Rabu, 07 Desember 2016

A Hit and Run One Night Stand: Malang

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Halo semuanya! Apa kabar?
Semoga semuanya baik-baik saja.

Senang sekali akhirnya bisa nulis lagi setelah 5 bulan lebih nggak nulis. Even when I got May-August as my (last) holiday (in the college life), it seemed like it was not enough. Gimana enggak; liburan gue habis di rumah aja untuk bikin CV dan apply sana-sini untuk mencari pundi-pundi rupiah. Walhasil alhamdulillah bisa menyalurkan tulisan mengenai kesehatan selama beberapa bulan terakhir dan soal pundi-pundi rupiah… Wah nggak usah ditanya lah -- habis buat menunjang kecanduan seblak Bandung. Gue masih harus belajar banyak dalam mengatur kondisi finansial.

Setelah beberapa bulan nggak kuliah (walaupun tiap hari juga kalo pergi kemana-mana pasti lewat kampus), akhirnya gue dengan resmi memulai semester terakhir perkuliahan. Semester terakhir dengan sejumlah problematikanya… Mulai dari blok yang sudah campur aduk penuh penyakit komplikasi dan kegawatdaruratan, visit ke rumah sakit untuk tanya dan periksa pasien ala ala koas, sampai presentasi laporan kasus dan diwejangkan karena sudah semester 7 kok pengetahuannya masih belum advanced…

Cie yang merasa pengetahuannya masih belom advanced padahal temen-temennya udah mulai pada wisuda. Cie…

Akhirnya semester 7 resmi diakhiri beberapa hari lalu; menyisakan 40% baper dan 60% gelisah -- baper karena hari-hari perkuliahan sudah selesai dan makhluk angkatan 2013 siap dipencar untuk kehidupan koas selanjutnya, gelisah karena masih ada 6 ujian yang harus ditempuh untuk kemudian Kartu Studi Mahasiswa siap dibakar dan untuk kemudian membayar kuliah semester depan.

Dan…
Ditengah 60% kegelisahan tersebut, tiba-tiba nyokap naro koper di kamar gue.

"Loh buat apa Ma"
"Flight ke Malang tanggal 19. Masukin baju," katanya.

Seketika gue delirium.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bukan nyokap namanya, kalau nggak dadakan.
Selalu begini, mulai dari hal-hal kecil seperti titip beli makanan, anter laundry, hingga hal kompleks yang dalam pelaksanaannya membutuhkan support wakil dekan, seperti melaksanakan ibadah umrah.

Seketika kombinasi 40% baper + 60% gelisah berganti menjadi 20% euforia + 80% gelisah.
20% euforia karena senang bisa escape gratis (semakin dewasa, gratisan terasa makin nikmat) ke Malang yang merupakan destinasi yang gue memang gue sering rencanakan dan nggak pernah kesampaian sekaligus 80% gelisah karena gue sadar ilmu ujian gue belum ada di level yang adekuat untuk menunjang nilai dan liburan ini akan mengurangi waktu gue untuk ngilmu.

Udah keliatan kayak anak kedokteran ngoyo belom gue? Enggak kok nggak ngoyo -- gue mah belajarnya gak kayak tetangga sebelah yang bisa 8 jam nonstop.
(No offense)

80% gelisah gue bungkus di dalam koper yang gue tarik di sepanjang terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, jam 7 pagi. Udah terlalu lama gak ke bandara, gue dibuat terpukau dengan terminal baru yang secara arsitektur beda jauh dengan terminal-terminal pendahulunya. Terasa lebih canggih, lebih modern, seolah Indonesia is no longer traditional.


Orang selama ini bilang kalau terminal Soekarno-Hatta masih tertinggal dengan bandara-bandara luar, but actually I like Soekarno-Hatta terminal generasi lama, walaupun kesannya jadul, primitif, tradisional, konvensional -- you name it. Gue suka warna merah bata-nya, gue suka hiasan lampu-lampunya. Menurut gue terminal generasi lama adalah cermin Indonesia. Etnik sekali. But with this new terminal, I ain't complaining. Sudah saatnya mungkin Indonesia punya terminal yang lebih bagus dengan arsitektur yang lebih modern dan pastinya fasilitas yang lebih baik. Pilihan makanan lumayan banyak -- dan akan lebih banyak lagi nanti ketika sudah full buka semua. Tapi satu yang mau gue protes, enggak ada McDonald di sana.


It took 2 hours more or less from Cengkareng to Malang -- gue berada di kursi yang agak terbelakang, bercampur dengan lansia-lansia Japanese yang berombongan trip ke Malang. Sepanjang perjalanan gue tadinya niat mau baca buku, tapi mau gak mau jadi nguping pembicaraan lansia-lansia ini. Hebat, mereka udah tua-tua tapi masih kuat bawa ransel sendiri, masih bisa ngerumpi asik, even trip ke luar negeri. Sampe mereka naik Bromo, gue salut banget sih.

Ini pertama kalinya gue ke Malang dan I was quite surprised to see the airport tho. Agak flashback ke memori 1 tahun lalu ketika gue mendarat di bandara Solo dan mendapati bahwa bandara tersebut ada di tengah-tengah persawahan -- bandara Abdulrahman Saleh Malang-pun sama. Gue mendarat di lapangan udara antah berantah yang di kanan kirinya ada pohon singkong dan bandaranya ada di kejauhan sana. Sementara gue menerka-nerka disebelah mananya Malang gue mendarat, orang Jepang disekitar gue dengan asyik membahas pohon Singkong. Gue gak bisa bahasa Jepang, tapi yang jelas mereka bilang Tapioka.

Bandara Abdulrahman Saleh mungil dan sederhana -- khas untuk bandara-bandara yang bukan airport khusus turisme, karena bandara ini sebenarnya adalah sejenis landasan untuk TNI AU. Nggak ada yang menarik dari terminal kedatangan -- hanya ada toilet, tempat ambil bagasi yang mungil, dan juga para supir taksi yang membuat kamu merasa seperti selebriti. Kembali lagi membahas orang Jepang, bahkan mereka sempat kebingungan dengan bentuk toiletnya yang mungkin nggak-toilet-bandara banget. Lebih mirip toilet SPBU soalnya… Sorry to say!

Dari bandara Abdulrahman Saleh, gue melaju ke Batu dengan rombongan teman-teman nyokap yang sudah datang duluan. Batu pastinya nggak asing buat orang Malang dan sekitarnya, dan juga buat yang Non-Malang -- karena Batu telah mendedikasikan dirinya sebagai Kota Wisata mengingat banyaknya atraksi wisata di sana, mulai dari Jatim Park 1 dan 2 (denger-denger mau ada Jatim Park 3 juga), Batu Night Spectacular, Batu Secret Zoo, Museum Angkut, belum lagi wisata Apel-nya, dan banyak atraksi lainnya. Berikutnya, tulisan ini akan gue split menjadi petualangan perdestinasi ya supaya lebih enak dibacanya. Yuk!

Museum Angkut+

Gue selalu berpikir apa rasanya jadi orang Batu yang tinggal disekitar atraksi-atraksi turis, seperti Batu Secret Zoo, Jatim Park, Batu Night Spectacular, dan belum lagi Museum Angkot. Pengen rasanya main ke semua (apalagi ke BNS), tapi apa daya, it's only short-lived trip; sehingga sebisa mungkin dikemas sepadat mungkin, ke tempat tujuan yang seasik mungkin.

Dari dulu gue sudah mendengar kalo Museum Angkut literally the best museum ever di Pulau Jawa dari temen-temen gue yang pernah kesana. Katanya "Kalo lo mau narsis, kesana deh, pulang-pulang udah gak bisa senyum saking pegelnya". Pas gue minta deskripsi detail, dibilangnya, "Udah deh kesana aja dulu!". Sangat tidak menjawab pertanyaan, tapi cukup menambah rasa penasaran.

Jadilah Museum Angkut sebagai destinasi pertama gue di Malang. Entah berapa jam dari Bandara Abdurrahman Saleh, yang jelas sebangunnya gue dari tidur, gue sudah berada di dekat Secret Batu Zoo yang notabene dekat sama Museum Angkut. Langit gelap, hawa-hawa sejuk Malang mulai bercampur dengan bau hujan. Antrian di depan loket gak terlalu padat; HTM masuk di weekend Rp 80.000,00/ orang. Bagi yang membawa kamera (selain kamera handphone), dikenakan biaya kamera sekitar Rp 30.000,00/ kamera.

Gue masuk dengan gelang (tiketnya berbentuk gelang, kayak di festival-festival gitu) dan cukup terkesima dengan pelataran depan museum. Banyak sepeda motor tergantung di dinding, ada sepeda zaman dulu, mobil zaman, dulu yang rata-rata keluaran produsen mobil luar negeri, sampai kereta kencana. It's already eyegasmic in the front.





Setelah puas liat-liat di depan dan di lantai dasar, gue pergi ke lantai atas. Di lantai atas, isinya banyak becak-becakan, bemo, dan segala moda transportasi jadul mulai dari transportasi Indonesia sampai transportasi Cina. Selain itu, ada beberapa game interaktif seperti menebak sinyal perkeretaapian (I was forced by my mother to remember all signals because my great-grandfather atau eyang kakung was a railway engineer) dan game interaktif mengenai pesawat paling laku - pesawat paling bagus -- everything about pesawat. Di samping itu, ada kayak mesin-mesin jadul yang digunakan untuk transportasi jadul, gitu.



I was about to go upstairs when rain suddenly poured. Akhirnya gue nggak liat-liat kabin pesawat yang memang adanya di atas.

Sisa waktu gue habiskan dengan duduk di pojok, ngeliat orang-orang lain selfie asik sekali. At that moment, I thought the museum was good but so boring. Gue mau keluar aja.

Gue kembali ke deket pintu masuk dan rupanya gak bisa keluar.
"Kalau keluar, lewat lantai 2, Mbak"
"Lewat mananya mas?"
"Di belakang teater."

Alamak, di lantai 2 memang ada teater kecil dan ada mini galeri isinya berbagai macam mata uang (soal uang, I still prefer Museum Bank Indonesia, tho) dan saking ramenya, jalan tembusannya sampai gak terlihat. Begitu gue nembus dari sana, gue kembali menarik kalimat "museum ini bagus tapi tetep boring".

The real side was about to revealed and the fun was not in the front.

Di balik teater, ada jalan keluar menuju sisi outdoor museum. Di balik hujan (yang sudah jadi) gerimis (saja), gue bisa melihat penampakan kawasan Pecinaan Kota Jakarta dan lengkap dengan pemandangan depan Stasiun Jakarta Kota (where my great-grandfather was working in his entire life), ditambah dengan pemandangan Pelabuhan Sunda Kelapa.





Setelahnya, museum kembali menjadi indoor dan menampakan mobil-mobil antik yang sangat cantik-cantik, mostly used in Japan.

Dari situ, keseruan semakin bertambah dengan berlarian menyebrang di bawah hujan untuk masuk museum indoor lainnya. Mulai dari Italia, Prancis, Jerman, U.K, Las Vegas, sampai Hollywood -- keseruannya gak berhenti-berhenti dan excitement bener-bener membludak campur aduk sama panik karena hujan semakin deras. That was exactly when selfies and taking proper pictures could be considered as sport.

Spot foto mainstream di Museum Angkut?


Buckingham Palace: Front

Inside Buckingham Palace

HOW. DID. THEY. CREATE. THE DETAILS.




You may judge me tomboy but this wall full of flowers excited me.

Salah satu penampakan di Kawasan Paris


Berlin Wall, anyone?

Petualangan ditutup dengan gue masuk ke lorong yang dihias menyerupai interior sebuah kereta api. Di sampingnya banyak layar yang seolah-olah menggambarkan pemandangan di luar jendela kereta ketika kita melihat dari dalam sebuah kereta yang sedang berjalan. Keluar-keluar, gue muncul di perbatasan antara museum dan Pasar Apung. If it was not raining and I got plenty of time, sure I would jump in there for next adventure, but uh oh time doesn't approve -- so I skipped the adventure and hoped that maybe I would hook up with it someday.

Intinya, aku ingin menarik kembali pernyataan bahwa "Museum Angkut+ sangat bagus tapi sangat boring" karena it was literally the best Indonesian museum I ever visited in 21 years of my life. It was exactly like my friends said that "Pegel-pegel deh lu senyum terus", "Selfie sampe capek", "Selfie sampe gempor". karena memang kenyataannya seperti itu. Setiap pojoknya indah dan instagrammable. Haha! But since I didn't really into aesthetic selfie, well, the kind of my fun was slightly different. I enjoyed capturing all sides of the museum walaupun agak sulit untuk mengambil proper pictures karena banyaknya orang yang selfie. Huh. Can't really blame them because the place was so gorgeous -- apalagi di bagian Italia, Paris, dan Jerman -- duh kusuka sekali! Kalau ada yang mau propose tantangan untuk mencoba museum lain, I dare you and your museum at comments yah!

Museum Angkut+
Jl. Terusan Sultan Agung No. 2 Kota Wisata Batu - Jawa Timur Indonesia 65314
HTM
Weekday: Rp 60.000,00
Weekend: Rp 80.000,00
Kamera: Rp 30.000,00

Dari Museum Angkut, gue pulang ke guesthouse di Kota Malang, yang kata Google Maps sih -- 6 menit dari Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Sejumlah teman-teman gue hubungi supaya bisa meetup di Malang, tapi apa daya karena aku berpergian dengan ibu-ibu dan bapak-bapak, aku stuck lama sekali di tempat oleh-oleh.

Ternyata perjalanan dari Batu ke Malang Kota jauh juga karena udah bangun tidur bangun tidur lagi belom juga sampai (gue selalu menilai jarak dengan cara seperti ini, maafkan) -- tapi tertulis sih di website (yang gue lupa website apa) kalau jarak dari Batu - Malang kurang lebih 20 km. Itu mah jauh juga yah.

Gue sampai di guesthouse sekitar jam 6 sore, lalu ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap-siap menghadiri resepsi pernikahan. Sebenernya inti dari kenapa gue ke Malang ya cuma karena resepsi aja dan gue diajak hanya sebagai tim hore dalam perjalanan wisata plus-plus selain ke resepsi.
(Pardon my bahasa)
(Plus-plus)
(Enggak papa, kalo ada yang ketik plus-plus di Google ketemunya nanti blog gue)
(Upaya menambah viewers)
Lol.

Jadilah selama gue ditinggal ke resepsi, gue kembali bersua dengan buku pelajaran dan kenyataan kalau beberapa hari lagi gue ujian. Di Path gue sudah dihujat tidak berkesudahan karena YOLO banget mau ujian malah pergi ke Malang. Perasaan ini mungkin namanya yang guilty pleasure ya; di satu sisi gue merasa bersalah karena harusnya I put much concentration to my LAST semester but actually it was quite pleasant to escape like this. Xixixi.

Tengah malam, gue terbangun, mandi keramasan supaya kedinginan dan full bangun. Surprisingly, Malang adem tapi tidak sedingin itu. Selesai mandi, gue packing dan bersiap check out. Check out di tengah malam di saat orang-orang mungkin baru check in tengah malam. Wow.

Tengah malam, gue terbangun di jok belakang mobil elf sambil berusaha menghafal obat antipsikotik namun kemudian terdistraksi oleh pemandangan tengah malam Kota Malang. Warung-warung kopi masih buka di jam 1 pagi, orang-orang masih bersenda gurau, kondisi jalan tidak terlalu ramai, tapi tidak terlalu sepi. Rasanya aman. I wonder when is the last time I feel safe and comfortable driving in the late of night. Gue sering pulang malam tapi dengan kecepatan 70 kilometer per jam dan dengan melirik spion setiap beberapa detik sekali untuk mengawasi apa yang ada di belakang gue -- dan itu berlaku sejak banyaknya begal dari beberapa tahun lalu. Di Malang, entahlah, I felt like it was safe and quite comfortable to drive on the street at 1 AM. Seperti itukah? Atau gue saja yang masih kasmaran dengan Malang dan belum tahu sisi kelamnya?

1 jam kemudian, gue terbangun di tengah hutan.

Penanjakan Bromo Tengger Semeru

Gelap. Sama sekali tidak ada lampu. Jalan berkelok tapi halus tanpa guncangan, tapi memang cukup ekstrim -- buktinya salah satu anggota di elf minta berhenti untuk muntah. Nausea is quite troublesome when you're up for the mountain or down for the sea, tapi bukan berarti nggak bisa dicegah sih. Tips menghindari mabuk ala Dina:


Btw, thank you for freepik to give free ship vector for a broke not-so-designer person like me.

Akhirnya, setelah melewati jalanan yang berliku-liku tanpa lampu, gue sampai di tempat muara penanjakan. Oke, Malang tidak sedingin itu... Tapi ketika gue keluar dari elf, gue bener-bener kedinginan. It's half-freezing untuk orang seperti gue yang lebih suka kegerahan dibandingkan kedinginan. Turun dari elf, gue langsung jadi selebritis dikerumunin sama mbak-mbak dan mas-mas yang menjual senter, syal, sarung tangan, sampai sewa jaket. Gue berjalan ke toilet diikuti oleh mbak dan mas, sampai di toiletpun agak ditegur dengan sedikit tidak menyenangkan.



Gini,
saya tau di dunia ini nggak ada yang gratis
apalagi di tempat wisata;
pipis bayar, kalau pup nambah, apalagi mandi,
dan jujur saya bukan orang yang suka menggratiskan diri,
saya tau cari duit itu sulit.

Antrian toilet masih panjang dan gue berdiri mengantri mengantongi dua ribuan.
Tiba-tiba gue ditegur,
"Sampeyan kalo mau pakai toilet ya harus bayar dulu!"

Loh, kok ngomongnya nggak enak. Gue merogoh kantong.
"Ini sampeyan berapa orang?!" -- sekali lagi dengan nada sok seru yang buat gue gak asik.
"Satu," jawab gue pendek.
"Ya bayar dulu dong!"
Ya ampun padahal antrian depan gue belom bayar juga kok gue doang yang dimarahin. Malah ada yang keluar baru bayar.

Saya dalam hati menahan diri untuk gak judgmental; mungkin banyak orang yang pakai toilet nggak bayar sehingga dia ketusnya bukan main menegur saya (dan cuma saya), but actually kinda can't help it but being judgmental. Tapi di satu sisi, saya turis sebagaimana juga pengguna yang lain. Semua orang ingin diperlakukan dengan baik. Perlakukan orang seperti kamu ingin diperlakukan. Jadi ayolah, bersimbiosis mutualisme. Saya pakai service kamu dan membayar, kamu kasih saya sapa dan senyum, juga service yang baik. Janganlah jadi turis dengan mental gratisan yang apa-apa maunya gak bayar. Jangan juga jadi mental yang sangat money-oriented hingga keramahannya nggak akan ditunjukan kalau nggak diberi uang.


Sedikit sebal, jam 3 gue naik jeep dan antrian masuk gerbang sangat panjang. Stuck disana sekitar 15 menit, lalu berhasil masuk dan lancar. Kita terus menanjak -- Bukit Cinta lewat hingga kita memutuskan untuk berhenti di Sunrise View Point tertinggi nomor 2 karena waktu sunrise sudah dekat. Keluar dari jeep, agak sedikit doyong karena oksigen tipis dan udara super dingin sampe bibir gue gak bisa bergerak. Pertama kalinya celah paha sampai gemetar saking dinginnya.

(Pardon my bahasa)

Dari titik berhenti, gue harus jalan sekitar 100 meter ke View Point hingga akhirnya gue menemukan ujung tebing yang penuh dengan bule Prancis sedang mengabadikan entah apa orang masih gelap.

Matahari mulai merayap perlahan dan disanalah, Gunung Bromo dan kawahnya berdiri tegak. Kembali menyambut hari tenang lainnya -- menjadi sumber nafkah bagi para pemuja yang hidup di balik kaki-kakinya. Semua orang berselfie dan gue gak tau harus ngapain selain merasa beruntung sudah bisa ada di titik ini dan melihat bahwa alam bisa menjadi sangat indah dan baik bagi manusia dalam satu waktu. Kamu diizinkan menaikinnya, diizinkan makan dari tanahnya, diizinkan mencari uang darinya -- lalu kenapa masih serakah?

Para penikmat sunrise -- sebagian berduyun selfie, sebagian sibuk termenung.






Petualangan belum selesai.

Setelah menyaksikan sunrise termenggetarkan sela-sela paha, gue dibawa gajluk-gajlukan lagi menuruni lereng, masuk ke hamparan pasir di sekitar kawah-kawah aktif Bromo. Iya, tempat mainstream-nya Bromo dimana suka banyak orang naik kuda, foto di Savanna.

Berada di jeep bagian depan bersama nyokap dan setengah sadar itu rasanya nggak karuan -- di satu sisi gue merasa amat sangat mengantuk dan pingin tidur aja, di satu sisi gue merosot terus dari kursi sehingga enggak bisa tidur, dan rasanya sayang kalau melewatkan pengalaman gajluk-gajluk + pemandangan yang nggak setiap hari bisa ditemui saat membuka mata. Akhirnya gue memutuskan untuk terjaga, karena enggak mau nyesel begitu nanti sampai Jakarta kalo gue gak menikmati escape ini semaksimal mungkin.

For God's Sake -- it's still 5 AM in the morning.

Guess whose hand was trembling when taking this picture?

A life to die for?

When sunlight shines between two mountains -- it creates cahaya surgawi! O! Heavenly light...

Expecting longer grass, but well... OK Fine.

Be like an old jeep; old, yet strong, adventurous, and classy at the same time.

Akhirnya, setelah beberapa lama terkesima dibuai pemandangan indah dan udara gunung yang mulai menghangat, sense untuk balik ke realita kembali juga setelah gue mendapati bahwa gue gak minum udah dari sebelum tengah malam dan tetap dikuasi rasa ingin pipis. Ya, memang ketidaknyamanan-lah yang membuat hidup kita harus tetap berlanjut. Thanks to ketidaknyamanan, we can keep continuing our life and survive from one day to another. (Apasi gak nyambung).
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalanan pulangpun memakan waktu berjam-jam (3 jam? 4 jam mungkin?) dan intinya gue berhasil mencapai Bandara Abdurrahman Saleh dengan tepat waktu setelah beberapa kendala di jalan:

1. Akses jalan gunung yang biasanya dipakai pulang menuju Malang sedang occupied dengan hajatan yang menutupi satu jalan full, sehingga mobil-mobil yang mau lewat harus puter balik di jalanan menanjak yang ujungnya jurang tanpa pembatas jalan. Okay.

2. Gue kurang paham kenapa kita mau pulang ke arah kota tapi jalanan gunung semakin menanjak. Beberapa kali mobil elf tidak kuat menanjak sehingga kita merosot lumayan mencekam di beberapa turunan.

Tapi alhamdulillah, gue bisa duduk di boarding room dan hanya meninggalkan satu hal di Malang; perasaan ingin kembali karena belum puas. Ya, Malang is my another hit and run setelah petualangan gue ke Solo tahun 2015 dan bahkan I just hit Malang for one night stand! I even got 2 nights in Solo, and still be completely curious about staying longer. Semoga masih bisa mengunjungi Malang dan sekitarnya suatu hari nanti untuk mengunjungi Batu Night Spectacular (entah kenapa kok gue pengen banget kesana ya?) dan untuk main ke atraksi lainnya seperti Pulau Sempu, mungkin? Semoga yang terus kusemogakan!

Terima kasih Malang dan petualangannya!
Let's hook up for a longer time; I am tired with one or two night stands :p
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Well, I think that's all for the stories.
Phew, such a long time to write but I had never been this enthusiast before in past months.

Ngomong-ngomong, hari ini 3 minggu rangkaian UAS gue baru selesai, mohon doanya ya supaya bisa dapet nilai yang lulus dan memuaskan (tentunya!). Semoga... Semoga! Aamiin.

Salam,
Pejuang IPK yang
'tidak apa tidak cumlaude
yang penting bisa selalu makan enak dan punya uang lebih
di kemudian hari'

Annisa Dina

2 komentar:

  1. halooo! Maaf oot, soalnya saya suka warna foto2nya :> Boleh tau pake apa? terima kasih :)

    BalasHapus
  2. Halo Gina! Untuk kamera, aku pakai Nikon Coolpix L110 dan Xiaomi Redmi 3. Diatur-atur sedikit pas pake, lalu pakai VSCO supaya warnanya lebih nyala :)

    BalasHapus