aja di boatnya sampe setengah jam baru masuk area snorklingnya... Gua coba menarik napas dan make semua perlengkapan snorkling. Gua menerawang air, ada rumput laut yang melambai. Pasti ijo nih... Maka nyeburlah gua.

To be honest, spotnya biasa. Cuma liat rumput laut bergoyang-goyang, biota lautnya juga gaterlalu beragam. Apa ini perasaan gua aja, atau emang gua merindukan spot snorkling di Pulau Seribu? Di Pulau Seribu visibility-nya oke karena airnya jernih, selain itu arusnya lebih tenang daripada disini... Ah mungkin snorkling spot di Bali yang bagus itu bukan di Tanjung Benoa ya

Setelah nyebur, gua bilas, dan kembali cantik, kemudian glass bottoming ke pulau Penyu. Tapi all I saw was nothing di glass bottom boat itu, cuma ijo-ijo, entahlah... :/ Here's some pics I took there:



Dari Tanjung Benoa, langsung pergi ke Garuda Wisnu Kencana. Sebelumnya mampir di Kompleks Peribatan untuk Sholat. Dan gua akui betapa amazingnya Indonesia yang kaya akan budaya dan mampu hidup berdampingan dengan damai: masjid di sebelah gereja katolik, gereja katolik di sebelah vihara, vihara di sebelah gereja protestan, dan gereja protestan di sebelah pura... Bhineka Tunggal Ika!

Desa Ungaran bisa dibilang amazing dan dazzling, entah kenapa suasananya epic --- jalanannya kecil dan suasananya pretty village, ya tapi di jalan deket GWK-nya itu mulai malesin, macet, tapi yang paling kece, dari jalanan itu bisa liat pantai dari ketinggian... Bravaaahhhhhhhh.

Garuda Wisnu Kencana sendiri juga Epic. Baca-baca keterangan di dindingnya bikin gua jadi banyak tau juga tentang dewa-dewa Hindu. Tapi emang, rame banget. Banyak yang ber-segway ria dan banyak yang duduk-duduk di rumput. Andai GWK udah totally finished pasti kece... Di gunung-gunungnya dipahat muka-muka dewa dalem mitologi Hindu. Haaaaa tapi sayang seribu sayang, proyek GWK berhenti, udah gitu aja. Padahal GWK sendiri udah ngebawa sejenis atmosfir reruntuhan kuil Yunani ala Bali. Halah, cakap apa sih gua...





Destinasi selanjutnya: Uluwatu
Uluwatu, gabegitu jauh dari Garuda Wisnu Kencana. Selama ini cuma bisa liat Uluwatu dari lukisan atau foto orang-orang, karena sebegitu pretty-nya Uluwatu, sampe sering dijadiin obyek lukis sama obyek foto. Denger dari Pak Ketut, dulu ada turis yang udah lama di Bali dan keabisan uang, terus bunuh diri terjun dari tebing Uluwatu. Serem aja... -_- Kata Pak Ketut juga, di Uluwatu lebih baik ga nenteng apapun, karena keranya banyak dan usil. Kamerapun terpaksa gua masukin tas, entar diminta lagi...
Karena gua pake celana pendek (lagi... Dan lagi) gua harus pake kain ungu untuk menutup aurat, aduh entah apa fungsinya, mungkin untuk kesopanan kali ya?

Pics:






 Heran, kera yang nongol kenapa dikit banget ya? Apa efek global warming atau bulu kaki gua menakuti seluruh kera? -_-

Gila men... Uluwatu emang pas buat tempat bunuh diri, sekali lompat langsung kehempas ombak ke lautan lepas, dijamin amsyong -_---- happy-nya uluwatu saat sunset itu indahnya gaketulungan, gabisa ditolelir, dan bikin jiwa manusia manapun jadi melankolis. Gua memandangi lautan lepas dari tebing uluwatu dan bertanya, "Kalo gua naik kapal dari sini, sampe gak ya ke Jakarta?"

... I don't know, I just miss you, Fir.
 
Karena Uluwatu, dan keindahan sunsetnya, sanggup membuat jiwa manapun yang merindu semakin sesak.


Last night in Bali, gua habiskan di KFC Jimbaran. Ya... Udah di Bali, makan masih KFC :)
 
-------------------------------------------------------------------------------------------
Dec 24th
Happy 2 years 4 months :)
Puri Madawi - Nasi Pedas Ibu Andika - Ngurah Rai International Airport Denpasar
Hari terakhir gua habiskan di hotel bermalas-malasan, sebagian famili ngacir ke Pantai Seminyak, namun asal gua udah punya fotonya, everything is alright.
Hari terakhir, hari anniversary, tapi gua meninggalkan Bali dengan sendu, dengan kenangan sedih, dengan panik ngecek inbox, dan segenap rindu yang belum lunas, tapi terhantam badai di tengah perjalanan.

 

Nunggu flight yang agak terlambat, gua duduk di ruang tunggu Bandara Ngurah Rai. Di depan gua ada bule yang tidur nyenyak --- dia tiba-tiba bangun terus lari kebirit-birit ke toilet, nyeker. Setelah dia ngobrol sama orang sebelah gua, rupanya dia salah makan di Bali,  dan gaenak badan. Padahal dia mau surfing di Pulau Komodo, mana ternyata dia udah duduk disitu semenjak pagi dan ternyata sampe sore pesawatnya delay. Kasian, gua kira mabok, ternyata gaenak badan. Terus orang sebelah gua ngasih dia Tolak Angin sambil kedip, "Indonesian Herbal Medicine," dia bilang. Bule itu minum, dan dia mengernyit, "Mint," katanya. "Yes, and ginger," kata orang disebelah gua.

Akhirnya gua meninggalkan Ngurah Rai dengan penuh tanya, penuh sedih, personal reason. Tanda sabuk pengaman dinyalain karena pesawat terus-terusan trembling karena cuaca yang kurang bersahabat. Macam drama saja -- mentang-mentang gua sedih pesawat ikut trembling.

Soekarno-Hatta diterpa hujan deras. Inbox gua tetap seperti sediakala dengan pesan terakhir yang gaenak di pandang mata. Ah... If you ever leave me baby, leave some morphines at my door...

... Let it rain
... Let me sink in the flood.

Mohon maaf saudara, post ini harus berakhir dengan kegalauan yang belum terlunaskan... Dan mohon maaf juga kalo fotonya kacangan atau tidak mempunyai nilai estetika yang patut dibanggakan... Hualah.
Have a nice day! :) 

Om Shanti-Shanti! :)

Ps: Om Swastyasthu, kata pak Ketut, artinya selamat datang, untuk lawannya bisa diucapkan Om Shanti Shanti... Kurang tau tulisannya gimana, duh, yang artinya selamat jalan ;)   

2 komentar:

  1. oya untuk diluruskan saja, sebaiknya bukan hari 'keramat' melainkan 'hari suci' :)
    lalu mengenai kain yang bercorak hitam-putih (poleng) melambangkan Rwa-Bhineda (sifat yg berlawanan yg ada di bumi. Semisal baik dan buruk, dll. tentang penggunaan kain saat masuk ke Pura menurut saya dimana-mana juga akan sama setiap umat yang akan memasuki tempat peribadatan pasti akan menggunakan pakaian yg lebih sopan :) tidak etis saja berseliweran didalam tempat suci menggunakan pakaian yg minim :)
    Oya sekedar saran jika ingin menikmati wisata bawah laut, coba untuk mengunjungi pantai Tulamben :)
    Tanjung Benoa lebih dominan untuk wisatawan yg ingin melakukan kegiatan water sport.
    Proyek GWK belum berhenti melainkan masih dalam proses, suatu proses kan tidak dengan cepat terjadi namanya juga proses, hehehe

    Om Swastyastu sendiri berarti semoga ada dalam keadaan yang baik dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi. biasanya diucapkan sebagai salam pembuka,
    Sedangkan Om Shanti, Shanti, Shanti Om berarti semoga damai di hati, di dunia dan di akhirat yg digunakan untuk salam (sekaligus doa) penutup.

    Semoga informasi ini dapat menambah wawasan anda, tetap menulis :)
    Salam!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terima kasih banyak ya kritik dan sarannya, juga pengetahuannya soal Bali. Saya sempat nyari info kesana kemari, tapi dapetnya cuma sedikit atau mungkin saya yang kurang paham ya? hehehe... Saya seneng banget kalo ada orang yang bisa menjawab pertanyaan saya seperti ini. Terima kasih! :)

      Hapus