Sabtu, 21 Maret 2015

1/6 done. Got what I mean?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Apa kabar semuanya?
I hope you are at your best mood, passion, spirit, and stamina, whoever reading this!
Sangat senang bisa kembali kesini setelah sekian lama nggak nge-blog. Untuk yang secara reguler visit ke blog ini, siapapun itu, pasti kenal intro gue yang selalu begitu: "senang bisa kembali ke sini", dan oleh karena itu, gue berterima kasih bahwa setelah hampir 3 bulan gue nggak nulis, statistik gue masih berjalan walaupun nampak fluktuatif -- yang menandakan bahwa blog ini masih hidup. :)

You may notice something from the title of the post, which is specially written by me.
"1/6 done. Got what I mean?"
Ya, dengan kata lain gue sedang merangkul semua yang sedang membaca tulisan gue untuk kembali belajar matematika.

Belajar, bahwa 1/6 kalo dikali 2/2 akan menjadi 2/12 yang artinya adalah tahun 2015 sudah terjalani 2 bulan dari total 12 bulan. Intinya sih 1/6 adalah penyederhanaan dari 2/12
.
.
.
.
Lah.

Jadi gimana?

Gimana tahun 2015?
Berapa banyak resolusi yang lo catet di malam tahun baru? Berapa banyak juga yang udah direvisi karena minder atau mager? Berapa banyak juga utang resolusi lo dari tahun-tahun lalu?
Gue?
Resolusi banyak.
Yang di revisi banyak.
Ngutang banyak.
Tapi kelar baru 1. :)

Seberapa banyak harapan yang lo bisikan di tengah gaduhnya tembakan kembang api di malam tahun baru? Seberapa banyak angan yang lo petakan di langit malam tahun baru, yang bersanding dengan indahnya percikan api?
Gue?
Banyak.

Dan seberapa banyak sosok yang muncul di tahun-tahun sebelumnya tapi tahun ini keberadaannya pudar, atau malah hilang -- seperti asap kembang api yang membubung tinggi lalu kelak tiada?
Gue?
Ada. Beberapa.
.
.
.
.
.
.


Gimana? Intronya udah bikin baper belum?
Kalo udah baper, move on yuk!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ngomong-ngomong soal tahun baru, rasanya nggak afdol kalo gue nggak menceritakan fenomena malem tahun baru gue -- buat yang udah bertahun-tahun baca blog gue, pasti tau gue nggak pernah ngebahas malem tahun baru, karena pasti gue tidur di rumah. Jadi nggak asik kan kalo gue ceritain di blog... Tapi, berhubung malem tahun baru tahun ini spesial banget, sespesial interjunet (indomie telur keju kornet), jadi..........

Jadi di sore hari tanggal 31 Desember 2014, setelah gue selesai ngepost tentang Trip of Redemption, gue pergi ke Bekasi.
Belum, Bekasi bukanlah inti dari eksistensi post ini.


Ya, jadi gue ke Bekasi.
Gue yang pada tanggal tersebut lagi jobless abis dan merasa nggak bisa ke barbeque-an manapun karena pasti nggak diizinin dan pasti gue ngantuk sebelum jam 12 malem, akhirnya mendapat telpon dari tante gue, yang menawarkan untuk jalan-jalan ke Jakarta. Hari itu, cuaca cerah dan gue merasa jalan-jalan di Jakarta pas langit lagi cerah itu adalah sesuatu yang menyenangkan, jadilah gue terima. Gue ketemu tante gue beserta AR, "sepupu" setahun dari Prancis (who I already mentioned in previous post) dan things turned to be a bit complicated.

Sorenya tiba-tiba gue udah ada di Bekasi yang berhujan -- dan kontur jalanan Bekasi sangat sulit dibedakan berhubung semuanya tergenang air dan visibility jelek banget. Adapun, fenomena terlemparnya gue ke Bekasi ini disponsori oleh adanya keperluan tante gue di sana.

Setelah berjam-jam menahan lapar, hasrat pingin ke toilet, dan menahan dingin, akhirnya gue bersama dengan AR sampai ke Jakarta, ditemani dengan macetnya Ibukota. Dalam rangka malam tahun baru, jalan-jalan utama pasti ditutup dan timbullah macet -- tapi, dengan ditutupnya jalanan-jalanan utama ini, Jakarta sedikit terlihat berbeda di mata gue: lebih lengang (biasanya 24 jam macet atau padat merayap), lebih asri, dan terlihat lebih 'ramah' terhadap penduduknya -- biasanya, pedagang kaki lima berkerumun di pinggir jalan dan menempati space pejalan kaki sehingga pejalan kaki kadang mengambil sedikit space jalanan bagi kendaraan bermotor, tapi hari ini, pedagang-pedagang itu berjalan santai di jalur cepat, sementara kendaraan-kendaraan lain ada di jalur lambat. Gue bisa melihat pedagang somay gowes sepedanya sambil nyanyi-nyayi dan tukang bakpao berjalan santai sambil mendorong gerobaknya. Busway melenggang seperti biasa di tengah-tengah dengan jumlah penumpang yang masih manusiawi.


Setelah nyelip-nyelip di jalanan antah berantahnya Jakarta, akhirnya gue sampai ke Grand Indonesia. Gue bingung, kenapa rencana jalan-jalan di Jakarta, yang gue kira akan dipenuhi keringat dan betis berkonde, digantikan dengan mall padahal gue nggak suka mall? Jawabannya ternyata ada di luar jendela Grand Indonesia -- dimana di depan gedung Mandarin Oriental ada panggung yang dilengkapi layar. Dengan polosnya gue masih bertanya:

"Jalan-jalannya kapan?"
"Ya belom dong, Mbak," kata tante gue, "Kan Jakarta Night Festival-nya belum mulai."
Gue cengo.
"Night festival apaan?"
"Ya malam tahun baruan."
"JADI AKU TAHUN BARUAN DI SINI, GITU?," gue unslow.

Bukannya gue nggak suka Jakarta dan Festival, tapi menurut gue menghabiskan malam tahun baru di luar rumah tanpa tidur itu adalah hal yang janggal. Gue selalu tidur di malam tahun baru -- dengan agenda tidur jam 8, bangun karena suara kembang api, lalu tidur lagi. Gue selalu begitu, dan gue khawatir kalo saat countdown nanti gue bakal ketiduran dan keinjek-injek orang di tengah arena panggung sana.

Jam 7 malam, gue, AR, dan yang lainnya keluar dari Grand Indonesia. Gue dan AR menghabiskan beberapa menit di parkiran -- merasakan angin, melihat lampu-lampu Jakarta yang cantik, dan memotret. Gue sama AR terkadang sama; sama-sama memperhatikan hal sepele, sama-sama menikmati hal-hal sepele, sama-sama memotret hal-hal sepele, dan sama-sama suka tiba-tiba baper. Setelah memotret lampu-lampu Jakarta, gue dan AR turun ke jalanan yang udah di blokade sama aparat-aparat untuk venue malam tahun baruan.



Sekali lagi, gue pengen menegaskan bahwa Jakarta sangat berbeda malam itu.
Berbeda, karena jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sama kendaraan-kendaraan bermotor yang ngalah aja nggak mau, malam itu dipenuhi dengan orang-orang yang berjalan kaki dengan santai. Di malam apapun, di luar malam itu, lo nggak akan bisa jalan santai-santai di tengah jalanan di Jakarta -- pasti bakal diklaksonin sejagat raya dan besoknya masuk berita. Pagi, siang, malam, jalanan Jakarta hampir selalu dipenuhi aura negatif -- tapi malam itu, semuanya rileks.

Di kiri jalan ada panggung-panggung yang lebih kecil dibanding panggung yang gue liat di Bunderan HI; panggung-panggung itu berisi sekelompok orang yang mainin gamelan. AR-pun dengan semangat ngambil foto. Di sebelah panggung itu, banyak jajanan kaki 5 berjualan -- ada bakso, sate padang, otak-otak, kerak telor (!!!), bahkan sampe yang jualanan bando-bandoan bercahaya itu ada. Malam itu juga semua aparat yang mukanya (maaf), terkadang agak galak menjadi penuh senyum dan selfie sama orang-orang sekitar. Wow, Jakarta was really in a good mood!


Gue dan AR berlarian menuju kolam Bundaran HI dan foto gila-gilaan. Oke, dia yang gila-gilaan, gue nggak.

Kita mengelilingi bunderan HI dan AR berkesempatan untuk meliha lebih dekat icon Jakarta yang satu itu.




Time was ticking dan mulai beringsut ke jam 8 malam.
Gue dan AR kedatangan beberapa personil bule lagi -- Yasmin, dari Brazil, dan Sally, dari Prancis. Malam makin menggila dan Jakarta Night Festival resmi dibuka dengan 2 pembawa acara yang heboh. Setelah itu ada band-band pengisi yang mungkin direkrut-rekrutin panitia Jakarta Night Festival dari hasil-hasil lomba band gitu... soalnya nama band-band tersebut kurang nyantol di telinga dan hanya re-sing, atau cover lagu dari artis-artis tulen tanah air. Tapi, massa yang berkumpul tetep heboh dan dalam waktu singkat venue Bunderan HI jadi rame banget.

Setelah itu acara disambung sama rentetan lagu dangdut dan lomba joget berhadiah. 3 dara bule di sebelah gue terlalu bersemangat saat lomba joget dan saat denger lagu dangdut (ya, mereka ikut joget dan mereka ikut nyanyi "Sakitnya tuh disini...") sampe-sampe semua mata memandang. Kalo aja venue nggak semakin rame dan sesek, pastilah mereka bertiga udah maju ke atas panggung dan berjoget-joget yang 'nggak-Indonesia-banget'... Periode dangdut dan lomba joget itu adalah salah satu periode terberat dalam malam itu karena gue harus mengawasi pergerakan mereka dan barang-barang mereka sementara mereka hiperaktif dan menjadi pusat pandangan orang-orang sekitar. Belum lagi tiap ketemu bule lain, mereka heboh banget manggil-manggil dan dadah-dadah sambil teriak
"HAI BULE! HAI BULE! KITA BULE JUGA! WE LOVE INDONESIA!" sampe ada beberapa kelompok bule yang ngajak mereka untuk join bareng..........

Ada hal lagi yang gue pelajari dari malam itu: Jakarta Night Festival adalah pesta rakyat, yang gratis, namun dicintai. Yang walaupun bintang tamunya memiliki kelas yang agak berbeda dari HUT Televisi Swasta, tapi tetep meriah. Jakarta Night Festival adalah sebuah fenomena dimana pribumi dari semua lapisan dan bule, bergabung di satu tempat dan menikmati keaslian Indonesia -- dari segi musik, suasana (banyak yang dagang cangcimen --> kacang, kuaci, permen, dan mijon), yang walaupun buat beberapa orang terkesan agak sassy, low-budget, namun toh tetep meriah.



Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan lagu-lagu Koes Plus. 3 dara bule di sebelah gue berkomentar...
"What are these songs... They sound sad.... Why they sing sad songs in New Year..."
"Yeah right, there must be electronic dance music like Avicii or what..."
"I don't know the meaning but the melodies are sad..."
Kesimpulannya mereka lebih merasa mendingan kalo malam tahun baruan diwarnai suara dangdut koplo daripada lagu-lagu semacam lagu Koes Plus, karena toh dangdut koplo adalah Electronic Dance Music khas Indonesia...

Di kala mereka sedih mendengar lagu Koes Plus, masuklah gue ke zona-zona terngantuk gue hingga akhirnya sang MC mengambil alih mikrofon dan memulai speech -- diawali dengan pernyataan deep condolences mengenai kecelakaan Air Asia QZ8501 dan diakhiri dengan penjelasan bahwa acara Jakarta Night Festival tidak berdiri di atas kesedihan Indonesia, dan tidak bermaksud untuk melupakan apa yang terjadi. Setelah beberapa kilas balik di tahun 2014, tibalah saatnya countdown.

Semua menghitung.
Pagar yang tadinya dipasang di sekitar kolam bunderan HI runtuh -- sukses di tresspass sama kumpulan massa yang membludak.
Percikan kembang api mendominasi, suara manusia semua harmonis. Tidak ada yang lebih gaduh, semua sama -- menghitung.
AR berbisik di sebelah gue, "Saya sangat senang menghabiskan waktu seperti ini dengan teman-teman. Saya suka Jakarta. Jakarta bagus sekali. Seperti sedikit New York."

Dan 0.






Keluar ledakan dari ketek

Semua terompet berbunyi, orang-orang berteriak "Selamat Tahun Baru!" dan saling berpelukan.
AR teriak "Bonne sante! Bonne anne!", "HAPPY NEW YEAR", dan ketiga dara bule itu bersulang pake botol air mineral.
"MINERAL WATER FOR NEW YEAR DRINKS! WHOOOO"
"IT TOOK A YEAR FOR ME TO FINISH DRINKING THIS BECAUSE I STARTED DRINKING IT IN 2014!"
Gue mengucek mata. Uh, kangen bantal.

Sesudah itu kita berusaha mencari jalan kembali ke parkir mobil di mall dengan menembus kepadatan kumpulan manusia. Sampai mobil, di saat gue udah kedap kedip habis energi, mereka masih sibuk bahas jajanan anak sekolah di Indonesia -- perihal kue cubit sampe kue tete.

"Have you ever tried kue tete?"
"What is thaaaaat...."
"That's boobs cake! It shapes like boobies so they call it tete!"
Gue nggak liat siapa aja yang bicara saking ngantuknya, tapi dari pada mereka melantur, gue akhirnya berusaha bangun buat ngasih tau jajan-jajanan anak Indonesia.

Malam tahun baru 2015 gue, diakhiri dengan gue terbangun di sebelah AR yang untuk pertama kalinya gue liat tidur di mobil. Dan diakhiri juga dengan gue yang dikunciin di depan rumah..... karena gue nggak bawa kunci rumah! Hahahaha!

Percaya atau nggak, I was feeling slightly more like adult because I spent my new year's eve di luar rumah! Walaupun gue cupu banget -- ngantuk pas countdown dan kangen kasur, tapi malam itu benar-benar bombastis dan di situlah gue merasa bahwa Jakarta seutuhnya milik rakyat.

Yeah, it was a night like no other.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Waktu adalah sebuah dimensi dimana manusia bercampur dan bergelung di dalamnya, tanpa mengetahui maknanya. Dalam satu kedipan, satu tahun terlewat, dan dalam kumparan yang berisi kebahagiaan, kesedihan, harapan, dan keputusasaan, tanpa sadar bulir terakhir dalam jam pasir kita terantuk gravitasi dan menarik kita kembali.
Cherish your yesterday, dream your tomorrow, but live your today to the fullest.

Semoga apa yang kita harapkan dan kita tulis di resolusi semuanya bisa accomplished.
And I do hope that I still can post "Happy New Year" in 2016! :p

And in the end, all I want to say is Happy New Year! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar