Jumat, 28 Juli 2017

Notes from a Co-Assistant

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo semuanya,
been centuries since the last time I make a progress in filling these blanks called blog post.

I do hope everything is fine,
your health
your surroundings
your works
your financial state
your routines;
I hope you are fulfilled in every aspect of life.

I hope you are as fine as this morning sunrise I captured after my night shift!

7 bulan tanpa menulis untuk orang yang menargetkan 1 bulan 1 post, rasanya kok hampa-hampa tidak sedap. Setiap hari kepikiran isi blog tapi untuk menambah kok rasanya nggak ada yang layak diceritain -- habis hari-hari gue hanya seputar kemelut dunia per-koas-an (dilarang salah membaca) dan hal-hal yang gue terus tanyakan beruang-ulang, seperti "nanti malam jaga malam mau makan apa ya", atau "gue masih ada tugas apa lagi ya", atau sesimpel "nanti pulang jam berapa ya".

Oh ya, dengan penuh kesadaran dan penghitungan hari, gue sudah sekitar 6 bulan menjadi seorang ko-as -- bukan mahasiswa karena gelar sudah sarjana, bukan juga dokter karena secara etik, keterampilan, dan pengalaman, gue belum disana.

They said being a co-ass is one of the special period in a life of a doctor. Well, I did not really understand until I become one. Waktu gue mahasiswa, gue hanya mendengar beberapa selentingan "ko-as begini, ko-as begitu", nggak jarang cerita pahitnya saja. Well, some of the rumors are (maybe or really?) true, but I really want to spill out some feelings about ko-as life which is often, misunderstood, by so many people.

So here, I present some lessons learned from ko-as.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lesson #1
To make friends with everyone

Manusia adalah makhluk sosial -- homo homini socius (a human is a friend for another) adalah sebuah kalimat dari Adam Smith; sering terdengar di buku PKN, buku ekonomi, buku sosiologi, dan sejumlah buku lainnya yang gue terakhir baca di kelas 1 SMA. At first we think life as full of theorems but then those theorems are coming true. Homo homini socius sangat gue rasakan di dunia ko-as.

Di dalam dunia ko-as dan seterusnya, friends are needed -- because teamwork makes one's heart beating back alive after it stopped, makes one gets back its consciousness after a coma, and makes miracle happens. Medical thing is mostly about teamwork: behind a successful surgery, there's a great team consisting of surgeons, anesthesiologists, nurses, ward clerks, etc -- and same applied to other medical stuffs outside the field of surgery.

Untuk melakukan ini, butuh multi-person team, termasuk aku si koas yang nuang-nuangin
betadine dan ngambil-ngambil perkakas. At least I am needed!

Salah satu keajaiban saat ko-as adalah gue mendadak kenal banyak senior atau teman yang sebelumnya bahkan gue enggak tau bahwa dia ada di muka bumi ini karena mungkin gue adalah seorang mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah-pulang) dan dia adalah mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat kuliah-rapat), dan kita nggak pernah ketemu karena gue selalu sibuk ingin melarikan diri ke rumah dan dia selalu sibuk berdiplomasi di dalam ruang rapat -- dan surprisingly ketika kenalan, ternyata kita cocok, banyak ngobrol, dan menjadi dekat dalam waktu singkat yang rasanya nggak asik kalo nggak mesen go-food bareng.

Perjalanan ko-as juga akan diwarnai dengan penempatan di stase dan tempat-tempat berbeda, misalnya di UGD, di bangsal, di ruang operasi, di ICU, di puskesmas, di rumah sakit umum, di klinik, di balai kesehatan, atau dimanapun -- you name it -- dan semua tempat itu akan jauh lebih hangat dan ramah jika seorang ko-as bisa membuka diri dan bersosialisasi dengan siapapun yang ada di sana; perawat, satpam, ward clerk, OB, termasuk dengan ko-as dari kampus lainnya, seterbuka mungkin sampai makanpun rasanya sayang kalo nggak bareng-bareng dan sedih kalo shiftnya nggak barengan. Pelajaran pertama dari ko-as adalah the better you get along with people, the warmer the world will be.

Lesson #2
To appreciate small things

The threshold of happiness is for us to make.

Bahagia atau nggak bahagia, seberapa besar effort yang dibutuhkan untuk menciptakan kebahagiaan itu adalah kita yang menentukan -- hanya sedikit campur tangan orang lain dalam menentukan kebahagiaan kita, that's what I always believe.

Ko-as is a tiring process, I admit. In my case, I don't have Saturdays and barely have proper Sundays. Bagian-bagian besar seperti bedah, penyakit dalam, kebidanan dan kandungan, dan anak lah yang paling merasakan bagaimana weekend dihabiskan buat jaga dan sehari-hari banyak dihabiskan dengan balik malam. Tapi itu prosesnya dan tidak bisa ditawar. Waktu dengan famili (bagi yang bukan mahasiswa rantau seperti saya), teman, pacar, waktu untuk makan-makan enak, tidur nyenyak, mungkin sedikit berkurang baik secara kuantitas dan kualitas -- but those things only make us to appreciate more for small things.

Appreciating small things in my dictionary includes appreciating every sunrise that I could see;
karena nggak setiap hari bisa datang sesiang matahari terbit. Hahaha!

Dengan rutinitas tersebut, perhatian sekecil apapun mampu membuat koas-koas menjadi baper, waktu luang sekecil apapun menjadi berharga, dan aktivitas kecilpun menjadi bermakna. Saat lagi sibuk follow up pasien, ada temen kasih susu kotak karena beli kelebihan, jadi terharu. 1 hari dapat tanggal merah bisa full di rumah dengan keluarga atau mungkin ketemu pacar, terharu lagi. Bisa quality time pergi ke kantin dengan sohib deket yang lagi beda stase, terharu lagi.

Well, lower threshold of happiness is not a bad thing, I guess.

Lesson #3
To realize that it's not always about yourself

I am used to overheard things -- well, I mean I don't want to, but I always catch the words anyway. Waktu itu pernah mendengar bisik-bisik segelintir generasi pendahulu, entah dimana, bahwa generasi muda sekarang ini orangnya individualistik. Well, I can relate about that individualistic manner if I brought back my memories about those days in high school and college -- tapi yang jelas, di koas, entah terpaksa atau tidak, kita akan dibuat sadar bahwa the world is not only about your own self.

Contoh simpel bisa dipetik dari problematika klasik koas-koas seluruh generasi: giliran jaga.
Jadwal jaga malam adalah hal yang krusial, jika salah tempat bisa mematikan. Kejadian paling sering adalah malam ini jaga, besoknya ujian presentasi kasus. Niscaya, jika mendapat kesialan tersebut, jaga malam nggak akan tenang -- keteter sana sini, belum lagi gugup, was-was, dan kurang persiapan untuk bikin slide sekaligus ngeprint hand out. Belum lagi memahami isinya. Belum lagi penyusunan key point supaya di depan bisa improvisasi. Belum lagi mempelajari additional sources kalau-kalau ditanya hal-hal yang merembet kemana-mana.

Jaga malam will always be problematika ko-as.

Biasanya, untuk mencegah terjadinya chaos, seseorang akan meminta tukeran jaga dengan temannya yang lain dan di sinilah lesson #3 terjadi. Disinilah detik-detik dimana kamu akan mikir-mikir banget untuk tukeran jaga dengan teman tsb yang membutuhkan:

"Apakah saya diuntungkan, dirugikan, atau tidak dipengaruhi jika saya gantiin dia jaga"

"Tapi, mungkin suatu saat saya akan ada di posisi dia dan mungkin saya akan desperately butuh tukeran jaga supaya presentasi saya nggak hancur berantakan"

Di sinilah kita dipaksa untuk membayangkan bahwa dunia ini bukan hanya soal kita, tapi soal orang lain juga -- orang yang lebih butuh, orang yang posisinya suatu saat akan menjadi posisi kita.

Satu pelajaran lagi yang sangat membuat hati gue anget-anget gimana gitu adalah kejadian di hari lebaran kemarin.

Seperti yang sudah dijelaskan di lesson #2, koas akan sangat mengapresiasi waktu luang sekecil apapun -- dengan kata lain, jika ada tanggal merah, koas manapun di dunia ini akan sangat menginginkan libur. Mohon maaf sebelumnya, gue akan bahas sedikit soal kehidupan beragama dan diversitas. Dalam 1 grup koas, hanya gue yang muslim dan sebagai koas di rumah sakit swasta yang tidak mengikuti kebijakan pemerintah, koas jaga diwajibkan stand by di 2 hari lebaran. Kebetulan waktu itu gue sedang menjalani stase yang ada bagian jaganya, jadi seharusnya gue mendapat porsi untuk stand by di hari lebaran. Tapi alangkah baiknya, teman-teman gue yang tidak merayakan lebaran told me to chillax (chill and relax) because they would cover those 2 days so I could have a proper eid al fitr and I could have a shift in H+2 or H+3 eid.

They taught me that "gue koas, gue butuh libur, gue lagi gak kebagian jaga, yaudah gue libur lah" kadang tidak berlaku pada beberapa circumstance dan dunia ini bukan melulu hanya soal our own well-being, tapi juga kenyamanan orang lain yang lebih membutuhkan. Aduh, lagi-lagi gue terharu juga ceritanya...
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Well.
I think that's all I could write right now.

Masih banyak pelajaran dari menjadi seorang ko-as, mostly pelajaran tentang kehidupan, ethics, morals, communications, termasuk pelajaran untuk mempercayai bahwa puyer ternyata masih menjadi pilihan bentuk pemberian obat.

It's still a long journey -- this co-ass life. I can't really see the finish line from the point where I stand right now. Dari 14 stase, gue baru selesai 3 stase -- sementara senior di atas gue semuanya sedang berseri-seri karena mereka tinggal 3-4 stase. I am about to be jealous of them, but they all said it's all about the process. "Nanti tahun depan, adik-adik kelas kamu yang akan iri ketika kamu tinggal 3 stase lagi -- it's a cycle; you come in, you get jealous, you survive, you pass it." Well, with 11 stase left, I still have so maaaany to learn, yes?

3/14 station done. Still a long way to go, tho!

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Thank you for reading.
Cheers,
your (co-ass) writer.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar