For best experience in desktop, zoom out the page ([CTRL + -] to 90%)

Selasa, 24 April 2018

A Sea-side Village; Tangerang in such a depth.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*sighing*
Finally I am back.
*opening my coffin*
*playing EDM songs*
*dancing ubur-ubur dance*


Finally wake up from my death. Thank you for the awesome gif, gfycat!

It's been a VERY while since the last time I had a chance to touch you.
I mean my blog.

Selamat pagi, siang, malam -- semuanya, siapapun, yang mampir membaca.
I hope you are in your best state of physical, emotional, and financial health.
(The last one is crucial)

Semoga semua pembaca lama masih ingat bahwa saya adalah seorang ko-as yang mohon maaf, belum lulus juga.

Jadi selama beberapa bulan ini saya hidup mengembara dari satu stase ke stase lain;
Kelempar ke Serang dengan populasi ibu melahirkan yang tinggi -- dan tentunya seragam dengan peningkatan populasi dedek bayi yang baru lahir juga.
Kelempar lagi ke dalam bekunya kamar operasi dengan desk job membuat orang tertidur.
Dan lalu saya kelempar lagi ke dalam suatu stase yang mempelajari sebuah organ yang kecil tapi ternyata rumit -- mata.

Stase anestesi yang kerjanya membuat orang tertidur...



Sekali lagi, semoga semua pembaca lama masih ingat bahwa saya adalah seorang ko-as yang belum lulus juga.
Sebagai seorang ko-as, gue punya tugas-tugas dalam satu stase, di antaranya adalah presentasi kasus dan referat. Sesuai namanya, presentasi kasus merujuk pada menampilkan sebuah kasus dan analisanya, yang berarti harus ada orang yang mengalami kasus tersebut. Nah, setelah terseok-seok mencari kasus sebagai syarat kelulusan, gue bertemu dengan seorang ibu-ibu yang merupakan pasien di poli mata dan I thought she was the one I was looking for. Ternyata, perkenalan dan periksa-periksa ibu-ibu ini membawa gue ke sebuah kampung kecil di Tangerang -- yang mimpi kesana pun gue nggak pernah, tapi membuat gue jadi deep in thoughts mengenai kabupaten yang selama ini gue tinggali.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Namanya Kronjo,
letaknya di "Balaraja sonoan dikit" kalau kata orang-orang.
Iya sih, sonoan dikit tapi gak sampe 1,5 jam perjalanan juga dari Balaraja kaleee!

Di suatu pagi di hari Minggu dimana akhirnya gue bisa libur, gue berjanji ketemu ibu-ibu ini dan ibu kadernya di Kronjo, daerah rumahnya. Awalnya beliau bilang, "Jangan neng, jauh. Biar ibu aja ketemu neng di poli hari Senin", gue menimpali sambil lalu, "Ah nggak papa bu kalo cuman di Balaraja sonoan dikit, saya bisa kesana naik motor sambil refreshing".

Jadi here are the reasons why I agreed to push my gas to that place, without even looking to the maps before:
  1. Waktu untuk presentasi kasus sudah mepet (let's be realistic with time; gue tau gue orangnya lamban, nggak bisa selesai kasus dalam 1 malam).
  2. Sekalian jalan-jalan (udah lama banget dong nggak naik motor jauh-jauh.
  3. Ibu ini berasal dari daerah yang agak terbelakang di Kabupaten Tangerang, jarak tempuh relatif jauh dari tempat gue berpraktek. Untuk ke rumah sakit, biasanya beliau bersama kadernya (semacam pemuka masyarakat yang suka bawa-bawa pasien ke rumah sakit untuk diobati) dan biasanya pasien-pasien yang mau berobat ini akan patungan untuk sewa mobil ke rumah sakit tempat gue praktek. Patungannya lumayan, bisa 50-75 ribu sehari bolak-balik.


Dan setelah angguk-angguk janjian dan nanya alamat, gue baru buka google maps dan mendapati bahwa jarak tujuan gue adalah 49 kilometer dari kantin rumah sakit pada waktu itu.

Benak gue:
WANJIR
WADUUU BRB TEPOS
HMMMMM

Tapi kemudian gue teringat bahwa gue pernah lebih gila lagi ke Sentul naik motor untuk cari air terjun. Kalo mau tau ceritanya bisa klik di sini. Cuma 49 kilometer aja kok, pikir gue.

Jadilah gue menginjak gas ke daerah tersebut; hanya bermodal google maps, 1 botol minuman teh, kertas fluoresin untuk periksa kornea mata, dan penlight. Dengan 2 jam perjalanan semi kebut-kebutan dari rumah belum lagi drama nyasar-nyasar kemudian terjebak macet akibat ada pasar di tengah jalan, akhirnya gue sampai ke depan tugu yang diceritakan ibu-ibu ini.

"Neng, kalo udah ketemu tugu yang warnanya ungu ada ikan sama udang hadep-hadepan lagi ngopi, berarti udah deket ya"

Beneran lagi ngopi bareng mereka...

Dari sana, gue belok mengikuti kata google maps dan menemukan tulisan "pantai … km lagi".
Dari google maps memang gue tahu bahwa kampung tujuan gue ini memang dekat pantai, tapi mind-blowing aja mendapati bahwa gue di Tangerang dan sedeket itu dengan pantai. Oke, agak malu juga mengakuinya, tapi I have been in Tangerang for my whole life dan gue baru tahu bahwa salah satu ujungnya berbatasan langsung dengan lautan. Emang susah kalo scope pengetahuan cuman sampe Pantai Anyer atau Pantai Ancol.

Selanjutnya, gue mengikuti jalan dan nyasar lagi sampai ke tepi perairan yang berisi kapal-kapal kecil yang buat cari ikan dan di sisi-sisinya dipenuhi pohon Mangrove. Rasanya lumayan seperti PIK tapi dengan sentuhan village.





Sampai akhirnya setelah nyasar-nyasar akhirnya gue bisa menemukan rumah ibu kader dan ibu kader akhirnya membawa gue ke rumah ibu-ibu gue. Di perjalanan menuju kesana, ibu kader cerita soal problematika penduduk wilayah pesisir Tangerang ini; mulai dari penduduknya yang masih harus diceramahi untuk concern soal kesehatan diri sendiri, sampai susahnya menemukan fasilitas pelayanan kesehatan yang cukup bagus untuk 'menampung' mereka yang baru saja concern dengan kesehatannya. Menurut mereka, fasilitas pelayanan kesehatan yang baik itu adalah sebuah rumah sakit yang jaraknya plus minus 49 km dari sana -- dan pergi kesana tentu saja membutuhkan effort secara tenaga dan finansial. Sebagaimana layaknya wilayah pesisir, penduduknya punya penghidupan dari hasil laut dan tingkat sosial ekonominya ya segitu. Tentu saja dukungan finansial berbanding lurus dengan ketaatan kontrol penyakit.

"Yah, neng jangan ngomongin ketaatan kontrol dulu karena secara kantong, sulit juga. Pergi ke rumah sakit aja harus patungan sama-sama carter mobil. Yang penting mereka ada kemauan berobat dulu."

Singkat cerita, setelah beberapa saat berboncengan sambil ngobrol mengenai isu sosial dan kesehatan di sekitar daerah pesisir tersebut, sampailah gue ke rumah ibu-ibu. Setelah tes mata dan ngobrol-ngobrol, gue dikenalkan juga sama penduduk-penduduk lain, terutama yang punya kasus mata juga. Misalnya, dedek kelas 1 SMP yang didiagnosa katarak juvenil dan sudah operasi 2 bulan lalu -- tapi nggak balik kontrol lagi karena ibunya mengaku sulit membayar ongkos kendaraan untuk kontrol (padahal segala biaya lainnya ditanggung jaminan; BPJS), banyak juga penduduk-penduduk yang mengaku matanya cukup buram dan setelah dilihat ternyata lensanya keruh juga. Setelah dihitung-hitung kira-kira gue dikenalkan dengan 10 orang lebih yang memiliki masalah mata di daerah itu. Itu baru mereka yang punya masalah mata, belum lagi dengan mereka yang punya masalah kesehatan lain, seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan common diseases lainnya. Ketika ditanya "kenapa kok ada keluhan tapi nggak berobat?", jawabannya bervariasi mulai dari...

"Saya pikir barangkali kurang istirahat aja makanya burem"

"Saya tadinya mau periksa tapi kata orang emang normal karena udah tua jadi nggak perlu periksa, tapi kok makin burem ya lama-lama ngga bisa liat dok"

"Nteu aya duitna, bu dokter" (nggak ada duitnya, bu dokter)

"Kalo saya ke rumah sakit melulu kontrol nanti nggak ada yang cari duit, dokter"

So I was kinda stuffed by thoughts;
selama koas, I had met lots, lots, lots of patients.
Various kinds, coming from different sosio-economic status, with different level of knowledge.
Banyak orang datang ke rumah sakit karena merasa dirinya sakit, padahal mereka 100% sehat.
Banyak juga yang sakit keras tapi tertahan di rumah, padahal tahu butuh ditolong.
Ada satu group of people yang berkali-kali ke rumah sakit hanya karena they felt so anxious about their health tapi otherwise healthy dan ada group lain yang tidak pernah ke rumah sakit karena tidak curious about their health walaupun tahu mereka sakit.

Kesadaran diri mengenai kesehatan memang dipengaruhi banyak hal -- tingkat sosial ekonomi, pengetahuan, termasuk bisik-bisik dari lingkungan. Health is a mind-set and for me, it takes years or centuries to build a mind-set. Dan ketika mind-set ini sudah terbentuk, fasilitas pelayanan kesehatan beserta sumber daya manusianya harus siap menampung mereka yang baru saja "tercerahkan" untuk peduli soal kesehatannya. Mungkin hari ini belum banyak yang tercerahkan -- mungkin tidak juga besok, atau tahun depan -- tapi kita semua harus ada di sana ketika makin banyak orang yang concern dengan kesehatannya.

Ketika otak gue sibuk berlari-lari kesana kemari, biasanya kaki gue mengikuti. Jadilah sambil berpikir-pikir hal yang tidak biasanya dipikirkan tiap hari, gue turut berkeliling di pantai sekitar desa wilayah pesisir ini:

Serasa di Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk?

Ini kayaknya kalo mau ke rumah harus nyebur dulu atau naik perahu...

Pemandangan di pinggir pantai



Kenampakan pantai -- pardon my panoramic picture. Seharusnya gambar memanjang jadi malah bersudut!
Ini tepian pantai kok -- tipenya kayak pantai Ancol dimana pinggir-pinggirnya banyak batu
supaya nggak abrasi. Tidak ada pasir melandai ya sayangnya.




Kalo liat bangunan tua gini udah tinggal puing, jadi inget Pulau Seribu -- Pulau Onrust!

Tidak lama jalan-jalan, waktu sudah menunjukan pukul 1 siang dan gue menyadari bahwa gue far far away from home. Gue berpamitan pada semua ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada dan yang telah menemani gue hari ini pergi berkenalan dengan orang-orang, foto kenampakan alam, dan juga menunjukan gue seafood-seafood bagus. Gue sudah lama nggak jalan-jalan jauh sendirian yang mind-blowing -- dan tamasya dadakan ke pesisir Tangerang ini selain hemat dan menantang, juga membuat gue melek bahwa ada pantai di Tangerang dan masih banyak orang-orang yang coverage kesehatannya masih di bawah rata-rata dan tingkat pengetahuannya mengenai kesehatan diri masih kurang padahal sebenarnya Kabupaten-ku tak sebelakang itu. Bonus, di pesisir Tangerang ini penduduknya benar-benar welcoming dan warm. Gue merasa bukan baru kenal sehari -- tapi seperti teman lama.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jadi, here comes the end of the post.
Maafkan post super random dan ngalor ngidul ini.
Doakan pola pikirku semakin maju dengan seiring bertambahnya usia ko-asku
(dan doakan semoga diriku cepat lulus).

I hope you guys, always in the best state of physical, emotional, and also financial health.

Love you,
Your (co-ass) writer.


1 komentar:

  1. Terkesan, terpukau, mind-blown...eh sama aja ya
    Gila si lu niat bgt jalan 49km sampe ketemu pantai segala buat preskas
    Untung berbuah ya
    Semangat Dina <3
    Keep on writing!

    BalasHapus