Sabtu, 28 Desember 2013

Sawarna: Beauty Needs Efforts.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Hello everyone who still has breath and heartbeats in life. Have you ever feel so blessed about that?

Pertama-tama I'd like to say happy holiday for all of you. And for me, just holiday without 'happy'... Yes?
Hahaha I don't know I just think that my 'happy' holiday becomes extinct.
Um, yeah, personal reason.

So as we all know, it's holiday season. People book their tickets: train, bus, even plane. And I'm sitting here like, "Ah it feels so great if I could escape this house and runaway to any mountain to celebrate new year's eve...". So have you gone somewhere this holiday?

Oh yes, if anyone's asking, I said I had gone somewhere.
Ah udahlah sok-sok inggrisnya... Tired of combining words on mind haha.

Jadi liburan ini, ya tepatnya sih udah lalu ya... Gua jadi kordinator liburan keluarga. Mulai dari ngumpulin anggota keluarga, ngasih tau info-info mau stay dimana, apa aja akomodasi, berapa budget, sampe apa yang harus dibawa, plus juga nyocokin jadwal masing-masing anggota keluarga supaya bisa klik pergi bareng-bareng. It was all tiring, gua jadi menghargai jasa yang namanya manager karena emang ga gampang untuk melakukan semuanya.

Intinya, setelah gua mendapat perintah untuk menjadi koordinator, gua mendapat titah untuk menyampaikan kemana destinasi liburan. Tadinya, mau ada beberapa destinasi, yang pertama Ujung Genteng, somewhere near Sukabumi, well known as 'best place for beach of paradise seekers" dan Sawarna, somewhere in Banten, also well known for its beautiful beach.

Untuk ke dua tempat itu, kita harus nyiapin 3 hari 3 malem berpergian, dengan budget 820 ribu (harusnya 750 ribu sih, cuman karena liburan aja pada naik). Oh God... Duit belum ada. Akhirnya diputuskanlah cuman ambil trip ke Sawarna untuk 2 hari 2 malem dengan budget 450 ribu yang melonjak sampe 570 ribu karena holiday season.......

Okay... Well then. Let's start!
Gonna tell you by pictures and (maybe lot of) words.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Night 1

Gua berangkat dari rumah jam 9 malem dengan modal 1 backpack dan satu tas kamera yang digembol. Niscaya 2 hari kedepan gua akan ngemil-ngemil cantik pake mie cup. Sedih sih, ngakunya future doctor tapi gaya hidupnya masih keras...

Tapi mungkin kalo disuruh pilih jadi dokter yang kerja di rumah sakit atau jadi tim medis National Geographic, gua bakal milih opsi kedua ;)

Sawarna terletak di Bayah, pedalaman Lebak, Banten Selatan. Kalau kita menyusuri garis pantainya ke arah timur, niscaya bakal nyampe Ujung Genteng, Sukabumi. Tapi berhubung budget yang mencekik, jadi kita just stuck in a place ya...

Biar kata rumah gua di Banten yang hampir deket Tigaraksa, tetep aja perjalanan ke Sawarna seems hard to deal. Katanya jalanannya jelek dan biar kata di Banten, tetep makan waktu lama. Makanya gua berangkat jam 9 malem dengan ekspektasi nyampe di Sawarna ketika sunrise.

Sepanjang perjalanan, emang terbukti kalo medan jalanan menuju Sawarna emang agak hard. Bukan agak deng, 'agak' itu karena orang travel yang nyetir, coba kalo nyetir sendiri... Bisa makan stir kali. Jalanannya gujlak gajluk, bikin kepala kejedot terus ke kaca. Terus ternyata jalanannya jalanan pegunungan yang naik turun lumayan ekstrim, dan berkelok-kelok. Beberapa saat, bagian kanan kirinya hutan yang bener-bener literally hutan, awut-awutan dan gelap. Sinyalpun mulai dari 3G, merambat ke EDGE, dan kadang SOS. Untuk ukuran destinasi liburan di Provinsi yang sama, Sawarna cukup keras. Belum lagi di luar hujan dan beberapa spot gaada lampu jalanannya, terasa agak spooky aja.

Day 1
Akhirnya setelah singgah di pom bensin (cuman ada 2/3 pom), akhirnya mulailah sesuatu yang cair itu keliatan dari jendela mobil. Sesuatu yang masih gelap dari kejauhan, tapi pasti itu air. Siluetnya meyakinkan. Dan setelah matahari mulai sedikit mengintip ngantuk dari balik awan, semua nyata indahnya. Sawarna, yang artinya mungkin 'satu warna' untuk orang Sunda, ternyata berasal dari nama pemerintah daerah setempat selama masa penjajahan Belanda.

Dari kejauhan dan ketinggian, terlihat skyline Sawarna. Warnanya oranye malu-malu. Ada 2 karang yang menyembul dibaliknya. Dan ombaknya keliatan kencang berlari.
Bagus, bagus sekali...

Karena emang belum nyampe spotnya, jadi kita harus naik mobil lagi, lanjut untuk sampe ke homestay. Dan galama, cuman sekitar 30 menit, gua sampai ke wilayah homestay. Baru sampe 'wilayah'nya, belum homestay tunggalnya. Ternyata homestay bisa kesampean asal jalan dulu. Jadilah gua menenteng-nenteng bawaan dan nyari-nyari homestay.

Sebelum nyampe homestay, gua harus melewati jembatan gantung. Literally jembatan gantung yang ajrut-ajrutan dan bikin mual. Dengan was-was gua liat kanan-kiri. Cuma bisa satu jalur emang, tapi herannya, udah ajrut-ajrutan setengah mati, masih banyak turis yang nekat nyewa motor. Kayaknya males banget jalan... Kesana-sananya, gua harus melewati areal homestays (jamak) yang terkadang ditambah 'hiasan' kandang ayam/bebek/soang/entok, rupanya orang lokal suka pelihara unggas ternak, dan juga ngelewatin sawah. Padinya baguuuuus banget.









Akhirnya setelah jalan beberapa lama, sekitar 300 meter, sampe di homestay. Berebutan kamar sama anak-anak kecil, terus leyeh-leyeh sambil manja-manjain kepala yang semaleman ciuman sampe gempor sama jendela. Perlu diingat, di Sawarna gaada resort. Semua masih homestay-homestay sederhana yang satu kamarnya isinya cuman kasur yang ditaruh di atas lantai, bantal (no guling), satu buah meja, dan kipas angin, tapi kamar mandi ada di dalem. Tapi masih mending, makan 3 kali sehari dibikinin sama pengurus homestay, TV juga ada di rumah si pemilik dan kita bisa nebeng nonton, plus ada dispenser di depan kamar yang ada hot and cold-nya jadi bisa bikin mie cup.

Kalo emang mau cari luxurious holiday yang ada spa dan jacuzzi, plis banget jangan ke Sawarna. But if you want to know nature for more, Sawarna provides that for you.

Setelah makan dan semuanya, gua siap-siap tracking dengan dandanan cewek kuliahan yang tipikal banget (cih) hahaha, dengan pake jeans (Um... Karena males ganti-ganti baju), tshirt, dan sweater tipis. Sepatu gua pun sepatu kuliah karena terlalu mager untuk packing dan cari sepatu khusus. Destinasi selanjutnya adalah Goa Lalay. Judulnya hari ini: TREKKING PAKE SEPATU PESOLEK.

Goa lalay, in Indonesia usually called "Gua Kelelawar" (Lalay : Kelelawar) or Bat Cave, in English. Perjalanan ke goa Lalay ngelewatin sawah yang bener-bener berlumpur, harus siap kotor, dan jembatan gantung yang kali ini bener-bener minim pegangan dan lebih parah dari jembatan gantung menuju homestay, dibawahnya ada sungai yang alirannya deras. Belum begitu capek trekking, akhirnya kesampean deh goa Lalay.








Sebenernya di Sawarna ini ada beberapa jalur goa. Ada goa Kadir, Goa Lalay, Goa Abah Salim, dan Goa Rawis. Yang paling cemen dan beginners friendly itu goa Lalay, dan yang paling ekstrim itu goa Kadir karena ada vertical cave yang gaditembus matahari, dan gua Rawis yang harus rapelling 27 meter. Butuh equipment juga skill yang lebih canggih, sementara kalo goa Lalay cuman butuh senter dan helm. Trayek goa lalay sebenernya 1,8 km, tapi yang bakal ditelusurin cuman 300 meter, karena kedalemnya butuh equipment dan skill yang lebih. So here, as you can see:










Goa lalay bukan goa biasa. Dia itu goa yang dialirin sungai, jadi kita harus nyemplung paling dalem sepaha. Lupa, apa istilahnya untuk goa yang digenangi air gitu, tapi ya kira-kira begitulah. Di dalem goa lalay ada satu celah kecil, nah itu goa bawah air yang sempit dan butuh perlengkapan diving kalo mau masuk ke dalemnya. Nanti nembusnya ke goa lain. Bentuk keempat goa Kadir, Lalay, Rawis, sama Abah Salim ini kayak bintang dan nanti ketemu di bagian tengah.

Di dalem goa lalay, ada stalagtit dan stalagmit, dan kotoran kelelawar dan di langit-langit, banyak kelelawar nangkring. Tipe kelelawar disini adalah kelelawar pemakan serangga. Walaupun kita gabisa liat kaki kita, tapi terasa banget kalo kita menapak di atas pasir. Hati-hati, licin dan permukaannya ga rata. Jelas ini cobaan buat gua yang pegang kamera...

Keluar dari Goa Lalay, gua lanjut trekking ke Pantai Legon Pari, yang katanya cantik dan pasirnya putih. I love white sand beach. Tapi jalanan menuju sananya ga cantik... Pertama-tama lewat sawah yang jauh lebih berlumpur dan lebih menjebak, berkali-kali orang keperosok saking licinnya. Karena gaberguna, sepatu gua lepas dan nyeker. Tapi lebih baik begitu, sesuai instruksi tour guide, jari-jari kita di-desain canggih oleh Tuhan. Inilah gunanya jempol. Saat lo merasa licin, tancepin jempol lo ke tanah dan dia akan nahan tubuh lo yang berkali-kali lipat beratnya dari dia.

Abis itu gua juga harus nyebrang sungai dengan nyemplung tanpa jembatan. Beberapa orang mulai nyuci sendal dan ngejar-ngejar sendalnya yang kebawa arus. Abis itu gua nanjak di hutan yang beneran hutan. Agak curam di kiri kanannya dan banyak suara burung. Karena terlalu sibuk foto-foto, gua jadi ketinggalan di belakang sama guide, namanya Mas Teguh, beserta om tante yang bawa anak kecil. Dia cerita, katanya di dalem hutan ini, kekayaan faunanya masih bagus, karena dia pernah ngeliat kucing hutan asli, macan kumbang, dan babi hutan, jenis-jenis burung hutan juga masih ada. Dia juga bilang, katanya macan tutul sama macan kumbang masih bersaudara cuman beda gennya sedikit, karena sebenernya macan kumbang ada tutul-tutulnya, cuman warnanya gelap jadi kurang terlihat. Dia cerita,
katanya kalo kuliah ambil yang belakangnya -logi, kayak dia anak geologi, kerjanya balik ke alam melulu.
"Kuliah itu, yang penting skill di lapangan...," katanya sambil nyengir.

Kok gua jadi agak merenung.


Setelah nanjak bukan sembarang nanjak, tibalah saat harus turun dan itu super licin, dan nyaris udah gapake kaki lagi, alias pake pantat. Jalanannya becek dan banyak duri-duri gitu, it hurts my feet, tapi yaudahlah, masih ada benang-benang fibrin kok yang siap bertugas. Setelah berseluncur mesra dengan tanah, akhirnya debur ombak itu terdengar. Laut yang biru itu terlihat, mulai menampakkan diri, dan gua merasa bener-bener berhasil. Beautiful. Kalo Zainuddin bilang pake logat Bugis-Padang, "Aih....... Cantik kali......." *silahkan bayangkan sendiri*

Pantai Legon Pari adalah pantai pasir putih yang ga neko-neko. Gakayak di Bali yang gabisa rileks karena banyak orang dagang dan nawarin tattoo, disini cuman ada perahu-perahu, beberapa saung, dan beberapa orang yang ga maksa untuk beli dagangannya, nawarinpun ga, dia cuman senyum-senyum aja dan nunggu orang beli. Suasananya tenang, ga rame, mungkin karena effort perjalanan tadi. Di pantai Legon Pari ini ombaknya agak friendly, jadi masih boleh berenang. Dengan kata lain perjalanan ke Legon Pari itu kayak usaha cewek: kalo mau cantik, harus sakit.

Ya, ke Legon Pari, harus ada effort-nya dengan trekking, sama kayak kalo mau cantik, harus ada diet dan make-upnya.




Pulang dari Legon Pari, jalanannya gaseberat tadi, ber-conblock, jalurnya lain lagi dari pas berangkat. Namun karena ber-conblok there were some nekat people driving on motorcycle. Ada turis yang sewa motor, terus cengtri sama bininya yang bawa bayi. Giliran nanjak bininya yang lagi gendong anak disuruh turun... Si suami ngegas sendiri... Apanya yang sayang bini. Begitu juga pas turunan.

Saran gua, sebaiknya gausah pake motor deh kalo menuju Legon Pari. Biar kata ber-conblock ya jalan aja, capek sih, tapi lebih aman, karena notabene jalannya curam. Nanjak curam, turun curam, yang ada motor malah nyosor dan nabrak, ujung-ujungnya jatoh. Mending jalan kaki, beneran. Selain terasa effortnya, tubuh kita itu lebih hebat dari mesin, karena setiap bagiannya udah kompatibel untuk menghadapi jalan nanjak, turun, berbatu, ataupun halus sekalipun.

Habis selesai nanjak dan turun, gua akhirnya nyampe areal persawahan dimana tanahnya abstrak. Lumpur, campur air, tapi bau kayak kotoran kerbau. Udah pasrah... Biarlah kakiku ini bau asal aku bertemu homestay. Gua udah gapeduli mau napak dimana atau nginjek apa, yang penting sampe!



Di sawah ini, gua kembali menjadi yang terbelakang. Diawasin lagi sama tour guide yang satu, namanya Mas Awal. Dia cerita-cerita katanya segini tuh belum apa-apa.
"Saya baru 2 bulan sih gabung di tour gini, tapi saya udah terbiasa jalan, Mbak. Saya pernah ke Semeru, Mbak, 9 jam mendaki. Saya juga pernah ke gunung Salak, ikut nyari korban Sukhoi, alhamdulillah saya nemu 2 orang masih hidup. Di situ pencinta alam sama pendaki ikut semua mbak. Saya bareng mas Teguh. Besok saya mau ke Gunung Ciremai, mendaki lagi. Saya dulu anak PMI, jadi kalau masalah pertolongan, saya masih bisa kok."

Iri juga sama hidup yang begitu. Kayaknya asik gitu, penuh tantangan, bukannya stuck di kemacetan yang sama, pergi ke tempat yang sama... Setiap harinya... Ah.




Pulang-pulang dari Legon Pari, betis gua nyut-nyutan klimaks. Ngeliat pager homestay rasanya terharu. Akhirnya................ After all this time. Gua langsung mandi dan ngosrek jeans yang udah gakaruan rupa dan baunya. Abis itu gua tidur-tiduran, makan siang, dan tidur-tiduran lagi. Sorenya, gua bakal liat sunset di Karang Teraje, icon Sawarna.

...Manusia bisa berencana namun Tuhan yang menentukan.
Gua bangun jam 5 sore, ketiduran. Dan tour guidenya udah pergi duluan. Karena semua orang gabisa dibangunin, dia cuman bawa sodara gua yang (luckily) bisa bangun dari tidurnya. Gua hanya termenung dan cengo. Gua gadenger dibangunin....... Dan gua harus melewatkan sunset di Karang Teraje yang katanya bravo banget. Sodara gua cengar-cengir habis dari Karang Teraje. "Bagus, Mbak. Bagus banget," dia mamerin foto-foto yang dia ambil pake iPod. Huuuuu gara-gara trekking tidur jadi ngebo maksimal.

Day 2
Gua terbangun jam 5 pagi dan terdengar suara air. Ah, hujan rupanya. Gua harap-harap cemas, takut gabisa ke Karang Teraje. Gua gapernah terlalu greget soal tempat wisata, tapi kali ini gua kekeuh mau liat Karang Teraje. Entahlah, mungkin karena selama ini yang namanya effort itu gapernah dikecewakan sama Sawarna. Sawarna is a natural exotism, and if they said Karang Teraje was the icon, then it should be great, right?

Rupanya Tuhan bener-bener sayang sama gua. Hujan berhenti sekitar jam 6, padahal tadinya deres. Akhirnya gua mandi dan bebenah secakep-cakepnya (ahem) dan makan di pantry/dapur umumnya homestay. Di sana ada bule cewek sama anaknya yang cewek juga. Mereka udah beberapa hari ini tidur di sebelah kamar gua. They were family consisting of mother, father, and daughter.

Mereka ngomong dan gua mendengarkan. Mereka berbicara dengan seksi dan banyak 'ng' nya dan gua berasumsi mereka orang Prancis. Anaknya duduk nonton Spongebob versi Indonesia sambil makan. Gua mau ambil aqua gelas yang ada di depan anaknya. Gaenak, akhirnya gua paksa ngomong permisi. "Excuse moi..." gua bilang. Yang nengok malah emaknya.

Bubul (Ibu bule) : You can speak French?
Gua: Oui, je parle francais... Un petit peu...
Bubul: Un petit peu? Oh oui, oui...

Dan conversation pun berlanjut tanpa diminta. Kelihatannya bubul antusias sampe lupa dia lagi makan.

Bubul: You learn french? Where? At school?
Gua: Yes, I learn that from school. Ce n'est pas facil, you know.
Bubul: Yes, frech is not easy... It's hard to be taught too just like my daughter.
Gua: Yes, because it has many transition like "Nous parlons" "Vous parlez"
Bubul: Indonesian is still simpler. You know like "Saya mau makan", it's still easy...
Gua: Yes, it's simple. So your daughter has difficulties of learning french? By the way, elle est belle...
Bubul: Ah, she tells that you're pretty. Cantik... *dia ngomong ke anaknya*
Gua: Eh, by the way where is your husband?
Bubul: Ah, you know he likes surfing so much. He was gone this morning, to the beach. Surfing again.
Gua: If your husband likes surfing so much, why don't he goes to Mentawai in Sumatera? Hear a lot that it's a good place for surfing.
Bubul: Hmm, I hear that too, but we're afraid of malaria you know. We had been in many places, Nias, Jakarta, and also Ujung Genteng, and we plan to stay here in Sawarna until 4 January.
Gua: Ah Nias! That sounds nice. The wave's good, isn't it?
Bubul: Yes, it's good! My husband likes surfing so much and I'm staying here just to take care of my daughter... *ketawa*
Gua: Ah, she's not lonely here?
Bubul: No, she has friend over there. Her friends are Indonesian and she talks to them using body gestures. She also can watch Indonesian TV all day. Just see the pictures without knowing the meaning.
Gua: *ketawa* I can't imagine how to deal with that...
Bubul: I had been to Jakarta and that time she wants to go to China Town... And you know? What I did was bringing her to Glodok! China Town...
Gua: China Town... Glodok......... How could you think about that while others couldn't. You're right..........
Bubul: I was taking public bus to there and got so many differences between central Jakarta and Glodok you know. Central Jakarta has many museums and monuments... But Jakarta is really pretty, after all. That day I also missed flight because of flood...

Dan the story keeps going on. Ngomong-ngomong si bule ini pinter banget sampe tau blusukan kalo Glodok itu China Town-nya Jakarta. Dia cerita lah kejebak banjir, ketinggalan flight, terus dia pernah ke Surabaya dan belum mau ke Jawa Tengah karena takut gunung Merapi meletus dan dia ketinggalan flight lagi. Sampe akhirnya dia cerita kemarin jatoh dari motor karena nekat ke Legon Pari naik motor. "Argh, bad experience!" dia bilang. Akhirnya, gua terpaksa harus pamit duluan karena harus ke Karang Teraje. Berawal dari "Excuse moi" dia jadi curhat sama gua dan sodara-sodara gua...

Gua menyusuri Pantai Ciantir yang lagi-lagi berpasir putih untuk sampe ke Karang Teraje. Karena sambil foto-foto pantai dan jalannya di pasir, perjalanan kali ini gagitu berat. Oh iya, berhubung ombaknya kenceng dan bersifat narik, dan beberapa bagian ada karangnya, jadi disini dilarang berenang. Ini dia pemandangannya:



Lovebirds...



Akhirnya setelah jalan-jalan cakep di pantai, ketemu juga Karang Taraje yang tinggi menjulang. Cantik... Cantik... Dia seolah dilindungi dari air sama karang-karang di sekitarnya. Dia berdiri angkuh dan kering. Tapi secantik-cantiknya Karang Teraje saat itu, pasti lebih cantik kalo sunset... Langsung keinget sendiri gajadi foto kemarin sore.

Agak berbeda sama Pantai Legon Pari, Karang Teraje agak lebih accessible, sehingga lumayan banyak orang dan banyak pedagang, serta banyak tukang ojek yang muda-muda, agak terlalu bersemangat, dan tengil! Pesan gua, selalu perhatikan barang bawaan, mending bawa yang perlu-perlu aja, soalnya Sawarna mungkin destinasi wisata yang sederhana, tapi namanya kejahatan ya emang ada aja. Sempet ada kejadian tas sodara 'diumpetin' gitu di lesehan warung dan ditutupin jaket sehingga ga keliatan, padahal kita ga duduk di lesehan warung itu. Pas ketemu, untung isinya masih utuh tanpa kurang apapun.

Untuk mencapai kaki Karang Teraje, kita harus jalan dulu ke tengah, melewati gugusan karang-karang dan permukaan yang ga rata. Di bawah batuan karang itu, ngumpet ikan-ikan, bintang laut, sampe uler laut yang sembunyi dibalik pasir. Just watch out. 




Dan penting, bagi yang suka bawa kamera dan suka selordoh, plis banget dikurangin karena ketika lo jalan permukaan yang lo injek itu gatentu. Airnya bisa semata kaki, eh satu langkah kemudian selutut. Hati-hati, kamera dikalungin aja. Watch your steps.
Inilah keagungan Karang Teraje dan ombaknya yang kasar menampar:






Setelah dari Karang Teraje, gua pulang dari Sawarna. Sedih juga, hiks. Rasanya gamau balik, apalagi tour guide-nya cakap dan cakep *eh*. Hahaha setelah packing, akhirnya gua pamitan sama si bubul. "Au revoir......" gua bilang, terus dia bilang "Bye bye! God bless!" Seneng banget sih ngeberkatin orang... Eh God bless itu artinya sama aja kan ya sama wa'alaikumsalam? ;p

Aduh sepertinya post ini udah maha panjang... Sekali lagi, let me get this straight. If you want to try luxurious holiday near the beach, make sure you go to the right place, maybe Bali. But if you want to seek the greatness of nature, the sensation of coming back to mother nature, well Sawarna is a perfect place. Just imagine you sit in the middle of yellowish ricefields and 'ditembak' in the middle of the silence by your crush.......
And having a date right on the beach.

Well, I'm having you fly to my words!

Once again, thank you. Gua harap informasi ini berguna untuk yang mau pergi, dan berguna juga memajukan pariwisata Sawarna. But please Sawarna, I beg you not to be so famous and then you lose your natural charms... Please stay natural.

Happy holiday! :)

2 komentar:

  1. boleh tau ga itu foto-fotonya pake kamera apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah maaf baru balas :) saya pakai Nikon Coolpix L110 hehe

      Hapus