For best experience in desktop, zoom out the page ([CTRL + -] to 90%)

Jumat, 27 Juli 2018

Nature's calling: Papandayan

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Selamat siang semuanya, semoga hari ini merupakan Jumat yang sungguh barokahnya luar biasa.
*religious mode: on*

I think my level of blogging has reached its peak because right now I am blogging in poliklinik kulit at midday, while my doctor (a dermatovenerologist, of course) sits just beside me. Well… I deserve a cheer for this awesomeness.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

So where should I start?

Orang yang sudah bertahun-tahun baca blog gue (yes, I have been blogging for almost 9 or 10 years?), mungkin berpikiran bahwa blog ini merupakan kombinasi antara curhatan daily life dikombinasikan dengan trashy poetry dan keisenganku berjalan-jalan. Well, jalan-jalan is my hobby. Not a fancy kind of traveling, but I am pretty satisfied just to stroll around a city (with SUCH lack of money), seeing city lights, and taking pictures that worth a nice caption.

So, as I grow older, I have determination to go on hiking. I have been wanted to hike since 2015.
Real hiking. To mountains.
Using proper equipments. Hiking shoes, not fancy sport shoes. Bringing a great carrier, not a simple daypack while leaving all things in a hotel room. Spending night in tent, not a simple strolling in a noon and going back to a proper bed at night. Gue ingin merasakan wildness membakar jiwa, nyamuk dancing around, or simply just freezing in the middle of mountain air.

But that simple dream of mine tidak bisa terealisasi segera.
2015, gue udah di tahun terakhir kuliah, lagi sibuk-sibuknya dan tobat-tobatnya kuliah memperbaiki absen yang buruk rupa.
2016, gue udah mepet tahun koas, mulai sekarang absensi diperketat dan mulai suka ada keharusan masuk di saat weekend. Plus, di tahun ini gue sedang berada di titik nadir perekonomian seumur hidup gue.
2017, gue udah resmi jadi koas, mulai tahun ini, sebagian besar (oke, hampir semua) hidup gue, gue baktikan untuk menggeser gelar S.Ked ke depan menjadi dr. Di sinilah ketidaksinkronan hidup itu dimulai; weekdays selalu pulang malem, kalo lagi nggak pulang malem stamina wasted, weekdays juga ikut tersita job-job koas. Sangat susah cari waktu untuk sekedar rekreasi ke kota sebelah yang terdekat.


Terakhir kali back to nature sama keluarga di tahun 2016. Sekarang kalau diajak pasti kebentur,
"Yah... Aku jaga tanggal segitu..."

2018, April, gue resmi pindah ke tempat kerja baru yang jam kerjanya lebih nice. I got a proper weekend, a comfortable working hours at weekdays. Rencana naik gunung-pun sudah di depan mata. Tapi namanya naik gunung kan nggak mungkin gue sendirian, jadilah gue ngajak orang-orang. "Yuk temenin gue hiking, weekend ini – Papandayan, Gede, manapun deh yang deket," gue separo memelas saking desperate mau naik gunung. Tapi jawaban orang selalu mirip, "Din, kok baru mau naik gunung sekarang? Orang tuh udah naik turun gunung sampe jenuh, lo baru mau naik. Udah lewat masanya…"

Kesimpulannya, gue ini telat puber. Dah, gitu aja.

Karena ngajak-ngajakin orang nggak berhasil, akhirnya gue bertekad kalo gini gue mau ikut open trip aja sendirian. Nggak papa deh ber-awkward awkward ria dahulu dengan strangers, tidur setenda sedempetnya dengan strangers, mungkin pulang-pulang bisa tambah kenalan dan relasi. Begitu niat impulsif gue sudah membakar 200% jiwa, tiba-tiba temen seperjuangan, sepermotoran, dan sekamar kosan (I KID YOU NOT) bilang, "Yuk gue ikut" (Ayla was there in my Leuwi Hejo post: click )

I miss my old adventurous days...

So I ended up choosing an open trip to Papandayan, setelah meminta advis sana-sini mengenai "Hm, baiknya gue naik gunung apa ya yang cucok buat entry level". Ketika gue bilang Gunung Gede, katanya "Ya bagus sih, tapi mending jangan, agak curam-curam". Ketika gue bilang Gunung Salak, katanya "Nanti lo ilang". Jadilah mayoritas suara menyarankan gue naik ke Papandayan saja dan menganjurkan gue untuk beli equipment yang perlu. Hiking shoes itu wajib kalo enggak mau terpleset, terpelanting, kaki lecet, dan menyusahkan khalayak serombongan.


Tanggal 13 Juli malam, gue sama Ayla tergopoh-gopoh memesan gojek sambil bawa carrier untuk ketemu di Kampung Rambutan. Iya, carrier yang baru dikemas 1 jam sebelum keberangkatan, karena hari itu begitu hecticnya sampe kita baru sempet packing sesaat sebelum magrib. Jalanan Jumat malem plus rush hour,  plus jok abang-abang gojek yang tersita carrier 55 liter yang nemplok dan narik-narik pundak gue, nikmat sekali rasanya. Sesampainya di Kampung Rambutan, dengan kemampuan navigasi yang jelek, akhirnya kita bisa menemukan rombongan open trip. Senyum, salaman-salaman, memperkenalkan diri sambil nuhun-nuhun minta bantuan selama trip berlangsung, terus duduk. Yes, I know it was gonna be awkward.

Jam 10 malam, diri gue ada di jok tengah bis malam ke Garut dengan dangdut koplo mewarnai perjalanan. Di sepanjang jalan, gue bisa merasakan badan dengan ekstrim tertarik ke kanan dan ke kiri, tapi ya memang itu sensasi naik bis malam antarkota antarprovinsi so I simply accepted that dan cuma berharap bahwa I would make it up alive. Jam 4 pagi, gue tiba di sebuah pom bensin di Garut, dikomando untuk turun bis oleh panitia –untuk kemudian switch kendaraan berupa mobil pick-up dan beberapa mobil pribadi jenis APV.

Jam 5 pagi, gue mendapati diri gue ada di belakang mobil pick-up yang terus menanjak menapaki jalan pegunungan dan gue bisa lihat lampu-lampu kota Garut dari ketinggian, semakin memudar ditelan kabut dan jarak. Pipi gue kebas kedinginan tapi gue puas. Puas –  I woke up in a different city and an adventure was about to come. My epinephrine was rushing out in my blood. "I should do this often," pikir gue.



Jam 8 pagi, gue mendapati diri gue sudah berada di entrance Taman Nasional Gunung Papandayan, mencuci muka dengan air yang sebeku itu rasanya, dan duduk melihat termometer menunjukan suhu 14oC, bahkan di hari yang cerah.

Jam 9 pagi, gue dan rombongan berdoa bersama dan mulai start pendakian.

Well,
As a newbie for this kind of sport, gue melihat gunung dengan pelanga-pelongo norak. Se-amazing itu landscape Papandayan, dengan beberapa bagian berwarna hijau subur dan beberapa bagian berwarna putih berpasir.



Sebagaimana reputasi gunung "beginner level", jalan Papandayan sangat friendly terhadap para hikers karena sudah ada path-nya, kecuraman nanjaknya-pun masih bisa ditolelir oleh jiwa-jiwa yang ngaku dokter tapi minim olahraga (baca: GUE). Sekitar 1 jam trekking, kita sampai ke dekat kawah. Beberapa anggota open trip izin melanjutkan perjalanan ke basecamp dan gue termasuk yang penasaran ingin lanjut ke Kawah.












Tanjakan demi tanjakan, lagu-lagu Payung Teduh berganti Killing Me Inside berganti lagi dengan berbagai jenis genre lainnya, mulai dari pemandangan clear sampe berkabut, akhirnya kaki amatir gue berhasil mencapai Pondok Saladah, dearest basecamp of ours, where we're gonna hit the sack tonight.


Siang sampai sore, dihabiskan dengan bercengkrama dengan anggota-anggota PENMAS. Games, doorprizes, and (SUPRISINGLY DESCENT AND DELICIOUS) lunch were done and given. 

(Dengan post ini, gue turut mengucapkan terima kasih pada segenap panitia PENMAS untuk masakan gunung yang sangat enak. Tidak pernah kulupa rasa tumis tahu buncis, tempe orek, telor balado, ayam goreng, nasi liwet, kangkung, nasi goreng, ikan asin, dan sambel yang bener-bener wahgelaseh luar biasa enak!)

Sore menjelang malam, kita berkelana di sekitar Pondok Saladah and found some edelweiss bushes in an open wide space.



Night came and the fire was set in the middle of the field. Stories told, laughters up, and cups of coffee spent – mulai dari perkenalan superfisial hingga obrolan profunda seputar kenapa menghabiskan banyak waktu (dan weekend) di gunung. Night was getting late and I got so drunken in the stories I could barely open my eyes (sorry, my eyes were so amateur starting at 8 pm!). Akhirnya jam 9 tongkrongan bubar dan gue langsung masuk ke tenda, mencemplungkan diri dalam sleeping bag karena DEMI APAPUN JUGA DINGIN BANGET. Gue bahkan tidur dengan menggunakan slayer saking dinginnya dan takut bangun-bangun gue kena Bell's Palsy. Tengah malam, gue mendapati gigi temen-temen setenda gue gemerutukan dan badan-badan menggigil, tapi nggak ada yang bisa dibangunin. Salah satu teman gue bahkan pake sleeping bag lapis foil saking dinginnya malam itu.


Mulai dari jam 3, suhu sudah mulai menghangat dan di jam 5.20 beberapa dari kami cao ke Hutan Mati. Iya, spot andalan Papandayan itu yang katanya instagrammable. Gue bergegas ke Hutan Mati untuk melawan dingin (yes, I need to move to keep the heat) dan karena iming-iming "di ujung Hutan Mati ada sinyal loh!". Yes, after all this time, gue masih menjadi tipikal manusia kota yang nggak bisa hidup away dari sinyal. Gue butuh sinyal sekali pagi itu dan keberadaan sinyal sounds so tempting walaupun untuk itu gue harus berdiri di ujung jurang di Hutan Mati.






Setelah menikmati pesona Hutan Mati dan berdiri sekitar setengah jam di antara Hutan Mati dengan jurang demi mencari sinyal (NAMUN SINYAL TETAP TIDAK MUNCUL JUGA SECARA ADEKUAT, THANKS TO MY CELLPHONE OPERATOR), akhirnya beberapa dari kami ada yang melanjutkan perjalanan menuju point tertinggi di Papandayan, yakni Tegal Alun, dan ada yang kembali ke camp. Karena gue adalah golongan orang yang akan ikut kemana saja ketika sudah traveling, maka gue memutuskan untuk ikut ke Tegal Alun walau sudah diwanti-wanti bisa bikin soak dengkul.

15 menit mendaki, napas gue mulai kayak orang asma disuruh berenang 3 km di laut bebas. 30 menit mendaki, napas udah stabil tapi trek makin vertikal. 40 mendaki, yang ada di pikiran gue cuma Tegal Alun tanpa mikir dengkul soak lagi.



1 jam pendakian ke Tegal Alun dengan sibuk mewanti-wanti diri "jangan liat ke belakang, jangan liat ke bawah" karena trek cukup menanjak dan cukup curam untuk gue yang newbie, akhirnya Tegal Alun menampakan dirinya dengan malu, dari balik ranting-ranting dan semak. Sinar matahari jatuh bebas, hangat, membuat gradasi kuning-oranye pada hamparan semak Edelweiss yang luas. Papandayan, rumah abadi untuk bunga abadi…



The wind blown my face – not that freezing kind of wind, but warmer – because you were kissed by both the cold mountain air and the warm ray of sunlight at the same time. I took a lap on the bushes, facing mountains, and closed my eyes, enjoying my time being embraced both of the warmth and the cold.


Setelah beberapa jam menikmati terpaan angin dan kehangatan di Tegal Alun, akhirnya tiba saat berpijak balik ke bumi. Senyum-senyum itu mulai lamur dari wajah ketika gue inget trek menanjak tadi harus gue tempuh ulang untuk turun. Walhasil setelahnya gue pasrah aja merosot-rosot akibat dengkul udah mulai soak.

Singkat cerita, gue berhasil kembali mencapai basecamp dengan dengkul yang cukup menjerit meminta belas kasihan (pardon my weakness), bersih-bersih, dan bersiap menggendong carrier keluar tenda. My last meal up there was nasi liwet dengan tumis kangkung, tempe, ikan asin, dan sambel yang amazingly tasted like 5-stars dishes. Omg I would definitely eat and drink coffee again on the mountain.


The greatest coffee I ever had in my life. Would to this again someday!

Setelah kenyang makan liwetan, gue membopong carrier pulang, melintasi Hutan Mati sekali lagi untuk menuruni tangga di sisi kawah. It was a never-ending staircase but the views were so breathtaking. The echoes of complaint from my feet were nothing compared to this kind of megap-megap feeling I had in my heart as the signals popped chaotically in my neocortex of brain, shouting that "YOU SHOULD GO HIKE AGAIN!"







Sampai di gerbang penanjakan, gue dihantam sedikit rasa kehilangan – kehilangan hawa dingin, kehilangan pemandangan, kehilangan waktu-waktu dimana gue dipenuhi excitement. But I know I am going home and bringing things with me, selain baju kotor dan sepatu dekil, yakni

Bunch of new friends
.
Curiosity fulfilled
.
Some people who miss me (right in my cellphone!)
.
And one feeling (or belief, if you want it to be cheesy) that I would definitely wake up on the mountain again, or that I would start chasing great summits for life.



Well, who knows?
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah mengarungi pedalaman Garut dengan mobil bak (we were not allowed to take the main road, because it was illegal to ride mobil bak when we have angkot) selama 2,5 jam (?) dan menempuh berjam-jam kemacetan dan end up pulang melalui tol Cipularang, gue kembali mencium kasur di kota Jakarta pukul setengah 2 pagi. 4 jam lagi gue harus bersiap masuk dan hadir di rutinitas yang biasa, but I was not complaining. I was fulfilled. I was whole. Dan tidak peduli seketinggalan jaman apapun gue, I would hike again. I don't care if it's a one-hit wonder feeling or a one-shot romance, I was in love – and I am gonna go for it.



-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Senin itu, jam 6 pagi, gue mengawali hari dengan segelas kopi dan memasukan uang ke celengan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Love,
Your (co-ass) writer




PS:
- All pictures were taken with an Xiaomi Redmi 3, plus some enhancement from VSCO.
- Here I also thank all people in PENMAS JILID 2 (Pendekatan Massal Jilid 2 – not Pendakian Massal) and theatreadventure, I hope we'll have some session again someday (or maybe just bump to each other on the street)!

1 komentar:

  1. Coba mainkan yang di Jawa tengah. Jawa barat more Expensive than central.

    BalasHapus