Kamis, 13 November 2014

Bienvenue à Indonésie, ma sœur d'un autre monde!

(THIS BLOGPOST HAS MATURE CONTENT. Make sure you are mature enough to process this.)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!
Selamat sore, semuanya!

Sangat menyedihkan untuk mengaku bahwa belakangan ini gue... Lupa punya blog. I don't know, hal yang sangat absurd ini nggak pernah terjadi sebelumnya dalam hidup gue; bertahun-tahun punya blog, setiap lagi ngapain, pasti inget mau nulis. But nope, right now I am easily forgetting EVERYTHING.

Tapi nggak lupa kok sama kebaikan kamu selama ini.

Ets, salah fokus deng.

Oke, balik ke inti. Jadi ingatan gue yang memendek ini gue harap bukan impact dari matinya sel-sel otak gue, because these days I had rough days -- rough, rough, days -- menjelang ujian blok Jantung. Walaupun sekarang ujiannya udah lewat, tetep aja takut. Setiap nulis di sini, pasti gue curhatnya ujian blok terus, gue sampe bertanya-tanya entah kapan gue akan nulis di sini dalam keadaan benar-benar rileks... Huft.

Bahkan gue lupa nanya kabar! Apa kabar semuanya yang membaca ini? I hope you're doing fine with your life, of course. You live only once so take it to the fullest!

Jadi, kembali ke judul post yang bener-bener asal, murni hal yang terlintas dalam pikiran gue, I want to tell you about my recent life -- di luar kegelisahan dan kegundahgulanaan gue akan ujian blok, tentu saja.

So, maybe this is how I should start...
Sekitar bulan April - Mei - Juni, entah kapan exact-nya gue nge-post, gue mempublish cerita travel gue dengan bule-bule gemes pertukaran pelajar. Semenjak post itu di publish, banyaklah yang bertanya-tanya dan juga berasumsi, kok bisa orang kayak gue temenan sama bule. Lucu deh, asumsinya; ada yang bilang gue daftar jadi tour guide lah, ada yang bilang gue asal nemu terus foto-foto lah... Intinya, asumsi tersebut dibuat karena mereka cuma liat foto aja, tanpa membaca. Duh, kapan majunya Indonesia kalo rakyatnya di suruh baca aja males...

Jadi penjelasan seadanya adalah: sepupu gue ikut pertukaran pelajar bulan Agustus ini sampe bulan Agustus tahun depan -- dia di ekspor ke Brazil. Tante gue, sebagai salah satu dari orang tua yang ditinggalkan, mempunyai kewajiban untuk menampung beberapa bule-bule gemes di post gue kemarin, karena mereka ada conference di Jakarta. Intinya, karena konferensi itu di Jakarta, datanglah seluruh bule pertukaran dari penjuru Indonesia, dan pastinya butuh rumah untuk menampung. Jadilah tante gue menampung, dan jadilah image gue sebagai tour guide mulai terbentuk.

Cukuplah sudah membahas bule-bule gemes yang kemarin, karena gimanapun mereka toh udah pulang ke asalnya. Sekarang, giliran sodara gue di ekspor ke Brazil; tinggal di rumah orang yang belum dikenal, dengan bahasa yang nggak dikenal baik, dan dengan culture yang baru, dan tante gue yang menjadi pihak yang ditinggalkan, harus menampung 1 anak asuh yang kebagian pertukaran ke Indonesia.

Jadi calon sepupu lain-ras lain-budaya gue ini berinisial AR, yang mana berasal dari Prancis. Bukan dari Paris-nya sih, tapi dari Nantes.

Kalo disini ada yang menggemari blog gue dan baca dari tahun-tahun lalu, pasti tau gue suka banget sama Prancis. Mimpi gue adalah ke Prancis. Naik menara Eiffel. Kalo bisa jadi mahasiswa L'universite de la Sorbonne. Sampai sekarang masih sangat mimpi buat gue, since I am still not able to collect my own money dan gue terlalu kolot dan penakut untuk nyobain exchange atau nyari beasiswa untuk study abroad, khususnya ke Prancis. Ah, the fault is on me, pokoknya!
Tapi siapa yang tahu, terhitung 4 tahun semenjak nulis post itu, AR dateng ke hidup gue?
"Lo mungkin belum nyamperin Prancis, but at least, Prancis nyamperin lo.", kata salah seorang temen gue.

Awalnya, kedatangan AR menjadi sedikit horror buat gue, karena pandangan gue terlalu terpengaruh sama tingkah laku bule-bule gemes yang kemarin... Yea, should confess a bit that when they gathered with their friends, they became a bit wild and lost their control. Ngerinya sih gue takut terkesan kolot kalo gaul sama dia nantinya -- apalagi dia bakal tinggal selama 1 tahun, bukannya cuma beberapa hari kayak bule-bule gemes kemarin...

Di tambah dengan cerita dari salah satu temen Jepang kemarin, Hideto, yang ikut exchange modal nekat dan nggak bisa bahasa Inggris dan Indonesia sama sekali... Gila, horror banget deh, nggak horror aja. Ngeri juga sih kalo harus bantu ngajarin bahasa Indonesia dari basic banget, apalagi kalo doi nggak bisa bahasa Inggris juga, bisa-bisa 3 bulan ngomong pake body language...
Gue langsung ngobrak-ngabrik lemari gue nyari kamus Indonesia-Prancis yang udah lama nggak gue pake.

Rasanya kayak balik SMA lagi -- belajar bahasa Prancis lagi sambil buka-buka kamus.
Setelah sekitar sebulan persiapan, akhirnya datang juga harinya dia dateng.

Malem itu, entah malem apa gue lupa, yang jelas hari Minggu, gue jemput AR di bandara. Kabarnya, dia bakal telat karena ada demo maskapai Air France (saat itu gue terkesima bahwa orang-orang di bangsa maju bisa demo juga) dan dia terjebak di Paris berjam-jam. Jadilah gue di bandara, ngopi-ngopi sambil berharap-harap cemas bahwa AR will be okay with me -- mengingat gue akan sering bertemu dia dan ngajak jalan-jalan.

Jam 8 malam, akhirnya terlihatlah bule blonde dengan jas rotary warna biru, muncul dari balik kerumunan. There she was, standing, looking so tired but still smiling.

"There was a demonstration of Air France crew so I was stucked on Paris for hours!," dia ngomong dengan English yang patah-patah. Terus dia bilang, "Capek sekali."

Dan detik itu gue sadar usaha gue nggak akan sebesar itu untuk ngajarin dia.
"Wah, udah bisa Bahasa Indonesia. Belajarnya bisa lebih santai dong!"
"Be-la-jar? It's like studying?"
Gue menganga. Apalah maknaku disini kalau tanpaku kamu sudah luwes...
"Yes, I have learned it a bit. My father gave me book."

Intinya, setelah perkenalan, malam harinya gue menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol sambil makan pizza sama dia, What I remember the most is the moment ketika dia dengan jaimnya ngambil garpu, pisau, dan piring untuk makan pizza, sementara sifat santai-homey Indonesia gue keluar begitu saja -- habis dia ambil pizza, gue nyomot potongan pizza lain pake tangan. Dia melongo. Dan akhirnya bilang,
"I thought you should eat pizza with fork and knife here!," dan melepas semua atribut makan -- ikut makan pake tangan. Kesimpulannya, bule bisa jaim juga ternyata.

Setelah beberapa bulan terakhir ini gue resmi di daulat menjadi part-timer tour guide, gue jadi mendapatkan beberapa benefits, diantaranya conversation bahasa Inggris terasa lebih mudah buat gue -- berhubung bahasa Inggris doi patah-patah juga, ya jadi gue ada temen patah-patah. Dan lebih banyak gerak bakar kalori juga sih, soalnya selain nganter dia jalan-jalan, banyak ngobrol, kadang kalo mentok jadi harus pake body gestures... Dan menurut gue itu bakar kalori, haha! Dan juga, bahasa Prancis gue jadi sedikit lebih terasah, baik written atau oral, because sometime kalo dia baca buku Prancis gue suka nebeng ngintip, dan kadang suka belagu-belaguan juga conversation pake bahasa Prancis, hahaha!

Dari seorang anak perempuan berusia 15 tahun ini, gue juga menyerap banyak kebudayaan dia, dan juga kritik dan pertanyaan seputar budaya negeri Bhinneka Tunggal Ika-- because she's very extrovert -- she's gonna answer every question you pose, and also, her enthusiasm about Indonesia is beyond expectation. Dia suka bertanya dan suka menjawab, dan karena gue lagi gabut, let me show you some questions and answers- moments between us:

1. Orang Indonesia suka selfie.
THIS IS TRUE. Okay. Mungkin gue nggak boleh menggeneralisasikan, but I think this is quite true. Ini AR yang bilang, dan gue cuma mem-validasi -- it's all up to you to agree or to oppose!
Jadi statement ini berawal saat dia lagi mengunjungi sekolahnya kelak di Indonesia. Begitu liat seorang bule blonde masuk, semua kamera dan tongsis siap ditenteng, dan nggak lama kemudian dia diserbu massa untuk dimintain selfie bareng. Akhirnya dengan mimik wajah campur aduk dia cerita sama gue kalo abis dikeroyok selfie -- dan dari hasil gue ngestalk instagram anak-anak sekolahnya (well, should admit that gue adalah olahragawan, di bidang stalking), memang sekitar 20 orang ada yang memuat foto selfie sama dia.
Okay.




Salah satu contoh nyata orang Indonesia suka difoto.

2. Orang Indonesia suka kalap liat bule.
THIS IS TRUE. Sebenernya point ini adalah keberlanjutan dari point sebelumnya, dimana dia dikeroyok selfie karena dia bule banget. According to my experience dengan 4 makhluk pertukaran pelajar sebelumnya, pas gue ke Kota Tua, memang orang Indonesia 'nyemut' banget sama bule. Kalo orang itu appearance-nya bule banget, emang suka banget diajak foto. Dan dari pengamatan gue, AR memang appearance-nya bule banget plus she's blonde. So?
Sekali lagi, gue nggak bermaksud meng-generalisasikan and by the way this is not my point of view. Tentu saja ada selintir manusia Indonesia yang kalem liat bule -- entah karena jaim, karena terlalu malu negur, atau karena udah biasa. Tapi entah kenapa yang muncul di depan doi adalah manusia pribumi yang suka kalap dan excited banget liat bule. So?

3. Orang Indonesia suka minta followback.
THIS IS... TRUE. Maaf sekali lagi, post ini nggak bermaksud menggeneralisasikan manusia satu dan yang lain walaupun konteksnya sama-sama manusia Indonesia. This is really a correction for our habit as Indonesians, actually.

Jadi akar statement ini adalah ketika doi mulai menginjakan kaki di sekolah dan diajak selfie. Karena excited, pasti beberapa ada yang nanya kan "Kamu punya facebook/twitter/whatsapp/line/instagram/path?" dan doi mengangguk aja dan ngasih tau instagramnya. Setelah balik, there are lots of comments saying like, "Followback?", "Followback, please?", "Kak, AR ini aku anak SMA X adek kelas kakak, followback ya."

Dan there was her, sighing in the living room as she told me the story.
"Is it really the habit? Cause in France, asking for followback is impolite... Evenmore if it's someone who you don't really know."

Nah? Kalo yang ini, gue bener-bener put less comment.

Soalnya, gue merasa pernah seperti itu, maybe some times in past, dan mungkin ketika gue membahas statement ini akan ada beberapa pembaca dan pihak yang baper (bawa perasaan, tren 2014) dan tersinggung. Tapi satu hal yang gue tangkep dari statement ini adalah:

As long as it's your life, you can really control who you want to come in.
You don't need to followback every people who's asking you just because you're afraid of being hated. Come on, it's your life and you sure have freedom to choose. Walaupun terkadang beramah tamah perlu, tapi just remember, you get a pass to let someone in -- put your known friends on list and just politely ignore the strangers -- and you won't be jailed just because you don't followback. :)

4. Concept of nudity di mata bule.
Bagi yang sering atau pernah berjalan-jalan ke destinasi wisata yang marak Bule, contohnya Bali, pasti nggak asing lagi sama bule-bule yang go naked di pinggir pantai sambil terlungkup atau terlentang. Buat Indonesia, telanjang-menelanjangkan-ditelanjangi adalah sesuatu yang sangat sakral. Tapi untuk turis-turis Kaukasia (kulit putih), mungkin telanjang itu nothing. Intinya "I am naked, so what?"

Tapi persepsi gue bahwa 'semua bule pasti biasa aja dalam hal telanjang dan melihat orang telanjang' agak sedikit terlunturkan setelah gue ketemu dengan AR.

Alkisah, gue lagi naik mobil sama dia. Kita sama-sama di jok belakang lagi denger radio. Suasana hening sesaat karena gue dan AR emang capek banget abis pergi ke Taman Mini. Tiba-tiba, di sisi kanan jalan, di sebelah kanan gue, ada seorang laki-laki, yang pasti nggak waras karena dia lusuh banget, jalan bertelanjang tanpa sehelai benang, dan anu-nya kemana-mana. Gue sih ngeliatnya emotionless, berhubung udah sering liat di ruang anatomi (bedanya yang gue liat adalah jasad tidak bernyawa). Tiba-tiba AR di sebelah gue menjerit dan gasping heboh, ternyata dia melihat apa yang barusan gue lihat.

"OH MY GODDDDDDDD!!!," katanya hebring. Gue cuma ngangkat bahu sambil bertanya-tanya.
"That man was naked! And I saw his..."
Gue baru nangkep. Dia kaget liat orang bugil.

"It's okay. He was... Kind of lost his mind," kata gue sambil menunjuk kepala.
"I got it, but why he was on street? Can't somebody take him to a proper place?"
Gue mulai bingung. Ini bule kok ngeliat orang telanjang panik banget...

"Because in France you can't just get naked wherever you like, even in beach!"
Gue bertanya gerangan apa maksudnya... Kok agak beda sama presepsi gue selama ini...
"In France, there are sort of beaches allowing nudity. And when you are there, you MUST naked. And I had never been there. I never saw people naked... I would really like to be tan, but to expose my full body and get naked... Ugh no. No, it's private."

Kesimpulannya, sekali lagi, nggak boleh menggeneralisasikan orang. Gue beranggapan semua bule pasti terbiasa dengan nudity, but after I met AR and got some explanations, ternyata selalu ada pengecualian untuk segala hal :)

5. Physical interactions di mata bule.
Ketika gue lagi berenang di Waterbom sama AR, kita duduk-duduk di tepi kolam sambil ngobrol. Dan tiba-tiba dia bilang,
"Since the day I arrived here, I never saw anyone kissing. I never saw any matter physical interaction between people. They just... Shake hands most of the time."

Gue memaklumi, mungkin di budayanya, kissing is something common. Sekali lagi, gue adalah tipe orang yang suka banget berpresepsi -- entah itu benar atau salah, jadi gue kira budaya AR sama dengan film Hollywood yang kalo adegan ciuman itu pasti hot dan tongue-mode. Ya... Maybe it's a bit vulgar to talk about it, tapi kalo di film-film Hollywood, ya you know -- pemeran utama cewek ketemu cowoknya di koridor and they just kissed so hot sampe nabrak-nabrak loker dan ya so so. Jadi... Daripada presepsi gue melantur kemana-mana, gue akhirnya memberanikan diri buat nanya.

Dan akhirnya dia menjawab,
"Hm, in French, in my school, you can hug your boyfriend when you're around your friends. It's okay, people will understand. Light-kiss, just like you put your lips lightly on his lips, is considered to be okay in some place. But hot-kiss with tongue and with waist or ass-grabbing is really gross -- so you can't do that in public!"

Intinya, sebenernya nggak semua jenis kissing itu dibolehkan di dunia bule. Ciuman ringan yang terkesan 'cuma nempel' ya... Bolehlah. Sementara ciuman gross ala film-film Hollywood mending jangan diperagain di depan umum, soalnya toh bulenya sendiri yang cerita kalo ciuman gross itu cuma untuk special occasion in special place. Itu menurut bule. Kalo menurut budaya negara Bhinneka Tunggal Ika?

Gue rasa sih, salaman aja cukup, ya. Kenalan sambil salaman aja udah bikin grogi, gimana kalo kenalan langsung dicium? :p

6. Konsep makanan dan jam makan ala bule (dan pribumi).
Suatu kesempatan, gue pergi ke Pondok Indah Mall sama AR untuk ke toko buku yang jual buku-buku impor. Emang sial, yang jual buku yang dia mau cuma ada di PIM, udah tau gue nggak suka banget sama PIM. Jadi habis ke toko buku, kita makan. Di sana bingung mau makan apa dan ujungnya kita menjatuhkan pilihan ke makanan ber-nasi yang harus pake sumpit.

Gue makan pake sumpit dengan tenangnya karena memang udah biasa pake sumpit, sementara AR makan dengan susah payah karena nasinya jatuh-jatuhan lagi.
"Oh God I can't do this."
"Use spoon, if you can't use chopsticks" gue bilang.
"What? Chop... What?"
"Chopstick," gue bilang, "In Indonesia, Sumpit."
Mukanya mengangguk-ngangguk takzim. Diulangnya kata-kata gue sambil dia nginget-nginget.

Sehabis makan, dia bilang "Kenyang sekali" dan lagi-lagi gue berpresepsi kalo orang Prancis tuh makannya dikit. Kali ini gue mau membuktikan apakah rumor mengenai orang Prancis yang makan selalu petit porsion itu benar apa nggak -- so, I asked her.

"Is it true that Francais... Or Francaise, eat less?"
Dia berpikir, "Yes, maybe."
"I used to have a bread -- from wheat, gan...dum? in the morning. With jams. Or croissant sometime."
Kalo gue sih mana kenyang makan gituan doang..., pikir gue.

"I never ate rice. And really, rice is good and it makes you full, up until 12 a.m. When I was in French I only ate bread and got hungry at 9 a.m."
Gue keceplosan,
"Me always have rice for breakfast and later get hungry at 9, then at 10 I go grab some meatballs. And I will eat again at 1 p.m. Rice again."

AR ketawa. "You eat a lot!"
Gue mengangguk. Panteslah gue naik 8 kilo dalam 7 bulan.
Lalu, AR bertanya balik, "You know, I wonder is it any dining time in Indonesia? Because I always see people eating, like everytime!"

Nah loh.

Gue menjawab, "Sebenarnya ada -- actually there is dining time. People who work in company usually eat at 12 a.m. And dinner is at 7 p.m. But... Yea, sometime when we're hungry we just eat. So it looks like we eat everytime."

Sebenernya bingung sih mau jawab apa -- karena memang, walau ada jadwal makan di Indonesia, tapi kok kesannya kayak nggak ada. Di kampus aja lunch-break gue sesuka-suka yang bikin jadwal. Kalo emang kosong jam 11, dibilangnya lunch break. Kalo kosong jam 2, lunch break juga namanya.

Selain itu, makanan di Indonesia tuh jam munculnya nggak ngikutin pattern dining time. Anggep aja nasi goreng, sate padang, mie dok-dok gerobakan, sate ayam, mayoritas dagangnya sampe dini hari. Malah ada juga nasi uduk yang bukanya mulai jam 10 malem kan sampe pagi? Nah itu, bener juga sih orang Indonesia makan kapan aja. Wong makanan aja banyak yang dagangnya larut malam sampe subuh -- lah kalo nggak ada yang beli pasti doi nggak dagang kan? Dengan kata lain, pasti ada yang beli, sekalipun tengah malem. Pasti ada yang makan, sekalipun tengah malem. Pasti.

Pernah ngajak AR ke Ragusa juga, pas banget abis jalan-jalan ke Monas, di sore hari yang terik banget dan di hari Jumat (Jakarta? Jumat? Sore? Panas? Nggak banget). Dia makan jauh lebih bersih dari gue dan really, nothing was left! Entah Ragusa enak banget atau dianya aja yang laper...


Jadi... Maybe that was all I could say to you.
AR will be here until next year and what I am sure of, is I still have a lot questions to pose and so does she. There are still a lot of time for us to know about each other -- from self, cultures, countries, and beliefs. Sampai saat post ini gue terbitkan, gue sama AR baru pernah ke Waterbom, PIM, Taman Mini, dan Monas - Ragusa bareng-bareng -- dan I can guarantee that I'm still counting and we'll take other trips together! So I will catch you later with next adventures with her :)

Taman Mini's Trip!

Masih Taman Mini. Surprising banget gue baru tau di Taman Mini ada kayak ginian.


Thank you for your attention, dan maaf banget kalo ada critism yang kurang layak akan budaya kita atau budaya bule. But I do hope, this post can inspire and catch your attention, somehow!

(Ps: Mohon doanya untuk hasil ujian kardiologi ya, semoga hasilnya memuaskan dan gue bisa melenggang liburan to the fullest tahun depan, dan wish me luck in block pulmonology (paru)! :)))



Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

xoxo
Writer

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar