Sabtu, 06 Juni 2015

A trip to Surakarta: A Deep, Intimate Two Night Stand.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Bon nuit, tout le monde! Comment ça-va?
Ça va (très) bien, merci!
Et toi? Et toi?

Jadi gimana?
Gimana anak-anak SMA yang baru saja menyelesaikan satu tahapan paling mengubah hidup? Gimana rasanya melepas seragam kebanggaan, perlambang euphoria masa muda, setelan penuh kenangan? Gimana juga rasanya seluruh hasil kerja keras 3 tahun ditakar 4 hari?

Selamat atas kesudahan UN-nya ya dan selamat juga bagi yang tembus SNMPTN Undangan. Semoga kabar membahagiakan ini disusul dengan kelulusan UN dan bagi yang belum dapet, jangan bersedih hati! Masih banyak banget gerbang di luar sana yang bisa kali jajaki untuk masuk PTN dan ingatlah, bagi anak IPA yang merasa nggak pinter-pinter banget berhitung dan cuma suka biologi, gue menunggu kalian mengacungkan panji hijau tanda teman sejawat! :)

Gimana juga nih, anak-anak SMP yang sekarang sedang menikmati surga dunia? Enak surganya? -- surga tanpa belajar, tanpa berpeluh, setiap hari cuma online di depan komputer. Santai-santai dulu ya kalian, nanti pas hasil UN diumumin dan seluruh pelajar SMP kelas 3 di dunia berhuru-hara melancarkan pendaftaran, silahkan deg-degan lagi dengan debaran yang lebih luar biasa.

Anak SD, gimana nih anak SD? Selamat ya, buat dedek-dedek yang baru menyelesaikan UN dan US. Sebentar lagi kalian nggak make seragam bendera merah putih lagi buat sekolah, tapi putih biru. Putih biru itu sesuatu -- masa-masa transisi terberat dan masa-masanya nyoba banyak hal, baik yang patut dicoba ataupun yang nggak boleh dicoba. Put your seatbelt on and drive safely, ya anak-anak SD. Kakak sedih liat meme kalian di internet, btw.

Yang kuliah, gimana nih yang kuliah?!!!
Apakah sudah mulai jenuh dengan badai perkuliahan -- dengan tugas yang mengalir sampai jauh dan skripsi yang tak kunjung bersauh di tangan dosen pembimbing?
Sabar, sebentar lagi khalayak perkuliahan akan didekap dengan hangatnya liburan di pertengahan tahun.

In my case, the smell of summer is already here.
Ketika parkiran berjuta-juta kampus masih penuh dan berebutan, petugas parkiran kampus gue sudah berkata, "Sepi ya Non, saya jadi ngantuk terus." Holiday effect really works.

Gue sudah menyelesaikan seluruh kewajiban gue. Mulai dari berusaha lolos 6 blok, sampe 2 minggu ujian akhir yang terdiri atas ujian campuran semua blok dalam satu tahun, ujian kasus, ujian statistik dan kesehatan masyarakat. ujian Bahasa Indonesia (YES! BAHASA), dan ujian keterampilan klinis, yang tentu saja menyiksa batin dan waktu tidur gue. Hari terakhir ujian gue sangat menyedihkan dan I didn't really want to bring it up again...

Sekarang, gue sedang digantung dengan 1 nilai yang belum muncul dimanapun dan kemunculannya akan menisbatkan gue harus balik ke kampus lagi 1 hari di akhir bulan Juni, atau nggak balik sama sekali ke kampus. Oleh karena itu, di balik intro yang (sangat) panjang ini, gue sebenernya cuma mau minta doa restu bagi siapapun yang membaca post gue ini, supaya gue lulus 1 nilai lagi ini, karena dengan 1 nilai ini, cita-cita gue lumayan bisa terjegal dan butuh effort yang lebih besar lagi untuk menghilangkan 'jegalan-jegalan' yang ada... Mohon doanya ya ;_;

Just by typing minta doa restu, hati gue sudah diselimuti salju kebaperan dan didekap angin kemelankolisan. Ah, daripada gue jadi melankolis sendiri mengingat hari terakhir ujian gue... Move on yuk!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gue selalu nggak terkontrol kalo nulis intro.
Sekarang, gue akan hijrah ke inti dari eksistensi post ini.
.
.
.
.
Jadi...
Melalui judul yang agak semi vulgar dan berbau adult ini, gue ingin menggambarkan satu perjalanan yang nggak pernah gue duga dalam hidup gue -- sebuah perjalanan kembali ke salah satu kota yang merupakan hasil dari perpecahan Kerajaan Mataram dan sangat lekat dengan status monarki yang masih diturunkan dan dihormati.

Adapun tujuan gue menggunakan jenis judul yang nggak pernah gue pakai ini adalah:
1. Gue berada dalam pengaruh lagu dangdut "Cinta Satu Malam" yang nggak sengaja ke play di youtube setelah gue mendengarkan lagu Goyang Dumang.
2. Gue belum move on dari kharisma Miles Teller dalam film romantic comedy-nya bersama Analeigh Tipton, yaitu Two Night Stand.
3. People have tendency to search some dirty words in google, so just in case they are typing and finding this blog.... Yeah you got what I mean.

Ialah Surakarta yang menjadi kota gue berlabuh, kota berleluhur, bercita rasa, dan bersejarah besar. Terletak di jantung Jawa, sedikit di utara (?) Kota Yogyakarta yang tidak kalah bersejarah dan berleluhurnya dengan Surakarta. Sekedar menjabarkan intisari Wikipedia, Surakarta memiliki makna Sura "Berani" dan Karta yang berarti "Sempurna / Utuh" dan pada masa lalu lahan yang ditempatinya adalah Desa Sala, sehingga Surakarta kerap dipanggil Solo, atau Sala bagi beberapa orang. Seperti layaknya kemonarkian yang dipegang teguh oleh Yogyakarta, di Kota Surakarta terdapat 2 kemonarkian, yaitu Kesunanan Surakarta yang dipegang oleh Dinasti Pakubuwono dan Mangkunegaran.

Thank you to Wikipedia and those article writers who are so genius and so diligent to put all valid sources into their writings, akhirnya gue bisa sedikit membawa sejarah dan pengetahuan umum ke dalam post gue :)

Oke balik ke hal-hal ringan...
Jadi awalnya, gue sama sekali nggak tau apa-apa. Gue hanyalah seorang mahasiswi yang sedang dilanda antusiasme akan rencana liburan sekaligus dilanda kejenuhan klimaks yang merupakan sindrom akhir semester dan tiba-tiba tawaran ini datang tanpa diduga. Jadi ceritanya, bagi yang membaca post gue tahun 2011, mungkin tahu gue punya sepupu yang bersekolah (berpondok, I mean) di salah satu Pesantren di Solo. Jadi, tahun ini adalah tahun kelulusannya, setelah 4 tahun menjadi santri dan dia mau gue datang menyaksikan dia lulus, because I was there when he came in, and I should be there when he comes out.

Jadilah dengan terhuyung-huyung oleh euphoria akan kesempatan untuk escape life for a while, gue menenteng bawaan gue yang sangat sedikit ke terminal 3 di suatu Jumat sore. I always like the atmosphere of airport or railway station -- I always love the feeling of departing, rasanya seperti dipeluk eksitasi dan ekspektasi akan suatu tujuan. Dan disitulah gue menghabiskan Jumat sore, mengobrol dengan kakek-kakek berkebangsaan Jepang sambil menunggu penerbangan. Tercatat di tiket gue: Adi Soemarmo dengan jam depart pukul 6 sore.

Saat sinar oranye bersambut dengan dinginnya awan biru gelap, pesawat gue lepas landas; menanggalkan seluruh kejenuhan gue, membuat eksistensi gue untuk sementara saja tak menapak tanah.

Dan dalam hitungan jam, gue mendarat di suatu bandara mungil dan sederhana yang berdiri di antara luasnya sawah.
Halo, Solo. Sudah lama ya?
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Malam pertama gue di Solo disponsori dengan keadaan hipoglikemi dimana gue sangat membutuhkan karbohidrat.
Jadi, sampai Solo yang gue cari adalah makanan. Lalu setelah itu, Pondok Pesantren.

Satu hal yang gue bisa rasakan dari Solo dari balik keremangan jalan adalah banyak tempat makan yang bisa dijadikan tempat nongkrong, dengan menu yang variatif, dan tentunya harga mahasiswa. Harga mahasiswa ASLI. Standar perantau. Hal ini tentunya disponsori oleh populasi mahasiswa yang berbanding lurus dengan pertumbuhan perguruan tinggi di Solo -- baik mahasiswa rantau, maupun lokal. Kalo gue berusaha flashback ke masa lalu, gue bisa inget betapa banyak teman-teman gue yang punya keinginan untuk melanjutkan studi ke Universitas Sebelas Maret Surakarta atau UNS, for short, khususnya bagi mereka yang aim untuk masuk fakultas Kedokteran. Sepanjang jalan gue sibuk memperhatikan plang-plang berisi harga makanan dan promo dan bertanya-tanya, apakah gue akan hemat atau justru boros kalau jadi mahasiswa Solo.

Akhirnya gue sampai di Pondok Pesantren sepupu gue (pukul setengah 9 malam, saudara-saudara!) dan berhasil menjejalkan karbohidrat ke dalam tubuh gue sehingga gue bangkit dari kelinglungan. Di sana, gue melihat para siswa SMA yang gagah-gagah dan cantik-cantik (yang tentu saja duduknya jauh terpisah) merasa bangga dan sumringah karena akan di wisuda besok. Malam ini mereka gladi bersih. Gue seketika recall memori dimana gue di wisuda dan wisuda itu terjadi begitu saja, tanpa kerempongan berarti apalagi gladi bersih. Nggak ada latihan apapun dan gue nggak tahu medan gedung wisuda sama sekali. Rasanya waktu itu gue seperti "BORN TO BE GRADUATED" sehingga nggak perlu ada gladi-gladian. Sedih juga sih, wisuda yang seharusnya bombastis, penuh kerempongan, kok malah berlangsung agak plain...

Setelah melihat wajah beberapa anak yang mulai digoda keletihan (muka-muka ngantuk), akhirnya acara gladi selesai dan setelah itu terjadilah ke hectic-an dimana gue dan keluarga harus muter-muter (yang bahkan gue nggak tahu muter dimana) untuk mencari hotel. Dan malam itu disponsori dengan kebingungan dan kegelapan dalam mencari hotel Red Planet.

Akhirnya, di sanalah Red Planet, sebuah hotel yang seperti baru, menjulang tinggi dengan parkiran yang sangat penuh. Gue memandangi Kota Solo yang perlahan tidur dalam keremangan dan mulai meremangkan mata.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gue terbangun dengan ke hectican.
Hectic karena salah bawa kebaya berlengan pendek dan hectic karena harus menata kerudung sedemikian rupa. Gue berlarian ke bawah dengan keluarga untuk mengejar kursi terdepan saat wisuda. Di tengah upaya penggapaian kursi terdepan, kita berhenti untuk makan nasi liwet di pinggir jalan yang rasanya super enak (kalo mau cari, ini ada di deket hotel Novotel yang berpatung-patung. Yang jual adalah ibu-ibu dengan lapak menghampar yang sederhana, namun sangat homey di pagi hari).




Setelah nasi liwet melewati bagian awal traktus gastrointestinalis gue (pardon my usage of language), gue kembali berkebut-kebut dalam taksi menuju pondok pesantren, dan mengamati populasi kota Solo yang masih sangat sedikit di luar (berhubung hari Sabtu dan masih sangat pagi). Hingga tengah hari, waktu gue habiskan dengan menyimak betapa bahagia dan sedihnya perasaan di wisuda -- bahagia karena seluruh derita SMA sudah selesai, namun di balik penderitaan selalu ada kisah manis, yang tentunya hanya tinggal kenangan, yang tentunya bikin sedih. Terkadang gue merasa risau, kenapa orang yang di wisuda, tapi malah gue yang sedih dan gue yang baper...

Siangnya, gue menghabiskan waktu dengan berkeliling kota Solo. To make them more systematic in the name of the wellness of your sight, I will arrange my journeys per points!


Kupat Tahu Sido Mampir Soliqin
Kalo ke Jawa, nggak afdol kalo nggak makan yang manis-manis. Nggak papa kalo nggak bisa buat kenangan manis di Jawa, asalkan udah coba makanan yang manis-manis. Kalo di Yogyakarta ada gudeg (dan bubur gudeng -- which was super super manis), Solo punya sejejeran Kupat Tahu. Lapaknya bener-bener sejajaran dan semuanya mengaku bergelar Kupat Tahu Sido Mampir Soliqin dan syukurlah yang gue makan memanglah enak.

Kupat Tahu adalah makanan yang berisi ketupat, kol, tauge, telur dadar, mie kuning, kacang tanah, plus seledri, dan tentunya tahu goreng (namanya tahu pong), rasanya kerenyes-kerenyes bercampur dengan manisnya kecap dicampur bawang putih dan gula merah (beuh manisnya plus-plus), yang tentunya makin asik kalo dibarengi soda susu (menurut gue). Ditambah, kondisi warung yang sederhana dilengkapi dengan nyanyian dari penyanyi setempat (bukan penyanyi keliling) yang entah kenapa memilih lagu yang sangat melankolis -- bikin makan jadi tambah nikmat. Yang menambah nikmat lagi adalah ketika bayar, satu porsi kupat tahu dan es teh manis menyandang harga 12 ribu. Harga yang sangaaaaat jarang di Jakarta (bahkan di Tangerang) dan hal ini semakin mengukuhkan pendapat gue mengenai kuliner Solo yang ramah kantong.




Dengan mampir ke warung Kupat Tahu ini, gue merasakan sedikit dari manisnya berada di Solo.
Ada lagi nggak ya, yang lebih manis lagi?
((dalam konteks makanan))

Taman Sriwedari
Salah satu lagu favorit gue dari Maliq n d'Essentials adalah Setapak Sriwedari. Kenapa gue suka sekali dengan lagu Setapak Sriwedari adalah karena liriknya bagus, seperti bercerita tentang dua orang yang saling mencinta namun saling berahasia.

Lihat fajar merona
Memandangi kita
Seakan tahu cerita
Tentang sebuah rasa
Yang ingin kita bawa
Tanpa ada rahasia

Suara hati kita bergema
Melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata
Irama hati kita bertanya
Merayu tanpa bicara
Melagu tanpa berkata
Seperti syair tak beraksara

Seperti puisi tanpa rima
Seperti itu aku padamu
.
.
.
Setapak sriwedari denganmu...

Dalam perjalanan ke Museum Batik Danar Hadi, gue melewati Taman Sriwedari yang gerbangnya sangat megah dan di depannya ada dua pohon beringin dan ada meriam. Akhirnya gue ((memaksa)) minta turun dari mobil karena merasa harus menjajaki taman yang namanya sama dengan nama lagu favorit gue. Gue nggak masuk Taman Sriwedari, melainkan hanya duduk dan berusaha menikmati atmosfir ke-Soloan dibawah pohon beringin, menyatu dengan penduduk-penduduk lain, dan melihat daun-daun berguguran. Semuanya nampak tenang walaupun kebanyakan dari mereka nggak dateng sendirian -- tapi nggak ada, gitu lho, yang ribut-ribut nggak penting.









Dan yang paling gue salut di Taman Sriwedari (walau gue hanya di depannya saja), selama gue duduk-duduk nggak ada yang mengamen atau maksa minta uang. Terkadang, ketika gue lagi makan cendol di tepi Sungai Cisadane, ada momen dimana nggak peduli gue sesopan apapun menolak memberi, para 'penyanyi' tetap mengelilingi gue sampai gue memberi uang. Hal ini bukan cuma terjadi di tepi sungai saat makan cendol, tapi juga saat lampu merah dan sebagai pengguna motor yang nggak punya tameng lagi untuk melindungi tubuh, jadi gue nggak mau cari masalah dan memberi berapapun yang ada di kantong. PR banget buat kota manapun, untuk memurnikan seni. Seni layak dijadikan penghidupan dan bisa menghidupi seseorang secara layak. Tapi belakangan ini, yang gue amati adalah pergeseran makna seni di jalan -- dimana segerombolan "penyanyi" dan "penyajak" naik ke bis lalu bernyanyi dengan lirik mengancam atau berteriak mengeluarkan sajak yang kalimatnya memaksa orang mengartikannya sebagai "paksaan untuk merogoh kantong". I know nothing about poverty and living in lower border, but I know they can do something better.



Berada di bawah sejuknya pohon di Taman Sriwedari membuat gue terlalu banyak berpikir sepertinya...

Museum Batik Danar Hadi
Ketika gue memasuki pelataran Danar Hadi House of Batik (Cukup lurus aja dari Taman Sriwedari, kalo nggak salah), satu kesan pertama yang terlintas: desainnya bangunannya antik. Mulai dari lampu jalan di sekitarnya, air mancur, pagar, khususnya bangunannya, semua berdesain antik dan ke-jaman dulu-an. Rencananya, gue akan masuk museumnya, tapi hari itu katanya satu museum lagi dipakai tour khusus jadi gue harus nunggu giliran masuk dulu. Sambil menunggu giliran masuk, gue berkeliling dan mencoba mengabadikan atmosfir bangunan Danar Hadi ini.






Sayangnya, karena harus nunggu terlalu lama sementara gue dan keluarga gue mengantuk berat (akibat dari semalam tidur ngaret dan bangun terlalu awal, dan setelah itu fisik yang gontai dibawa jalan-jalan), terpaksa gue meninggalkan museum Batik Danar Hadi bahkan tanpa memasuki museumnya. Haduuu :(

Susu Segar Shi Jack

Gue bobo sore dengan cantik karena merasa badan gue agak berat di bawa jalan-jalan dan terbangun oleh guncangan dari sepupu gue. Gue melihat jam, rupanya jam 9. Gue melihat langit-langit kamar. Merasa sedih. Lalu gue bangun dan memutuskan untuk mulai packing. Sepupu gue bingung.
"Mbak, lo kenapa deh"
"Harus packing mas, flight gue kan jam setengah 2. Jam 12 udah harus di bandara."
"Mbak, ini jam 9 malem, bukan jam 9 pagi."
GUE LANGSUNG BUKA TIRAI
Dan menyadari bahwa hari sangat gelap.

Gue bersyukur.
Gue kira gue akan menulis di blog ini
"Gue kemarin ke Solo. Namun gue ketiduran selama di Solo dan baru bangun pas mau flight balik."

Setelah beberapa jam tidur dan sepertinya kesulitan bangun, tenggorokan gue kering kerontang dan perut gue kerucukan. Akhirnya, gue pergi cari minuman dan Susu Segar Shi Jack  menjadi pilihan. Letaknya di pinggir jalan dr. Radjiman dan mereka biasanya juga jualan roti bakar dan makanan-makanan lainnya seperti sate ati, ampla, menu-menu khas camilan wedangan gitu. Susunya enak banget btw, rasanya susu banget, dan banyak variannya, contohnya

STM (Susu Telor Madu)
STMJ ( Susu Telor Madu Jahe)
STMK (Susu Telor Madu Kopi)
STMS (Susu Telor Madu Sirup)
Tante Susy (Susu Syrup Tanpa Telor)
Sukatman (Susu Cokelat Manis)
Superman (Susu Perah Manis)
Superboy (Susu Perah Boyolali)
Sukadi (Susu cokelat dingin)
Sumur (Susu murni)
Es dara (Es soda gembira)

Karena gue adalah orang yang kurang suka memacem-macemin makanan dan kuliner (orang yang apa adanya dan cenderung konvensional), gue cukup memesan susu cokelat dingin yang rasanya enak banget dan sekali lagi, saya tegaskan saudara-saudara: susu banget. Oh ya, bagi yang nggak bisa minum susu dan cuma bisa minum susu kemasan yang nggak susu-susu abis, mungkin bisa pikir-pikir dulu untuk minum susu di sini. Buat gue enak banget, tapi buat yang nggak terlalu suka susu, uh... Mungkin nightmare ya.

Karena roti bakarnya habis dan gue lapar, jadi setelah minum susu, kita pindah tempat.

Cafe Tiga Tjeret
Cafe Tiga Tjeret terletak di seberang pintu masuk Puro Mangkunegaran, di Jalan Ronggowarsito, Ngarsopuro, Solo.
Dilihat dari luar bentuknya layaknya cafe-cafe lucu di Jakarta tapi pas masuk dan ngeliat menunya. Lain banget dengan cafe-cafe di Jakarta kebanyakan. Ya, slogan yang sering diambil untuk menggambarkan Cafe Tiga Tjeret adalah "Wedangan Meets Urban" -- yang artinya, di satu sisi ia mempertahankan tradisi wedangan Jawa namun sifatnya lebih kekinian.
Para pembeli dipersilakan mengambil makanannya sendiri yang kemudian dihitung di kasir untuk dibayar sebelum dimakan. Model prasmanan gitu, cuman bukan model makanan berat. Gue agak asing dengan beberapa makanan dan makanan yang gue tau namanya disitu cuman tempe goreng (culinary skill: below borderline).

Tempatnya comfy banget dan lumayan enak buat nobar (malam kedatangan gue bertepatan dengan Chelsea-Arsenal, tapi nggak ada yang nobar), juga enak kalo buat nongkrong-nongkrong yang mau lama tapi nggak menghabiskan uang. Satu hal lagi yang ingin gue tekankan adalah: tempe gorengnya enak banget. Bukan tempe goreng sembarangan, rasanya beda dengan tempe goreng abang-abang. Lebih tebel tapi lebih kriuk dan lebih mouth-watering. Tempe goreng terenak yang pernah gue makan selama gue hidup 19 tahun terakhir.









Yang mau join tinggal duduk aja...
Sesudah makan tempe goreng terenak sedunia, gue pulang dan tidur (lagi). Niatnya sih nggak mau tidur karena gue nggak mau melewatkan apapun dari Solo. I don't want to miss a thing. Tapi, mengingat besok gue harus flight back dan sampe Soekarno-Hatta harus struggle sendirian yang pastinya penuh dengan keringat dan tenaga, dan menimbang kapan lagi gue bisa istirahat sementara di pesawat gue NGGAK PERNAH bisa tidur (like seriously, every tremble makes me alert), akhirnya gue memutuskan untuk shut down alam sadar gue demi hari esok yang lebih baik.
-------------------------------------------------------------------------------------

Minggu pagi di Solo.
Gue mengemasi semua barang-barang gue dan meninggalkan hotel pagi-pagi.
Pagi itu, anak-anak Pramuka turun ke jalan, membagikan selebaran kecil mengenai pentingnya wanita untuk berpikiran maju dan bekerja; salah satu Kartini's Day Campaign, sementara gue kembali makan nasi liwet di tempat yang sama. Hari itu, tante dan om gue berjanji mengantarkan kemana aja gue mau pergi dan gue bilang gue pingin ke jalan-jalan utama dan motret bangunan yang bagus-bagus. Jadilah pernyataan gue ini membawa gue terpental ke Jalan Protokol dengan banyak bangunan tua bersejarah.






This made in points, so you can easily read:

Benteng Vastenburg, Gedung Bank Indonesia
Vastenburg adalah sebuah benteng yang didirikan oleh Belanda pada tahun 1774 oleh Pihak Belanda dan selesai tahun 1779. Vastenburg artinya istana yang dikelilingi tembok kuat, dan merupakan sebuah benteng berbentuk persegi dan dikelilingi parit dan di beberapa bagian, ada jembatan angkatnya. Di tengah-tengahnya, ada lahan kosong berbentuk persegi, yang diperuntukan sebagai lahan kumpul prajurit, untuk latihan dan apel. Vastenburg adalah sebuah bangunan yang dipakai pihak Belanda untuk mengawasi aktivitas Kesunanan Surakarta dan juga melatih prajurit-prajurit, yang katanya sih, sempet ditugaskan untuk membunuh Pangeran Diponegoro.

Selama beberapa abad ia berdiri,  ia baru di renovasi 3 kali; yang pertama pas VOC bubar, yang kedua saat Belanda kembali mengambil Indonesia dari tangan Inggris, dan yang ketiga berlangsung sangat lama -- yaitu tahun 2013-an kalo nggak salah. Salut banget sama pemerintah kota Solo, karena memang banyak yang ngeluh kalau benteng ini kelewat nggak terurus dan kumal, padahal letaknya di jantung kota.

Berikut foto yang gue ambil di Benteng Vastenburg -- ini view dari pintu belakang. Sekilas, kalo diliat dari pemandangan di pintu belakang ini, Vastenburg terkesan 'tidur dalam damai' -- catnya putih, terlihat adem di tengah rindangnya pohon. Di depannya ada 2 patung kerbau dan patung prajurit. Bayangkan, benteng ini terletak di tengah kota, di tengah-tengah pusat atraksi bangunan tua, dan lumayan deket sama gerbang masuk Kraton (Gapura Gladhak), tapi yang bersusah payah menempuhnya cuman gue dan anak-anak kecil yang lagi hang out bareng ini. Emang, pintu belakang Benteng ini agak jauh dari jalan raya. Teduh dan sejuk, itu yang gue rasakan pas pertama kali, dan rasanya tempatnya enak kalo dipake curhat-curhat sore. Di bawah rindangnya pohon, angin bertiup pelan, dan sinar matahari masuk dari celah-celah pohon -- tingkat kemelankolisan gue naik 50% setelah berada di pelataran Benteng Vastenburg. Sorot damai juga ditunjukan dari raut wajah anak-anak yang nongkrong di depan Benteng -- sorot-sorot bahagia tanpa gadget, yang sekarang agak jarang ditemukan di Jakarta, apalagi di tengah agungnya business district Jakarta.






Sekali-kali foto ada guenya ya bolehlah ya...



Ah, coba aja ada banyak situs seperti ini yang tertinggal di Jakarta, instead of building skycrappers and malls, pastilah sorot kebahagiaan damai tanpa gadget ini akan begitu menentramkan Jakarta.

Setelah terbawa arus melankolisme sesaat di Vastenburg, akhirnya gue kembali mencari jalan besar dan melewati Bank Indonesia, untuk lanjut keliling ke Pasar Gedhe.







Pasar Gedhe
Pasar Gedhe secara kasat mata berarti Pasar Besar, mengingat pasar ini adalah pasar terbesar di Kota Solo. Di dirikan tahun 1930 dan dirancang oleh arsitek Belanda, Pasar Gedhe bernama lengkap Pasar Gede Hardjanegara dan dikenal dari atap utamanya yang khas, karena atapnya besar banget. Desain pasar ini menggabungkan unsur Jawa dan Belanda.

Dari lokasinya, Pasar Gedhe dekat dengan masyarakat berlatarbelakang Tionghoa dan di seberangnya terdapat vihara -- vihara Avalokitesvara Tien Kok Sie, yang mohon maaf, nggak sempet gue foto :(
Setelah gue berhasil melewati kerumunan tukang becak yang ngajak ngomong Bahasa Jawa (dan gue sebagai orang Jawa gagal nggak ngerti maksud dari omongannya), gue masuk ke Pasar Gedhe dan langsung menemui penjual buah-buahan.  Tujuan gue ke Pasar Gedhe adalah mencoba es dawet campur sum-sum yang di jual di dalam pasar, yang udah pernah dijajaki oleh Komunitas Makan Sutra. Emang lidah-lidah orang Makan Sutra nggak pernah salah, esnya enak banget dan harganya terbilang murah.












Selain es dawet sum-sum, satu lagi yang gue perhatikan dari Pasar Gedhe adalah banyaknya turunan landai di samping tangga yang diperuntungkan bagi penyandang disabilitas. Setelah gue baca sejarahnya, rupanya Pasar Gedhe pernah dirusak massa yang anarkis ketika Bu Megawati gagal naik jadi Presiden tahun 1999. Tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab ini kemudian diurus pihak pemerintahan dan dilakukanlah renovasi pasar yang cepat (selesai tahun 2001) plus ditambah jalanan melandai di samping tangga khusus untuk penyandang disabilitas.

Kraton Kesunanan Surakarta (PB's Throne)
Yogyakarta boleh punya Hamengkubuwono; Solo juga punya Pakubuwono. Yogyakarta punya kraton yang warna dasarnya putih-hijau, Solo punya kraton yang warna dasarnya putih-biru walaupun dari segi arsitektur nggak jauh beda, dan lagi-lagi merupakan perpaduan Jawa-Eropa.  Untuk kali ini gue nggak masuk kraton, karena dikejar waktu untuk flight; tapi gue udah pernah masuk ke dalamnya tahun 2011. Di dalam Kraton, pastinya terdapat aktivitas tradisional kerajaan dan kumpulan benda-benda kesayangan kerajaan. Let me recall my memory -- isinya biasanya adalah replika keris (bukan yang asli), termasuk kereta kencana, patung, penghargaan, miniatur kraton, dan harta-harta kerajaan lainnya. Kadang-kadang, di dalem suka nemu orang pake baju tradisional Jawa, jalan tanpa pakai alas kaki, mungkin itu pihak kratonnya.

Ada banyak hal menarik mengenai Kraton, tentunya, termasuk profil setiap Susuhunan (Raja)-nya. Mengenai desain awal Kraton, ialah Pangeran Mangkubumi / Sultan Hamengkubuwono I yang merancang (that's why Kraton Yogya dan Solo nggak beda-beda banget rupanya), dan salah satu Susuhunan termahsyur Pakubuwono adalah Pakubuwono X , yang bertakhta tahun 1930-an. Beliau dianggap salah satu raja terbesar karena walaupun berada di bawah pressure Belanda, beliau:
1. Berhasil mendongkrak penerbitan media massa
2. Mengadakan kongres berbahasa Indonesia pertama di Surakarta
3. Pada zamannya, mulai ada partai politik: Sarekat Islam
4. Mendirikan banyak sekali fasilitas yang bisa dinikmati sampai sekarang: Pasar Gedhe, Kebun Binatang Jurug, Stasiun Solo-Kota (Sangkrah), Stasiun Solo Jebres, Stadion Sriwedari
5. Beliau seorang pemerhati komunitas Tionghoa dan mendirikan rumah kremasi.

Ini dia preface dari Kraton Kesunanan Surakarta:









Perlambang kemahsyuran PB X.




Oh ya, salah satu highlight dari daerah sekitar Kraton ini adalah terbakarnya Pasar Klewer. Gue melewati bangunannya yang benar-benar habis terbakar dan merupakan PR buat pemerintah Solo. Walaupun sudah direlokasi, tapi tempat awal kan, yang paling nyaman ditinggali? :)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah berjalan-jalan di jantung kota Solo, tibalah saat gue harus melepaskan kota ini, sekali lagi, untuk pulang. Jam menunjukan pukul 12, yang artinya gue tinggal 1 setengah jam lagi ada di sini, di kota berleluhur yang tidak pernah lari jauh dari tradisi, yang telah menjatuhkan hati gue dengan distorsi zamannya. Gue jatuh cinta dan meninggalkan terlalu cepat -- bahkan 2 malem 2 haripun nggak cukup untuk gue mengenali pribadi Solo yang sesungguhnya, tapi Solo udah cukup membawa angin segar bagi gue yang bener-bener sedang suntuk dengan kehidupan sehari-hari.


Gue akhirnya terbang meninggalkan Solo, pukul setengah 2, setelah berabad-abad ngecharge di lounge bandara. Inilah alasan kenapa gue nggak suka nunggu, karena sesebentar apapun menunggu, pasti rasanya lama. Tapi kalo nggak nunggu di bandara dan terus nurutin hati untuk jalan-jalan, pasti nanti gue nggak mau pulang. Setelah 1 jam (kurang, malah) penerbangan, gue bisa melihat noktah-noktah di atas lautan, yang gue anggap kapal-kapal kecil yang berjejer di sekitar lautan pinggir Jakarta. Rasanya dari atas awan tercium bau-bau aneh -- mungkin bau tugas dan ke-hectic-an yang sebentar lagi akan melengkapi chaoticnya minggu terakhir perkuliahan sebelum UAS. Setelah pesawat landing dan gue akhirnya keluar bandara, gue tau bau itu bukan bau tugas ataupun bau ujian. Ternyata bau hujan.

Jadilah kedatangan gue di sambut dengan hujan deras, macetnya Soekarno-Hatta, dan sepinya bis Damri yang akhirnya memaksa gue untuk memutar playlist jedag-jedug supaya nggak kebawa melankolis (level of melancholism: beyond heaven but pretending not to look melancholic).


"Jadilah wanita yang seperti awan; cantik, lembut, namun tidak tersentuh."

P.S:
Thank you for staying with me and keep reading...
Well it took so much time for me to write this and I hope this is quite good, as well.
I'm glad it's finished!
Have a good weekend y'all.

Sincerely,
Your loving writer and friend,
Me.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar