Rabu, 31 Desember 2014

A Redemption: Trip to the heart of Java.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Selamat pagi yang berhujan dari Tangerang.
Ah, orang bilang malaikat Mikail tugasnya menurunkan rezeki dan hujan, which means hujan adalah sebuah rezeki juga. Tapi entah kenapa, semelankolis apapun nama blog gue, I don't really like rain.
The simplest explanation why I do not like rain is that I am an outdoor person, yang berarti pergi keluar di bawah naungan hujan akan cukup mengganggu mobilitas dan suasana hati gue. Soal hujan setali tiga uang dengan petrichor yang sama-sama membawa memori dan memancing kegalauan, itu cuma additional reason kenapa gue nggak suka hujan... Gimanapun, sosok gue nggak semelankolis nama blog gue ini kok :)

Agak susah menerima kenyataan bahwa sebentar lagi liburan gue akan berakhir. Ya, liburan yang terasa bener-bener menyegarkan setelah mengalami blok paling gaib selama gue 1,5 tahun di FK: blok paru. ditambah dengan rempongnya ngurus UAS mata kuliah umum, ngurus presetasi laporan kasus, dan ujian biostatistika (STATISTIK? Told ya that you can't ever kill math, even in FK), sebentar lagi semua kemanisan ini akan terhapuskan oleh semester 4 yang I bet, jauh lebih gila. Sebentar lagi itu bener-bener sebentar, guys, yaitu tanggal 4 Januari. Ini gue mahasiswa apa anak sekolah, masuknya sama aja...

Jadi liburan yang sangat sempit sesempit celana-celana gue setelah gue naik 8 kilo... (okay -- curhat) sudah gue manfaatkan dengan baik, gue rasa. Di hari pertama libur gue habiskan dengan tidur. YA TIDUR -- karena pas minggu ujian, gue sama sekali nggak tidur malam. Jam biologis gue rusak hanya gara-gara ujian. Jadilah gue menghabiskan beberapa hari pertama liburan dengan menerapkan gaya hidup yang baik: tidur tepat waktu, bangun tepat waktu, dan aerobik. Gue nggak setuju dengan gaya hidup tidur membabi buta untuk menggantikan waktu tidur yang hilang karena manusia punya jam biologis yang harus dituruti. Kalo tertarik, bisa klik di sini -- Circardian Rhythms.

Selanjutnya, gue menambah aktivitas liburan dengan nemenin AR, bule Prancis yang ada di post bawah, untuk main ke Jakarta pake transportasi umum yang nyaman -- such as Transjakarta dan commuter line. Kita pergi ke pameran grafitti di Museum Keramik, yang di deket Kompleks Kota Tua itu dan pergi ke Museum Bank Indonesia (My favorite museum, all the time), dan sisa waktu nunggu makan siang kita ngaso di Museum Bank Mandiri. The next day, gue kembali lagi ke pangkuan ibukota untuk officially taking pictures dan khususnya liat pameran di Galeri Nasional yang bertajuk City of Waves. Bagus-bagus banget fotonya, I wish someday mine can be there too.

Kunjungan singkat ke kota yang selalu bikin gue jatuh cinta itu dilanjutkan dengan gue memegang tiket kereta api malam di pelataran Stasiun Pasar Senen di sebuah malam berhujan.

Dengan tergopoh-gopoh gue nenteng tas modal beli di Alfamart dan 1 backpack -- malam ini gue akan tidur di Kereta Senja Utama Solo untuk sebuah perjalanan ke jantungnya Jawa -- as you might consider as the title of this post. Malam itu yang tersisa di pelupuk mata gue adalah lampu-lampu kota yang terkabur tetesan hujan, sebuah malam rempong yang entah kenapa luar biasa melankolisnya di Stasiun Pasar Senen. Dengan sepenuh hati, gue berharap ketika besok gue melandas di Stasiun Tugu, gue akan disambut matahari, bukan mendung berkepanjangan.

Naik kereta malam adalah hal yang baru pertama kali gue lakukan. Gue iri banget sama mahasiswa rantauan yang kuliahnya di Jawa, karena mereka punya banyak kesempatan untuk naik kereta malam. Gue ngefans banget sama yang namanya kereta, that might explain why I envy them. Sebaliknya anak rantauan iri sama gue karena gue punya kesempatan berhemat luar biasa dan bisa mencicipi masakan bunda setiap saat. Ya intinya rumput tetangga selalu lebih hijau sih.

Tidur di kereta malam susah banget dilakukan -- entah karena gerakan kereta selalu dinamis dan nggak setenang pesawat, atau karena banyak orang-orang baru yang beberapa di antaranya menggunakan lantai untuk tidur (sementara itu dilarang), atau karena gue orang yang sangat pemerhati dan terlalu asyik mengobservasi orang di sekeliling gue. Dan gue baru inget, sebelumnya gue minum 2 gelas kopi kaleng dan kemudian semua kesulitan tidur terasa sangat masuk akal buat gue. Akhirnya malam melankolis itu gue pergunakan untuk nulis puisi di wattpad, karena entah kenapa inspirasi berkelebat hebat di sepanjang jalanan malam yang ditembus kereta. Halah.

Jam 7 pagi, gue berdiri di pelataran Stasiun Tugu dengan sinar matahari yang kaya vitamin D. Selalu ada semacam rasa rindu untuk kembali ke sini -- ke Yogyakarta, kota yang berleluhur, beramah tamah, dan bersejarah besar. Dengan menenteng dua tas dan diikuti 20 anggota keluarga lainnya, gue menuju bis.

Saya datang, Jogja. Kembali lagi ke pelukan anda setelah sekian lama.


(Anda sedang membaca intro, bukan surat Yasin. Saya tau kok, panjangnya hampir sama...)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
D-1

Siapapun yang membaca intro yang maha panjang di atas, pasti tau gue naik kereta malam. Pasti tau kalo di kereta nggak bisa mandi. Jadi dengan muka kucel nan dekil, gue dibawa bis tur itu makan ke tukang soto. Setelah beberapa saat makan soto dan tempe mendoan dengan jumlah banyak namun harga murah, perjalanan dilanjutkan ke... Borobudur.

Borobudur adalah sebuah candi peninggalan kebudayaan Buddha, dengan model bertingkat, dan entah fiksi atau nyata, pernah dinobatkan menjadi salah satu keajaiban dunia. Letaknya di Magelang dan butuh waktu untuk mencapai Magelang.

Secara pribadi, gue suka Candi Borobudur -- siapa juga yang nggak suka? Kuno, antik, besar, dan kaya adalah kata-kata yang gue pilih untuk menggambarkan candi ini. Ada suatu kemegahan tersendiri di balik dinding-dinding batu dingin yang dimiliki Borobudur. Dari semua hal baik yang gue sebutkan, tentu saja ada part yang menyiksa dari Borobudur, yaitu tangganya. Tangganya tinggi-tinggi banget, man. Kalo naik bikin engap, kalo turun bikin turun berok. Panas di puncak Borobudur sih nggak masalah, berhubung gue suka matahari dan kalo senderan ke dinding batu jadinya dingin. Cuman tangganya itu -- niat banget sih, para leluhur untuk bikin tangga model begitu.

Hari itu hari Sabtu dan memang ekspektasi gue nggak terlalu besar terhadap Borobudur. Pastilah yang namanya weekend, rame, dan bener. Borobudur hari itu dipenuhi dengan anak-anak SD study tour dan juga dipenuhi keluarga-keluarga yang lagi liburan. Huft. Dan semuanya nggak pakai sarung, padahal beberapa kali gue kesini disuruh pake sarung terus. Kemarin AR juga sempet ke Borobudur katanya disuruh pake sarung. Ada apakah gerangan? Apa karena lonjakan pengunjung, sarungnya nggak cukup, terus dibiarin aja nggak pake sarung?

Ya di tengah keramaian Borobudur, niat gue mendaki sampe stupa puncak masih belum surut -- karena gue ada taruhan nurunin berat badan sama temen kampus, ya itung-itung bakar lemak kan. Dengan uletnya gue menggeluti tangga Borobudur. Jangankan gue yang kakinya pendek, bule yang kakinya panjang aja naik tangga Borobudur ngos-ngosan.

Di tengah perjalanan gue, masih aja ada cobaan, yaitu orang-orang yang lawan arus -- alias turun di tempat orang-orang seharusnya naik. Bagi yang pernah ke Borobudur pasti tau kan, tangganya tinggi, curam, dan sempit, kiranya agak kurang ideal untuk dipake bolak-balik 2 arah. Dan setau gue ada peraturannya, naik dari entrance mana dan keluar lewat exit yang lain, seinget gue di pintu utara keluarnya. Masih ada aja yang nekat membahayakan orang lain. Jatoh dari tangga Borobudur kayaknya bakal sakit banget.

Satu lagi the saddest point about Borobudur adalah... Entah kenapa sekarang wilayah pedagang dan aktivitas pedagang jadi (++++). Baru turun bis langsung dikerumunin pedagang dan kesana-kesananya diikutin pedagang... :') Hal ini juga terjadi ketika turun candi. Udah senewen nurunin tangganya, eh belom bener-bener keluar kompleks udah dikerumunin macam seleb. Oh ya dan entah kenapa rute jalanan berpedagang di Borobudur kayaknya nambah banyak ya, soalnya sekeluarnya gue dari kompleks candi tuh langsung pedagang dan berasanya tuh pas jalan nggak abis-abis kios-kios maupun pedagang yang merayu (ataupun memelas, ya sometime) pengunjung. Perasaan tahun 2012 nggak begitu deh...






Dan yang lebih greget lagi...
Pas gue lagi turun berokan (alias turun tangga Candi), ada ambulans menyeruak masuk ke kompleks candi. Oh, ternyata ada yang jatuh dari tangga candi... Duh.

Pulang dari Borobudur bercucuran keringet ditambah belum mandi pagi... Oke jalapeno aja kalah! (Menurut gue cabe Jalapeno itu asem, bukannya pedes). Karena tingkat pH keringet yang semakin rendah (baca: asem), maka diputuskan sehabis berjemur di Borobudur, kita pulang. Sepertinya ini adalah keputusan yang cucok, karena nggak lama setelah itu hujan. Haaaa derita berwisata di bulan Desember...



------------------------------------------------------------------------------------------------------------
D-2
Matahari terbit malu-malu, dan surprisingly, terbit lebih awal. Ketika gue menjemur pakaian di balkon, siluet gunung yang angkuh itu muncul. Ya, gunung Merapi yang kemarin bikin huru-hara seluruh rakyat Jawa sekaligus bikin seluruh keluarga wanti-wanti gue untuk nggak jadi jalan-jalan ke Jawa.

Kalo mau tau, gue stay di Kaliurang, makanya bisa dapet view kayak gini :)

Hari ini gue akan berbasah-basah ria ke pantai.
"Parangtritis?," tanya gue.
"Mainstream," kata om gue, selaku ketua acara, "Bukan kesana."
"Pantai Selatan," kata gue asal.
"Udah siap ketemu Nyi Roro Kidul?"
"Katanya di Gunung Kidul," gue menyanggah.
"Pantai kita anti-mainstream," begitulah sesi tanya jawab ini ditutup.

Setelah 5 jam perjalanan, gue amat sangat memahami kenapa pantai gue sangat anti-mainstream.
1. Jalan berliku super bikin mabuk. Malesin.
2. Jalan yang berliku super bikin mabuk ini minim pembatas jalan di beberapa bagian. Malesin.
3. Jalan yang berliku super bikin mabuk ini berujung ke jalan yang sangat kecil, dimana sebenernya bus sangat nggak layak untuk masuk kesana.
4. Di sisi jalan yang sangat kecil ini hanya ada hutan (kebanyakan pohon jati) dan ada tebing menjulang, dan di beberapa bagian, ada gubuk-gubuk kecil.
5. Jalan yang sangat kecil ini tidak beraspal.
6. Koneksi internet sangat minim.

Di atas gue memang bilang malesin, tapi kenampakan pantainya sungguh nggak malesin. Pantai pasir putih (yea, I like white-sand beach, Parangtritis doesn't have one) yang dibingkai dengan tebing-tebing asri dan gubuk-gubuk buat ngaso di atas tebing. Plus, pantai ini nggak terlalu rame, dan since gue melihat jam menunjukan jam 12, ombaknya besar.

Sekilas mengingatkan gue dengan sedikit nuansa Uluwatu (minus monyet) dan gue mencoba-coba mengingat nama pantai ini:
Pantai Poktunggal.
Pantai super cantik namun super terpecil. Yea beauty needs efforts.









Ini adalah salah satu sample tempat duduk yang ada
di bukit Tirta. Tempat duduknya mencil di sela-sela
bebatuan. Pas gue lagi ngambil foto, eh ada orang
lagi duduk berduaan sambil liat laut, ada gue,
mereka bubar. Sorry ya Mbak, Mas!


Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke... Candi Prambanan.
Oke, mungkin agak sedikit norak untuk mengakui bahwa gue nggak pernah ke Candi Prambanan seumur hidup gue. Saya berleluhur orang Jawa tapi jarang banget ke Jawa, dan kadang dikira orang Padang. Gue sih liat Prambanan cuma dari buku teks Bahasa Indonesia aja dari SD dan belakangan ini dari instagram. Di Instagram, orang motret sunset di Candi Prambanan -- cantik tenan. Tekad gue pada kunjungan kali ini adalah memotret sunset di Candi Prambanan. Berhubung tadi pagi sunrise lebih awal, otomatis sunset akan jatuh lebih awal juga, pikir gue.

Namun keinginan gue dirontokan oleh jatuhnya air dari awan lokal, alias hujan. Hujan lagi, hujan lagi, bulan Desember memang sesuatu. Gimana mau liat sunset kalo matahari sore hari sama sekali nggak nampak, ditutup awan kelabu? Udah gitu, yang menambah kekecewaan gue adalah di Prambanan nggak bisa lama-lama karena harus anter Ibu ke bandara Adisutjipto untuk pulang duluan, meninggalkan keluarganya yang sedang berlibur. Jadilah gue berlari di bawah hujan menuju kompleks candi.

Tapi sungguh,
Candi Prambanan itu ya, cantik banget. Megah, molek, setiap teringat Candi Prambanan rasanya teringat seorang perempuan -- because when I think about Prambanan, I think of a woman. Mungkin gue terlalu banyak terpengaruh cerita legenda Prambanan, soal Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, tapi seriously Candi Prambanan terlihat sangat feminin di mata gue. Di pelataran Kompleks Candi Prambanan, gue berpikir bahwa gue telah dibuat jatuh cinta oleh Candi Prambanan, seperti halnya Bandung Bondowoso dibuat jatuh cinta oleh Roro Jonggrang. Klise sih, tapi at least that was what it felt like.

Beberapa poin lagi yang membuat gue jatuh cinta dengan Prambanan adalah jarak dari tempat karcis ke kompleks candi gue rasa nggak begitu menyiksa, ditambah nggak ada tangga (yea!) seperti di candi Borobudur, dan juga nggak jumpa pedagang yang colek-colek (apakah ini keajaiban hujan?). Selain itu, kios-kios tertata dan nggak terlalu mepet dengan kompleks candi dan surprisingly, I found dagangannya super murah. Oh ya ditambah lagi toiletnya bersih dan juga ada halaman untuk rusa.

Padahal yang masuk seven wonders adalah candi tetangga, tapi entah kenapa Prambanan sukses menggondol hati gue... Sayang nggak coba motret sunset (mataharinya aja nggak ada), pokoknya lain kali harus coba!




Oh ya another point is Prambanan ranked no. 1 as attractions versi traveladvisor.co.uk! :)

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
D-3
Gue terbangun pagi itu, jauh lebih awal dibandingkan 2 hari sebelumnya.
Hari ini harus berangkat lebih awal dan siap-siap yang bener. Karena hari ini adalah waktunya Dieng.

Ya, setelah kemarin main cipak-cipuk di air (well actually people did, but I did not), hari ini adalah milik udara dingin, kabut, dan hijau milik Dieng. Sebelum ke Dieng, sempet cerita sama beberapa temen kalo bakalan ke Dieng dan respon mereka sama: "Dieng lagi longsor, yakin mau ke sana?" dan since pihak tour pasti kasih announcement kalo ada sesuatu dan mereka nggak ngasih kode apapun, acara tetap berjalan.

Beberapa teman menyarankan pake sarung tangan dan jaket double, juga sepatu tertutup karena Dieng dingin banget. Maka, gue turutin aja, gue bawa baju double dan pake sepatu kets, minus sarung tangan. Selesai berbenah, gue berangkat.

Perjalanan terasa sangat lama seolah-olah nggak akan nyampe. Dan yang paling bikin bingung dari semua ini adalah kenapa supir bus gue suka banget make jalan-jalan yang tidak terduga. Gue bangun dari tidur gue dan melihat bus gue sedang mencoba menjejalkan diri ke jalanan berkuota satu arah, di sebuah perkampungan, di tengah hutan. Banyak pohon pinus di kiri kanan jalan dan sesekali rumah penduduk, dimana anak-anaknya melambai dadah-dadah ke arah bis pas kita lewat, seolah-olah nggak ada bis lain yang pernah 'maksa' banget lewat jalan itu.

Setelah gue tinggal tidur, gue terbangun di suatu kota kecil, tapi apik lah. Banyak bangunan tua. Gue buka path (yes, I officially got one recently) untuk tahu di mana gue. Di sana menunjukan Wonosobo. Wah, di luar dugaan gue, Wonosobo tuh bagus ya. The best part adalah banyak bangunan tua dan nuansanya vintage gitu. Ya tapi ketika gue mendekat ke Tulisan Wonosobo Asri, banyak banget angkot-angkot yang parkir sembarangan sampe makan lebih dari setengah badan jalan. This somehow reminded me about Tangerang.

Perjalanan dilanjutkan dengan adegan gue-didepak-dari-bis untuk pindah ke bis semacam metro mini. The reason is, Dieng habis longsor, jadi hanya mobil bermuatan tertentu aja yang bisa masuk ke jalanan Dieng. So I left my comfortable seat on the back of the bus, changing into metromini. Tapi menurut gue sama sekali nggak masalah naik metromini, karena udara Wonosobo sangat no-AC-needed alias udah seger tanpa harus pake air conditioner.

Perjalanan ke Dieng entah kenapa terasa bagaikan 1000 tahun. Padahal dari tadi udah lewat tempat-tempat yang menampakan alamat: Jl. Dieng tapi kenapa ganyampe-nyampe sih... Gue menengadah ke atas, langit mendung banget. Lagi-lagi hati gue akan dibekukan dinginnya hujan dan perjalanan gue akan diganjal tetesan air. Sisa perjalanan dihabiskan dengan gue komat-kamit berdoa di kursi gue karena nampaknya metromini kita kurang bertenaga untuk jalanan yang menanjak. Suara mesinnya kayak sekarat -- gue curiga dengan satu pasrah kita bisa melorot. Udah di kanan kiri jalan kabut mulai turun dan somehow memberikan suasana dingin-dingin mistis dan di beberapa part jalan nggak ada pembatas...



Ketegangan berakhir setelah gue melihat banyak orang jualan Carica dan ketika jalanan sudah lebih landai. Akhirnya gue melihat gerbang Dieng Plateau dari kejauhan. Akhirnya, kucium juga altarmu, Dieng. Karena udara di luar terasa seperti suhu Puncak dinginan sedikit (menurut kulit gue), maka gue putuskan untuk merapikan jaket dobelan dan memasukan ke tas.

Oh ya, sempet klarifikasi juga sama yang jual Carica dan kentang goreng!
"Mbak'e, emang kemarin longsor ya, Mbak?"
"Iya, non. Kemarin habis longsor, orang sampai pada batal ke Dieng. Padahal yang kemarin longsor jauh dari sini."
"Tadi pas saya mau naik kemari juga ada jalanan kayak bekas longsor, Mbak'e."
"Bukan, bukan itu. Kemarin ada 1 desa kena longsor, Non. Banyak korbannya. Tapi itu jauh dari objek wisatanya, Non. Berapa kilometer ya dari sini... Jauh deh pokok'e."

Nah, gimana yang mau berwisata ke Dieng? Masih mikir?





Setelah puas foto panorama di Dieng Plateau (Yea, my new hobby), gue berangkat ke destinasi selanjutnya, yaitu Kawah Sikidang.

Kawah Sikidang kurang pedestrian friendly, alias jalanan setapaknya jelek. Masih minim infrastruktur. Akibat jalan setapaknya jelek dan infrastrukturnya yang kurang, pelataran tokopun masih terkesan serabutan dan asal tempat. Bahkan di beberapa bagian masih aja ada yang nyampah... Iya, serius. Nyampah tuh harusnya nggak dijadikan budaya, lho. Memajukan pariwisata Indonesia kan ada banyak caranya, nggak harus jadi duta pariwisata aja, menjaga kebersihan tempat wisata is the simplest thing to do, biar wisatawan juga betah.

Awalnya nggak begitu menarik melihat prefacenya Kawah Sikidang. Tapi ketika udah masuk ke kawah utamanya, wah rasanya spektakuler juga sih. Jadi gimana ya menggambarkannya... Kawah tuh kan berasep ya. Asepnya warna putih, ketemu sama kabut Dieng. Latarnya adalah dinding berbatu warna cokelat dan beberapa pepohonan yang memberikan warna hijau, dan juga daerah sekitar kawah yang berwarna putih. Campur-campur warna gitu, bagus deh. Lagi asyik ngeliatin kawah, eh hujan. Awalnya gerimis-gerimis yang minta ditoleransi, eh lama-lama jadi deres banget.







Gue berteduh di tukang gorengan setempat sambil menggosok-gosok tangan. Kemudian gue mencari-cari jaket dobel gue di dalem tas. Gue aduk-aduk, tapi nggak ada. Gue inget, jaket itu gue rapihin dan gue taruh di metromini. ........ Gila. Nggak lagi gue ngeremehin Dieng. Dinginnya begitu menyiksa tanpa jaket dobel dan tanpa sarung tangan di hari berhujan gini. Angin Dieng menerpa wajah gue dan membuatnya setengah paralyzed.

Ketika hujan deras berubah menjadi gerimis, kita buru-buru mencapai metromini untuk ke Telaga Warna.
Temen gue yang sering touring Dieng pernah update tentang Telaga Warna dan as long as I still have a good sight, dari fotonya bagus sih. Gue jadi penasaran. Jarak antara Kawah Sikidang ke Telaga Warna nggak jauh. Beberapa menit, udah langsung keliatan loket tiket Telaga Warna. Hujan mulai deras lagi dan gue hanya bermodal payung jomblo porsi satu orang, sebuah kamera, dan handphone yang sangat lowbat untuk motret panorama.

Pertama kali melihat rupa Telaga Warna, 'cantik' adalah kata yang pertama kali terlintas. Warna airnya cyan, apa mungkin ada alga cyanophyta? Atau ada kandungan mineral yang membuat warnanya begitu? Dengan warnanya yang biru-kehijauan, dengan background barisan dataran tinggi Dieng, gue rasa akan sejuta kali lebih bagus kalo diliat pas lagi nggak hujan (lagi-lagi hujan) dan pasti bakal epic banget kalo diliat dari atas. Denger-denger ada menara untuk liat dari atas sih, tapi berhubung cuaca waktu itu nggak kondusif dan seperti biasa, gue menyalahkan hujan bikin gue mager, jadi agak sedikit males...
Pas gue mau nyalain kamera untuk motret, eh, tulisan "BATTERY EXHAUSTED" terpampang di screen. Oh good. Pas gue mau pake handphone untuk motret, eh, yang ada tinggal led merah dan screen yang mati. Oh très bien.




Akhirnya waktu di Telaga Warna gue habiskan dengan meminjam-minjam hp sodara untuk mengabadikan momen... Tanpa bermelankolis ria di tepi telaga padahal semesta mendukung banget. Hoalah... Udah nggak bisa bermelankolis ria (apa sih), nggak naik menara, nggak bisa proper taking photographs, dan nggak ke gua (Telaga Warna punya 3 gua), ah!

Baru berpijak beberapa langkah dari Telaga, hujan kembali deras dan gue berlari-larian menuju ke metromini. Di dalam metromini, all freeze. Semua kedinginan dan badan gue terasa nggak enak. Sisa hari dihabiskan dengan mengurut diri sendiri dan beli koyo. Fuh.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
D-4

Gue bangun di pagi hari dengan menggigil. Masih efek Dieng kemarin... Tapi biarlah segala remuk tubuhku terbakar antusiasme #tsaaah. Melihat planning hari ini, gue lumayan terhibur. Rencananya hari ini mau basah-basahan di tempat jeram, apa namanya? Kalisuci, gue baca.

"Om, kita nggak ke gua Pindul," tanya gue. Terdengar seperti tidak bertanya.
"Lha, ini juga sama aja sama Goa Pindul,"

Jadi hari ini niscaya akan dihabiskan dengan berbasah-basahan di gua antah berantah. Semenjak di Sawarna entah kenapa gue sangat tergila-gila dengan yang namanya gua. Gua punya keeksotisan sendiri, apalagi kalo di guanya mengalir air -- ya walaupun terkadang bisa dikasih hadiah tinja sama kelelawar gua. Intinya gue suka gua dan gue suka jeram. Suka keinget dulu waktu masih kecil, pas ke dufan, gue rela-relain berjam-jam ngantri arung jeram cuma buat ngerasain basah dan itupun hanya berlangsung 5 menit. Ketika gue menginjak umur 18 gue berpikir, ngapain gue ngantri berjam-jam untuk naik wahana 5 menit, kalo ada yang nggak perlu ngantri dan bisa last sampe 1 jam?

Gue akhirnya kembali bertemu wilayah Gunung Kidul lagi dan gue mewanti-wanti anggota keluarga gue supaya lebih cekatan berbenah. Bukannya terlalu excited sih, cuma gue sih ogah kesiangan terus kehujanan. Masih terasa dinginnya Dieng di kulit gue -- bikin gue semakin sensitif dengan hujan. Berbekal pengalaman beberapa hari di Jogja, gue sadar kalo di atas jam 12 itu rentan banget hujan. Sekali lagi ini semua karena dinginnya hujan Dieng, gue jadi merinding sendiri kalo harus ngebayangin nyebur di kali sambil hujan-hujanan. Ya, ya, salahkan saja hujan Dieng, biar ramai!

Jalanan ke Kalisuci jauh lebih deket daripada ke Pantai Poktunggal, walaupun sama-sama di wilayah Gunung Kidul. Tapi ya seperti biasa, jalanannya super sempit sehingga bis agak harus nyelip-nyelip untuk bisa masuk. Sampe ke lokasi, gue bertanya-tanya dimana guanya. Nggak ada apa-apa di wilayah sekitar Kalisuci, cuma kayak pemukiman pada umumnya, ada sekolah, ada rumah, malah ada sawah di atasnya. Lha, mau berenang dimana ini.

Jawaban gue dapatkan ketika sekitar jam 11 siang gue dibawa menyusuri tangga ke dasar bumi dengan kecuraman tangga yang nggak kira-kira. Jarak antar tangga sih dibuat pendek, nggak brutal kayak tangga Borobudur (ini adalah cara mengklasifikasikan tangga ala gue, kalo lebih parah dari tangga Borobudur, berarti parah), tapi tetep aja kita menembus bumi jauh ke dalam. Akhirnya dari jauh gue liat air kecoklatan mengalir deras. Oh ya, yang ada di sana cuma keluarga besar gue, ditambah keluarga orang lain yang anggotanya cuma 23. Nggak terlalu ramai. Bon, bon!








Ternyata di bawah jalanan normal yang barusan gue lalui ada gua mega membahana seperti ini! -- suara air sungai yang menampar dinding gua menggema kasar.

Jadi awalnya kita dikasih instruksi, karena banyak bebatuan sempit, harap kalo ada batu tangannya dimasukin ke dalam ban. Karena banyak jeglukan jeram juga, setiap jeglukan harus angkat pantat, bias pantatnya nggak kepentok batu. So so. Intinya sebisa mungkin harus fleksibel ganti-ganti gaya, tapi tetep nggak boleh bikin ban terbalik. Kalo ban terlanjur terbalik, jangan panik, ambil posisi terlentang karena pelampung bisa carry orang up to 150 kg.

Gue pun menuruni dinding gua dengan tali dan nyepluk di ban. Oke. Handphone dan kamera gue gue titip ke boks terapung punya guide, jadi ah, nggak terlalu banyak dokumentasi. Maklum bukan Go Pro! Hahahaha

Kita masuk ke dalam gua yang hanya muat satu arah. Arusnya masih tenang. Di dalam situ guidenya menjelaskan.
"Kalisuci adalah sungai yang mengalir dalam gua. Kita udah pernah kedatangan mapala yang menguji aliran sungainya. Ternyata air di gua ini bermuara ke Pantai Baron, dan butuh 4 hari untuk mencapai muara. Jadi kalo ada mas atau mbak yang hanyut, pasti sampai kok ke Pantai Baron, cuma paling 4 hari."

Evil laugh.

"Awalnya, Kalisuci dipakai untuk memancing sebelum dijadikan objek wisata tahun 2009. Yang ngelola Kalisuci sama seperti yang ngelola gua Jombang."

Mancing di gua? Anti mainstream...

"Disini banyak kenampakan khas gua, yaitu stalagtit dan stalagmit. Stalagtit dan stalagmit rata-rata tumbuh 20 cm per seratus tahun, dan punya kita panjangnya 2 meter. Coba dihitung sendiri sudah berapa lama pembentukannya."

"Fauna khas disini biasanya kelelawar ya, atau codot, karena dia makannya buah. Ada ikan juga Mbak, makanya suka pada mancing. Oh ya selain itu kita juga suka ada ular air (Semua langsung naikin pantat, believe it or not). Oh, nggak mas, mbak, kalo ular air sukanya di zona terang. Oh ya, kita juga ada 3 zona di sini, zona terang, remang, dan gelap. Kalo zona terang ya, sebelum kita masuk gua. Zona remang, ya seperti disini, kita masuk gua tapi masih ada cahaya yang masuk, kalau zona gelap, nah biasanya hewan disitu akan jadi buta mbak, mas, karena nggak pernah dapet sinar, saking gelapnya abadi. Nah ular air nggak suka di tempat gelap."

"Soal kedalaman, biasanya nggak terlalu dalem sih Mbak, tapi tetep aja kakinya nggak nyampe (statement ini kontradiktif sekali), ya tapi karena sekarang lagi banjir, Mbak, jadi makin dalem dan makin berarus."

Selamat, selamat!

Setelah keluar dari gua itu, arus mulai deras dan mulai banyak batu-batu sempit yang harus dilewati. Entah kenapa punya gue selalu tertarik ke batu jadi mau nggak mau effort gue untuk menyelamatkan ekstremitas dan pantat harus lebih besar. Beberapa kali orang lain bannya terbalik dan beberapa kali gue mencoba keluar dari ban (bad, bad girl) dan merasakan kaki gue nggak berpijak dimanapun. Gabakal sanggup kalo nggak ada pelampung :")

Jeram-jeram sempit yang deras dan batu-batu super rese membawa gue ke sebuah gua vertikal dimana banyak kupu-kupu berterbangan dan banyak daun-daun berjatuhan -- semuanya terjadi dengan background sinar matahari. Gue langsung berteriak dengan nggak santai, "MAS MAS MANA KAMERA SAYA, MANA?!" tapi walhasil nol karena si mas-masnya berenang jauh di belakang (kid you not, dia berenang, sungguh).


Lagi termenung menikmati keindahan gua vertikal tiba-tiba trayek di stop.
"Mbak, sampe sini."
"Lha mas, belom mau pulang," kata gue ogah.
"Mbak mau sampe pantai Baron 4 hari lagi?"
Gue nyengir.
"Itu mbak, arusnya deras," dia nunjuk kelanjutan trayek. Emang sih keliatannya deras. Jeramnya curam, dan batu-batunya jauh lebih berdempetan.
"Kita aja yang udah sering kalau ke situ masih harus pegang tali supaya nggak terbawa."
Guepun turun dari ban.

Menyaksikan ban-ban disatukan dan diangkat pake tali.




"Monggo mbak, naik tangga."
Ketika gue liat tangganya, MASYA ALLAH.
Akhirnya tangga Borobudur ada yang nyaingin.
"Mas, ini nggak bisa saya diangkat pake tali aja kayak ban-ban itu?"
"Nggak bisa, Mbak. Terlalu curam. Nanti mbaknya jatuh."

Secara klasifikasi tangga Kalisuci gapnya nggak terlalu parah, cuma curamnya, gehla. Hampir tegak lurus, gue rasa. Bikin napas tersengal parah. Pegangan tangga nggak cukup untuk bantu nopang, masih ada tali terulur untuk menjamin bahwa pengunjung nggak terbalik ke bawah. Gue rasa bagian terberat dari cavetubing ini adalah naik tangga balik ke permukaan buminya.



Sampe ke atas bumi, gue diangkut pake kendaraan buat ngangkut galon aqua -- semacem mobil bak yang kecil. Gue merasa udah cavetubing jauh banget, sejam pula, eh ternyata lokasi keluarnya gue dari perut bumi sama lokasi masuknya deket banget.
"Ya iyalah Mbak, kan di dalem trayek sungainya berliku-liku padahal mah disitu-situ aja," kata guidenya.
Yaela!

Tapi berkat mencicipi cavetubing di Kalisuci gue jadi berminat merasakan jeram yang lebih ganas dengan bermodalkan tubuh doang, alias body rafting pure, tanpa ban. Mungkinkah bisa gue selipkan di resolusi tahun 2015? :)

Dan berdasarkan tipswisatamurah.com, walaupun Kalisuci dan Goa Pindul menawarkan attraction yang sama berupa cavetubing, ternyata jalur Kalisuci lebih menantang dibanding Goa Pindul dan ternyata Kalisuci masuk salah satu cavetubing yang paling seru selain di Meksiko dan New Zealand! Plus, sepertinya guide setempat berkomitmen untuk nggak memboyong banyak orang dalam 1 kali cavetubing, jadi kesannya lebih private. Jadi? :)

Malemnya, gue menghabiskan waktu dengan berguyuran hujan dan dikejar waktu di Malioboro. Gue selalu suka Malioboro -- nuansanya, keramaiannya, pemusiknya, andongnya, becaknya, lampunya -- apa sih yang nggak gue suka dari Jogja? Tapi malam itu, berhubung gue dikejar waktu dan nggak bisa rileks menikmati Malioboro, ditambah hujan (ya, hujan, lagi), gue agak sedikit kecewa dengan langkah kaki gue di Malioboro. Yang gue inginkan cuma malam cerah berbintang dan waktu yang luang, supaya gue bebas naik andong, foto ke sudut manapun yang gue mau, dan belanja-belanja sedikit yang asik. Kalo perlu mau lewat depan kraton juga, deh. Tapi ya itulah, when you are a girl and you go shopping with men, even when it rains -- jadi terbirit-birit. Ugh.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Well...
Well...
Well...

Gue rasa ini akhirnya.
Ya ini akhirnya!
Finally after work on this for... 4 days? 5 days? Akhirnya blogpost ini selesai... :")

Dengan selesainya post ini, gue turut mengucapkan Feliz Anno Nuevo, Selamat Tahun Baru!

Terima kasih sudah mau singgah ataupun menetap dengan blog saya, through all the time.
Terima kasih sudah mau membaca sejenak ataupun selama bertahun-tahun ini.
Mereka bilang menulis itu paling utama ditunjukan untuk diri sendiri. Untuk menghidupkan memori. Untuk menuangkan jiwa berpuisi yang sebenarnya ada di dalam diri setiap orang namun berbeda porsi pada setiap kepala. Menulis itu ego-sentris, dimana tulisan bersifat pribadi, privat, dan semau saya.
Tapi syukurlah saya punya 42.333 orang yang mengubah mindset saya mengenai menulis, bahwa menulis bukan hanya untuk diri sendiri, bahwa menulis layak untuk dikembangkan, bahwa menulis harus punya direksi, bukan curhat belaka.
Terima kasih untuk semua orang, baik yang berada di balik layar ataupun maju secara frontal menanyakan kapan saya akan menulis post baru. Kalian adalah roda, sementara saya adalah hamster. Kalian akan selalu menarik untuk saya ikuti dan saya senang berlari bersama kalian. Ada kalanya saya tersungkur letih, namun kalian tetap ada dan akan selalu menarik untuk saya!


Thank you for reading Fragile Melancholy.
:)

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar